Efek Hengkangnya Inggris dari Uni Eropa ke Ekonomi Dunia

178

redaksi.co.id – Efek Hengkangnya Inggris dari Uni Eropa ke Ekonomi Dunia

23 Juni 2016 akan menjadi tonggak sejarah Eropa, terutama Inggris. Karena pada hari itu, nasib Inggris di Uni Eropa akan ditentukan dalam referendum: apakah tetap berada di zona Uni Eropa atau lepas dari kesatuan tersebut.

Isu ini dikenal dengan nama Brexit, yang merupakan kependekan dari British Exit, atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Nasibnya akan ditentukan dalam sebuah voting, yang dipercaya menjadi voting terbesar dalam sejarah, setidaknya untuk setengah abad terakhir ini.

Terjadi pro dan kontra dari rencana ini. Salah satu media, the Economist menyebut, keputusan Inggris untuk meninggalkan Eropa akan berdampak buruk, baik bagi Inggris sendiri, Eropa bahkan dunia. Tapi mereka juga percaya ada ada kepentingan dari analisis yang objektif dan juga argumen yang beralasan karena hal ini.

Media tersebut juga merangkum informasi penting mengenai Brexit dilihat dari banyak sudut pandang, yang merupakan intisari dari pemberitaan yang pernah dipublikasikan.

Sektor Perdagangan

Ada yang beranggapan sulit bagi Inggris untuk melakukan transaksi perdagangan yang baik setelah Brexit. Namun ada juga yang tidak sependapat.

Perdagangan adalah jantung dari Uni Eropa. Jelas, yang mendukung Brexit akan mengklaim bahwa di 1973, Inggris bergabung kawasan perdagangan bebas yang pada akhirnya berubah jadi kawasan politik semata.

Mereka akan menganggap, keluarnya Inggris tidak akan memberikan dampak besar pada perdagangan. Mereka juga berpendapat pasar Uni Eropa jauh lebih dalam dibanding dengan zona perdagangan bebas. Itu membongkar baik tarif atau non tarif barrier yang melibatkan standar, regulasi dan rules of origin. Itu menjelaskan kenapa bergabung dengan Uni Eropa bisa meningkatkan ekspor Inggris.

Mereka juga berargumen bahwa Inggris, sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua di Eropa. Itu membuat Uni Eropa membutuhkan pasar Inggris.

Apa yang penting adalah dari pangsa ekspor. 45 persen dari ekspor Inggris tujuannya adalah ke negara Uni Eropa lain, di mana hanya 7 persen Inggris mengimpor dari negara-negara tersebut. Jadi memang benar bahwa produsen mobil Jerman ingin mengekspor produknya ke Inggris.

Pengaruh ke Ekonomi

Pengaruh referendum Inggris ke ekonomi menjadi isu yang paling hangat diperbincangkan dari persoalan Brexit ini.

Andrew Tyrie, Kepala Komite pemilihan Common Treasury berharap pihaknya akan melakukan hal terbaik saat 23 Juni nanti. Dia juga mengatakan permasalah dari Brexit ini adalah tidak ada kontrafakta. Kedua pihak baik yang mendukung atau menolak punya argumennya masing-masing.

Pada Oktober, Bank of England menyimpulkan bahwa keanggotaan Uni Eropa telah meningkatkan ekonomi Inggris menjadi lebih dinamis. Sulit untuk menyelaraskan informasi itu dengan klaim Brexiteer – orang yang mendukung Brexit – bahwa keanggotaan itu justru merugikan.

Meski demikian, kedua pihak baik yang pro dan yang kontra sepakat bahwa dalam jangka pendek, keluarnya Inggris dari Uni Eropa akan berdampak negatif. Ketidakpastian dari kerjasama perdagangan di masa depan telah mengurangi ketidakpercayaan diri. Selain itu investasi juga bisa menurun.

Bank of England menyebut resiko terbesar Inggris adalah terkait kestabilan keuangan domestik. Bahwa sekarang ini Inggris tengah mengalami defisit neraca berjalan, yang harus dibiayai capital inflows, akan lebih rapuh (jika mengalami brexit).

Efek jangka panjangnya bahkan dinilai lebih kontroversial. Economist menilai itu akan berpengaruh pada GDP. Akhir bulan ini, Centre for Europeran Reform, lembaga think tank akan merilis versi revisi dari studinya di 2014 mengenai Brexit, berdasarkan pekerjaan dari ekonom di Groningen University di Belanda.

Kesimpulannya adalah perdagangan Inggris dengan Uni Eropa telah naik 55 persen daripada jika Inggris tidak bergabung di Uni Eropa.

Pengaruh pada Bisnis

Kebanyakan perusahaan ingin Inggris tetap di Uni Eropa, sementara sebagian lain enggan mengatakan hal itu.

Vote Leave, yang baru saja dibuat sebagai grup kampanyeresmi mereka yang pro Brexit mengklaim, perusahaan-perusahaan dan pebisnis ini terbagi. Kebanyakan polling yang dilakukan oleh asosiasi perdagangan menemukan bahwa mayoritas ingin tetap berada di Uni Eropa.

Kemudian survey yang dilakkan oleh Confederation of British Industry (CBI) menemukan 80 persen dari anggota ingin tetap berada di Uni Eropa, hanya 5 persen yang menyatakan setuju dengan Brexit.

Tak hanya perusahaan besar, CBI menekankan bahwamereka berbicara dengan 190 ribu anggotanya, yang kebanyakan adalah industri kecil, juga usaha kecil dan menengah, dan 71 persen di antara mereka ingin tetap berada di Uni Eropa.

Banyak yang melakukan survey dan menunjukkan bahwa lebih dominan perusahaan ingin tetap berada di Uni Eropa. Seperti survey yang dilakukan oleh TechUk, yang menemukan 70 persen perusahaann ingin tetap ada di zona ini.

Conntoh dari salah satu bisnis yang untung jika ada di zona Eropa adalah industri otomotif. Chief Executive Society of Motor Manufacturers and Traders, semacam asosiasi produsen dan penjual otomotif Mike Hawes mengatakan, pada tahun 1980 dan 1990-an industri ini hampir mati.

Tapi berkat kepemilikan asing dan investasi yang dipicu oleh gerbang pasar tunggal Uni Eropa, ini membangkitkan industri otomotif. Menambah 800 ribu tenaga kerja dan 12 persen peningkatan ekspor.

(red/ahyu/etyo/armawan/WSD)

loading...

Comments

comments!