Panas dan Siang yang Lama, Kisah Tantangan Puasa Dubes Pakistan

redaksi.co.id - Panas dan Siang yang Lama, Kisah Tantangan Puasa Dubes Pakistan Indonesia dan Pakistan memiliki hubungan yang sangat spesial. Salah satu alasan mendasar yang membuat...

28 0

redaksi.co.id – Panas dan Siang yang Lama, Kisah Tantangan Puasa Dubes Pakistan

Indonesia dan Pakistan memiliki hubungan yang sangat spesial. Salah satu alasan mendasar yang membuat hubungan mereka terus erat dan harmonis hingga sekarang adalah, keduanya memiliki penduduk mayoritas Muslim.

Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Mohammad Aqil Nadeem, membenarkan hal tersebut saat konferensi pers di sela acara buka puasa di Kedutaan Besar Pakistan di Jakarta, pada hari Senin, 27 Juni 2016.

“Sama seperti Indonesia, mayoritas penduduk Pakistan, lebih tepatnya lagi 95% dari mereka, merupakan pemeluk agama Islam,” tuturnya.

Dubes Nadeem mengatakan bahwa negaranya memiliki tradisi Ramadan yang tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Sama halnya dengan orang Muslim di Indonesia, pemeluk agama Islam di Pakistan juga sangat bersemangat dalam menjalankan sejumlah tradisi bulan suci Ramadan seperti, pulang kampung, belanja baju lebaran, bahkan salat tarawih.

“Tradisi bulan suci Ramadan di Pakistan bisa dikatakan mirip dengan yang ada di Indonesia. Warga kami juga pulang ke kampung halaman mereka masing-masing menjelang hari raya Idul Fitri. Selain itu, mereka juga menjalankan ibadah tarawih setelah salat Isya,” kata Dubes Nadeem.

Kendatipun memiliki sejumlah kesamaan tradisi Ramadan, Dubes Nadeem menjelaskan bahwa, berpuasa di negaranya jauh lebih menantang lantaran suhu udara bisa mencapai 42-43 derajat Celcius di siang hari dan waktu menjalankannya sangat lama yaitu, kurang lebih 15 jam dari pukul 3.30 hingga 18.30 waktu setempat.

“Suhu udara di Pakistan sangat panas dengan yang terparah dirasakan pada bulan Juli. Panasnya udara yang diiringi teriknya matahari menjadi tantangan bagi kami yang berpuasa karena harus lebih sabar menghadapinya,” jelasnya.

Kesamaan menjalani tradisi Ramadan menjadi faktor pengerat persahabatan antar kedua negara yang bersifat non-diplomatis. Faktor tersebut secara tidak langsung membuktikan bahwa, hubungan antar negara tidak selalu bergantungan pada kondisi diplomatis dua negara.

Faktor lainnya adalah pengaruh hubungan antar masyarakat dari kedua negara atau people-to-people relation yang terjalin karena adanya kesamaan tradisi kultur beragama.

(red/aini/J)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!