Inggris, Islandia, dan Kemapanan yang Mencelakakan

redaksi.co.id - Inggris, Islandia, dan Kemapanan yang Mencelakakan Ini hasil terburuk Inggris yang pernah saya saksikan, kata Chris Wadle, mantan pemain tim nasional Inggris pada Piala...

30 0

redaksi.co.id – Inggris, Islandia, dan Kemapanan yang Mencelakakan

Ini hasil terburuk Inggris yang pernah saya saksikan, kata Chris Wadle, mantan pemain tim nasional Inggris pada Piala Dunia 1990, yang kini menjadi komentor BBC tentang kekalahan tim nasionalnya yaitu 1-2 melawan Islandia pada babak 16 besar Euro 2016.

Kekalahan itu segera mencuatkan kritikan keras seperti yang terjadi di Guardian, BBC, dan MailOnline. Roy Hodgson harus dipecat, atau Joe Hart membuat kesalahan fatal, , antara lain, pernyataan yang termuat di media-media tersebut.

Yang lebih sinis lagi, saat sudah ketinggalan 1-2, dan penyerang Harry Kane melakukan tendangan bebas yang jauh melebar, mereka menulis, Maunya mereka naik Puncak Mount Everest tapi hanya pakai sandal jepit dan baju kaos.

Para pemain Inggris yang sebagian besar bermain di Liga Primer Inggris ini tampaknya sudah mencapai titik puncak performanya pada akhir liga tersebut musim lalu.

Ketika tampil di Euro 2016, mereka tinggal sisa-sisanya. Wayne Rooney di bawah bentuk permainan terbaiknya untuk bisa tampil seperti Andres Iniesta di Spanyol yang akhir tersingkir juga digilas Italia.

Hal ini mengingatkan pada antiklimaks yang dialami Michael Owen dan kawan-kawan pada putaran final Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang.

Inggris seperti mengulang pada pola yang sama yaitu gegap-gempita dalam babak kualifikasi mereka tak terkalahkan- tapi kemudian seperti lesu darah pada pertarungan yang lebih penting.

Selain merekrut lebih banyak pemain muda, tak ada hal yang baru ditampilkan oleh manajer Roy Hodgson yang sudah membawa Inggris tak bersinar pada Piala Dunia 2014 dan tersingkir karena kalah adu penalti sebelum semifinal dalam Euro 2012.

Kalau pun secara kualitas tak ada yang baru, Hodgson tak menampakkan satu pendekatan yang bisa membuat Rooney dan kawan-kawan secara mental untuk tampil jauh lebih militan dalam putaran final Euro 2016 ini.

Ketika ketinggalan 1-2 dari Islandia sampai babak pertama usai dari Islandia, kritik pun sudah segera mencuat di beberapa media di Inggris. Hodgson, para asistennya, dan pemain dinilai tidak belajar apa-apa dari hasil mengecewakan mereka pada partai terakhir penyisihan grup melawan Slovakia yang berakhir tanpa gol.

Islandia memberi perlawanan setimpal kepada Inggris dalam pertandingan babak perdelapan final Euro 2016 pada Selasa, 28 Juni 2016, ini. Setelah Inggris memimpin lebih dulu 1-0 melalui tendangan penalti Wayne Rooney ketika pertandingan baru berjalan empat menit, Islandia dengan cepat mampu menyamakan kedudukan menjadi 1-1 pada menit keenam tendangan Ragnar Sigurdsson setelah mendapat lemparan bola ke dalam dari pinggir lapangan.

Hadiah penalti didapat Inggris setelah pemainnya di lini depan, Raheem Sterling, dijatuhkan oleh kiper Islandia, Hannes Haldorson, di dalam kotak penalti Islandia.

Adapun Sigurdsson melakukan tendangan yang membobol gawang kiper Inggris, Joe Hart, dengan memanfaatkan bola dari lemparan ke dalam yang gagal diantisipasi para pemain belakang Inggris. Sigurdsson dalam posisi bebas tak terkawal sehingga bisa berkonsentrasi penuh untuk mencetak gol ke gawang Hart.

Meski pertandingan 90 menit masih berjalan cukup lama, tapi beberapa media di Inggris mulai berandai-andai jika sampai terjadi adu penalti. Mereka mengulas kilas balik adu penalti yang dialami tim berjuluk Three Lions ini di berbagai kejuaraan internasional dalam 26 tahun terakhir.

Pada 1990, Inggris menang adu penalti melawan Belgia setelah imbang sampai perpanjangan waktu. Tahun itu juga, mereka juga menang adu penalti melawan Kamerun, juga setelah perpanjangan waktu. Tapi, kemudian mereka kalah adu penalti dari Jerman.

Tapi, pada menit ke-18, spekulasi akan terulangnya kembali adu penalti bisa buyar, ketika Kolbein Sigthorson berhasil membobol gawang Hart untuk kedua kalinya sehingga Islandia memimpin 2-1.

Kedudukan yang mengagetkan dalam pertandingan yang disebut-sebut bak pertarungan David versus Goliath ini bertahan sampai babak pertama usai. Dan, sampai injury time yaitu menit ke-90 + 5, hasil tak berubah. Islandia bukan Republik Irlandia yang setelah memimpin 1-0 ditekan terus oleh Prancis sampai berbalik kalah 1-2.

Sirgudsson dan kawan-kawan yang sebagian besar di antarnya bermain di Liga Primer Inggris- jauh lebih tangguh untuk tak mau terus-menerus dalam tekanan lawan.

PRASETYO

(red/iti/mi/anik/SUH)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!