Sisi Lain Italia yang Rupawan

redaksi.co.id - Sisi Lain Italia yang Rupawan Siapa bilang Italia hanya bermodal catenaccio? Menghadapi tim pemuja permainan tercantik, Azzurri pun mampu tunjukkan sisi lainnya yang rupawan.Identitas...

38 0

redaksi.co.id – Sisi Lain Italia yang Rupawan

Siapa bilang Italia hanya bermodal catenaccio? Menghadapi tim pemuja permainan tercantik, Azzurri pun mampu tunjukkan sisi lainnya yang rupawan.

Identitas Italia adalah catenaccio, sistem taktis dalam sepakbola yang menitikberatkan fokus permainan pada pertahanan. Karenanya tak heran bila gaya permainan mereka sulit disukai, sukar dipahami, dan susah untuk dijual.

Italia bahkan tak bisa membohongi jati dirinya ketika sang pelatih, Antonio Conte, berkoar bahwa timnya akan memainkan sepakbola menyerang di Euro 2016. Mereka begitu tegas menunjukkannya di babak fase grup lalu, di mana catenaccio begitu dipuja untuk tuai hasil positif.

Italia bermain begitu menjengkelkan, mereka bertahan begitu dalam, dan mencari gol lewat skema serangan balik dengan jumlah yang superminim. Ditambah kualitas skuat yang disebut Gianluca Vialli sebagai yang terburuk yang pernah ada, tampaknya hanya dalam mimpi kita bisa membayangkan La Nazionale memainkan sepakbola indah.

Namun pada Selasa (28/6) dini hari tadi, Italia membuktikan bahwa kita ternyata tak harus bermimpi untuk melihat mereka bermain indah. Bukti yang dipaparkan bahkan begitu sahih, karena mereka melakukannya menghadapi tim yang begitu memuja permainan cantik, Spanyol, lewat kemenangan meyakinkan 2-0.

Conte adalah aktor di balik semuanya. Ia merajut timnya dengan begitu terencana, begitu rapi, begitu terperinci, dan mampu membuat mata para penikmat laga terpana.

Mengandalkan formasi terduga 3-5-2, yang disertai fakta bahwa salah satu pemain paling krusial, Antonio Candreva, absen karena cedera, Italia bermain lewat cara memikat yang penuh risiko. Ha litu terjadi karena pada praktiknya mereka menyerahkan kuasa lini tengah pada Spanyol, yang diperkuat oleh bintang-bintang besar macam Cesc Fabregas, Sergio Busquets, dan tentu saja Andres Iniesta.

Ketika menguasai bola dan ingin membangun serangan, Italia enggan menggelar perang di lini tengah, mereka akan langsung melepas umpan lambung ke lini depan. Di situ si striker jangkung, Graziano Pelle, berperan sebagai tiang pantul untuk memberi bola pada pemain mungil yang lincah, seperti Emanuele Giaccherini dan Eder Citadin.

Keduanya akan langsung menusuk ke dalam, menantang langsung duo bek Spanyol, Gerard Pique dan Sergio Ramos, yang konsentrasinya sudah diganggu Pelle sebelumnya. Giak dan Eder memang akan kalah jika harus berduel fisik, tapi Conte mengandalkan mereka karena faktor kecepatan.

Lantas ke mana Juanfran dan Jordi Alba sebagai bek sayap Tim Matador? Fokus mereka juga dipecah oleh penggawa Italia lainnya, karena lima hingga enam pemain Tim Biru Langit akan hadir di garis pertahanan lawan ketika menyerang.

Conte tampilkan kelas taktikalnya

Hasilnya begitu efektif. Tanpa disangka-sangka Italia mampu menghasilkan 11 upaya serangan, dengan delapan di antaranya lewat situasi open play. Mereka juga melepaskan 11 tembakan, dengan tujuh di antaranya tepat sasaran.

Sayangnya Italia menghadapi kiper yang tengah berada di puncak performanya, David De Gea, sehingga kebanyakan serangan yang mereka bangun tak berujung gol. Kiper Manchester United itu patut diapresiasi karena sanggup membuat lima penyelamatan spektakuler.

Momen terbaik yang ditampilkan De Gea adalah ketika dirinya mampu menangkis tandukan akurat Pelle dan memenangi situasi one on one menghadapi Eder.

Meski begitu gencarnya serangan yang dilakukan Italia harus diakui cukup mempengaruhi ketahanan De Gea. Ia akhirnya membuat blunder fatal saat mengatur pagar betis dalam proses gol Giorgio Chiellini. Kiper United itu pun tak lagi kuasa melakukan penyelamatan atas serangan pamungkas Italia, yang berujung pada gol pemasti kemenangan Pelle.

Risiko penyerahan kuasa lini tengah untuk Spanyol sendiri dibayar lunas Italia ketika bertahan. Sang juara dunia empat kali yang dikenal sebagai rajanya bertahan, menunjukkan bagaimana mereka pantas mendapat julukan masyhur tersebut.

Sekali lagi, Conte merupakan aktor di balik kuatnya benteng pertahanan Italia. Setidaknya ada tiga keputusannya yang krusial membuat timnya begitu sempurna dalam bertahan melawan Spanyol.

Pertama adalah pemilihan pemain. Dengan konsekuensi bahwa Italia juga harus menyerang menggunakan lima hingga enam pemain, Conte butuh pemain dengan stamina hebat yang sanggup turun ke belakang ketika diserang. Marco Parolo, Mattia De Sciglio, Alessandro Florenzi , bahkan Giaccherini, Eder dan Pelle yang punya tugas lebih besar di lini depan, adalah pilihan sempurna untuk sangallenatore. Mereka minim skill, tapi punya nafas yang begitu dalam. Plus kualitas dan kesatuan yang dimiliki trio BBC, sempurnalah pertahanan Italia.

Faktor kedua adalah mematikan motor permainan Spanyol, Iniesta. Tampak jelas bahwa Vicente del Bosque tak punya rencana cadangan, dalam membangun serangan lewat situasi open play. Iniesta selalu jadi pusat sirkulasi bola, yang sayangnya kini tak lagi memiliki pasangan sehati layaknya Xavi Hernandez. Bintang Barcelona itu jadi tampak berjuang sendirian, sehingga tak bisa lagi berkutik tatkala dua hingga tiga pemain Italia konsisten mengepungnya ketika memegang bola.

Terakhir adalah adalah rapatnya jarak di antara para pemain Italia. Ketika bertahan, jarak antar pemain mereka tak pernah lebih dari dua meter. Hal itu krusial terhadap efektivitas permainan. Selain memudahkan untuk merebut bola dari lawan, bola yang sukses dikuasai tak lantas wajib dibuang ke sembarang arah. Merek bisa dengan mudah menyerahkannya ke rekan setim, untuk membangun serangan.

Satu yang tak boleh dilupakan adalah ketika hadir momen di mana ketiga faktor tersebut sukses ditembus, Italia masih memiliki Gianluigi Buffon di bawah mistar. Di partai ini dirinya tampil tak kalah hebat dari De Gea, dengan setara menorehkan lima penyelamatan.

Kekompakan jadi kunci utama Italia

Dari segala paparan di atas, bagaimanapun kunci utama dari kejutan yang dihadirkan Italia adalah kemampuan Conte membangun timnya sebagai satu kesatuan.

Anda bisa melihat itu dari wajah setiap pemain Italia ketika berlaga. Mereka begitu tenang, tapi di saat bersamaan tampak begitu yakin, dan selalu mendengarkan pekikan Conte dari pinggir lapangan. Tak ada satu pun pemain yang menonjol dari skuat ini, mengesampingkan fakta bahwa mereka begitu terbatas akan kualitas.

Anda saksikan Italia. Ketika mencetak gol kita melihat seluruh pemain di bangku cadangan, pelatih dan asistennya, tim medis ,bahkan media yang menemani mereka loncat kegirangan kemudian berlari ke satu arah. Pemandangan itu menunjukkan bagaiman bersatunya mereka. Satu hal spontan, yang tak lazim dimilik semua tim, tutur Henry ketika menjadi pandit ITV.

Ya, dengan atmosfer seperti itu Italia bisa menjadi apapun. Bersama-sama Gli Azzurri bisa menjengkelkan dengan catenaccio-nya, tapi ketika dibutuhkan mereka pun bisa menunjukkan sisi lainnya yang rupawan.

(red/ijayanto/W)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!