Fakta Soal Keamanan Kartu Kredit

redaksi.co.id - Fakta Soal Keamanan Kartu Kredit Siapa yang enggak bangga punya kartu kredit. Pertama, enggak semua orang bisa punya. Cuma mereka yang dipercaya dan terpercaya...

31 0

redaksi.co.id – Fakta Soal Keamanan Kartu Kredit

Siapa yang enggak bangga punya kartu kredit. Pertama, enggak semua orang bisa punya. Cuma mereka yang dipercaya dan terpercaya aja yang dapat kartu kredit.

Kedua, kartu kredit bisa naikkan derajat status sosial meski semu sih. Habisnya itu kan kartu lisensi utang. Cuma tetap saja berasa beda gitu kalau punya kartu kredit.

Ketiga, hidup terasa lebih mudah. Semua transaksi bisa dibereskan cukup bermodalkan kartu kredit. Entah itu bayar tagihan rutin, shopping, makan di resto, belanja online, sampai bayar taksi!

Sudah cukup tiga aja yang disebut mengingat fokus yang mau dibahas adalah gimana caranya mengamankan kartu kredit dari orang-orang jahil.

Melek keamanan kartu kredit itu hukumnya wajib buat semua pemilik kartu kredit. Jangan sampai muncul anggapan kartu kredit itu sumber malapetaka dari kerugian finansial. Padahal, lagi-lagi itu terjadi karena lalai jaga keamanannya.

[Baca: Dahului Berpikir Gimana Amankan Kartu Kredit, Baru Bertransaksi Kemudian]

Lebih-lebih di era serba online macam sekarang. Sudah enggak kehitung orang yang jadi dampak cybercrime karena menggunakan kartu kredit begitu bertransaksi secara online.

Jangan kudet dong, zaman serba online nih, tapi ingat musti hati-hati bro

Ada temuan menarik dari Norton Cyber Security Insight Report yang menemukan 47 persen konsumen jadi korban cybercrime saat menggunakan kartu kredit. Kerugiannya enggak sedikit lho. Rata-rata nilai apesnya sampai 300 dollar AS atau di kisaran Rp 3,5 jutaan. Duit yang enggak sedikit tuh!

Pada prinsipnya, kejahatan kartu kredit itu bersumber dari pencurian data-data nasabah. Maka itu, data-data itu tak boleh diumbar ke sembarang orang.

Sebenarnya langkah paling sederhana memproteksi kartu kredit adalah memperlakukannya seperti uang tunai. Jaga baik-baik. Berikutnya jangan cuma mengandalkan doa biar enggak jadi target kejahatan.

Mengamankan kartu kredit menuntut keaktifan si pemegangnya. Apa saja yang mesti diketahui seputar keamanan kartu kredit? Cekidot terus yak.

Kartu kredit di Indonesia menerapkan dua sistem transaksi yakni magnetic stripe dan chip. Yang pertama, transaksi dianggap afdol bila si pemegang membubuhkan tanda tangan. Model begini membuka peluang pemalsuan tanda tangan.

Langkah amannya adalah selalu awasi saat transaksi dengan swipe kartu kredit. Pastikan kasir hanya menggesek kartu hanya sekali. Jangan biarkan merchant melakukan gesek ganda (double swipe) karena berpotensi data-data tercuri.

Gesek sana gesek sini trus tepok jidat deh!

Yang kedua sistem chip di mana di tiap transaksi wajib menggunakan PIN (personal identification number). Transaksi ini dinilai lebih aman karena PIN sifatnya rahasia dan cuma diketahui pemilik seorang.

Apapun sistem transaksi kartu kreditnya, pastikan semua bukti transaksi disimpan sebagai bukti di kemudian hari.

CVV atau cardholder verification value adalah tiga atau empat kode angka rahasia di belakang kartu kredit. Kartu kredit Visa atau MasterCard biasanya punya tiga digit sedangkan American Express ada empat digit.

Kode angka CVV ini lebih sering digunakan untuk transaksi secara online. Perlu diluruskan di sini, mencantumkan nomor CVV ini kadang dianggap prosedur aman bertransaksi online. Padahal itu tidak 100 persen betul.

Justru nomor CVV itu berkaitan dengan nomor kartu kredit di depan kartu kredit. Artinya, memprotek kartu kredit jangan cuma mengandalkan nomor CVV saja tapi juga nomor kartu kredit yang berjumlah 16 digit.

Jangan cuma tahu pakai kartu kreditnya aja ya, tapi gak aware sama CVV

So, hindari mengumbar nomor kartu kredit ke sembarang orang. Itu saja kuncinya. Kalau pun memberikan nomor kartu kredit saat bertransaksi online, catat di situs mana saja data itu dibagi. Misalnya situs e-commerce, reservasi hotel, dan lain sebagainya.

Buat yang pernah menelepon contact center kartu kredit, pasti pernah diminta untuk menyebutkan nama asli ibu kandung. Tahu maknanya? Ya karena nama asli ibu kandung menjadi pertanyaan wajib untuk memverifikasi transaksi. Atau bisa menjadi pembuktian kebenaran kepemilikan kartu kredit.

Nah, kalau nama asli ibu kandung diumbar, maka potensi menjadi target penyalahgunaan kartu kredit terbuka lebar.

Langkah mengamankan kartu kredit adalah jangan difotokopi. Meski dalam bentuk fotokopi, kartu kredit tetap bisa disalahgunakan orang lain. Di samping itu, bank tak pernah minta fotokopi atau salinan kartu kredit dalam setiap transaksi.

Penerbit kartu kredit sudah memberikan fasilitas notifikasi transaksi via ponsel. Pastikan nomor ponsel yang digunakan untuk notifikasi hanya diketahui penerbit bank kartu kredit.

Punya hape canggih harus smart juga dong bro!

Fungsi lainnya dari notifikasi ini adalah memberitahukan bila terjadi transaski dengan kartu kredit. Bila tak merasa, segera hubungi contact center untuk membatalkannya.

Itulah cara-cara mengamankan kartu kredit agar tak disalahgunakan orang jahil bin usil. Melek keamanan kartu kredit sangat penting agar kenyamanan bertransaksi lebih terjamin. Coba sekarang dicek, sudah amankah kartu kredit di dompet?

(red/urista/urnamasari/NP)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!