Mengajar Sambil Gendong Bayi, Profesor di Afrika Tuai Pujian

redaksi.co.id - Mengajar Sambil Gendong Bayi, Profesor di Afrika Tuai Pujian Aksi seorang guru besar di sebuah universitas di Pantai Gading, Afrika Barat, menuai pujian dari...

17 0

redaksi.co.id – Mengajar Sambil Gendong Bayi, Profesor di Afrika Tuai Pujian

Aksi seorang guru besar di sebuah universitas di Pantai Gading, Afrika Barat, menuai pujian dari para netizen. Honore Kahidijuluki ‘pahlawan’ dan mendapatkan banyak pujian dari murid dan orang-orang yang melihat fotonyamenggendong bayi laki-laki, sambil mengajar di dalam kelas.

Ternyata Kahi menawarkan diri untuk menjaga bayi yang tiba-tiba menangis di tengah-tengah pelajaran. Anak kecil itu dibawa sang ibu yang tengah belajar di kelasnya, namun ia tak bisa duduk diam.

“Dia terkejut dan tertawa saat aku menawarkan diri untuk menggendong bayinya. Lalu dia mengambil foto,” kata Kahi, seperti dikutip dari BBC, Jumat (1/7/2016).

Pak profesor itu mengaku mengikatkan si bocah di punggung. Tak lama kemudian, tangis anak itu berhenti dan ternyata sudah sudah tertidur.

Kahimengetahui cara menggendong bayi karena melihat para perempuan melakukan hal tersebut.

“Faktanya, laki-laki sebenarnya tahu bagaimana cara melakukan sesuatu. Hanya saja cara masyarakat memandang pria, membuat mereka enggan melakukannya,” kata Kahi.

Setelah foto-foto Kahi mengajar sambil menggendong bayi yang tersebar luas di dunia maya, ia pun dijadikan seorang panutan.

“Mereka kemudian menyadari, seperti inilah seorang ayah yang baik, lelaki sejati… (dan) panutan,” kata guru besar Universitas Bouake itu.

Kahi yang mengajar ilmu komunikasi itu juga menyebutkan, perempuan harusnya tidak harus berkecil hati akibat persepsi orang tentang apa yang harus mereka lakukan.

“Apa yang berlaku di sini adalah… chauvinisme laki-laki. Ini bukan karena ada hal sulit lalu kita tidak berani. Justru karena kita tidak berani hal tersebut menjadi sulit,” kata dia.

“Dalam lingkungan ini, kita membiarkan diri kita berkecil hati akibat orang lain,” ujar Kahi menambahkan.

Menurut laporan dari PBB, anak perempuan terlambat mendapatkan pendidikan dasar dibandingkan anak laki-laki di wilayah sub-Sahara, Afrika.

Para gadis kecil itu juga kurang terwakili untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi.

(red/udhi/wi/nggoro/YDA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!