Sempat Terbakar, Sapu Angin Bisa Ikut Kompetisi di London

redaksi.co.id - Sempat Terbakar, Sapu Angin Bisa Ikut Kompetisi di London Mobil Sapu Angin bikinan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dinyatakan lolos mengikuti ajang...

34 0

redaksi.co.id – Sempat Terbakar, Sapu Angin Bisa Ikut Kompetisi di London

Mobil Sapu Angin bikinan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dinyatakan lolos mengikuti ajang Shell Eco-Marathon Challenge “Drivers World Championship” 2016.

Panitia menyatakan Sapu Angin ITS lolos dalam inspeksi teknis dan berhak bertarung dalam kompetisi dunia di Olympic Stadion, London, pada Minggu, 3 Juli 2016.

“Sapu Angin masuk urutan ke-22 untuk race kualifikasi,” kata dosen pembimbing tim ITS Witantyo melalui siaran pers, Sabtu, 2 Juli 2016. Minggu, 26 Juni pekan lalu Sapu Angin terbakar ketika masih berada dalam peti kemas dalam upaya pemindahan dari gudang di London menuju lokasi lomba.Pada saat akan diturunkan itulah terlihat asap dari peti kemas. Peti kemas yang terbuat dari logam menyebabkan api terlokalisir dan api tidak sampai menyebar. Namun, hampir seluruh isinya dilalap si jago merah. Beruntung, beberapa komponen masih dapat digunakan.

Tim ITS pun mengebut pembangunan ulang komponen-komponen yang rusak. “Alhamdulillah setelah terbakar, kami mendesain ulang dari sisa-sisa bahan yang masih bisa diselamatkan,” kata dia. Witantyo terus mendorong tujuh mahasiswanya agar tak patah semangat mengembalikan wujud mobil Sapu Angin.

Badan mobil yang kini digunakan, merupakan hasil pencetakan ulang para mahasiswa ITS. Desainnya disesuaikan dengan perhitungan agar mampu mengatasi hambatan udara. “Hanya ada dua sampai tiga hari untuk membuat kembali mobil dengan material dan peralatan yang terbatas. Benar-benar kerajinan tangan,” tutur Witantyo.

Selain kerja keras, tim Sapu Angin juga dibantu oleh seorang alumni Jurusan Teknik Mesin ITS yang tinggal di London, yakni Muhammad Donny. “Kami mendapat wiper dan aki baru dari beliau,” ujarnya.

Meskipun bentuknya jelek, kata dia, semua anggota tim tetap berharap performa dan daya tahannya bisa menyamai hasil latihan terakhir sewaktu di Indonesia. Dia mencatat, kecepatan Sapu Angin mampu mencapai 250 kilometer per jam dan bisa ditingkatkan hingga 300 kilometer per liter.

“Dengan konsumsi bahan bakar yang disediakan 90 persen dari apa yang pernah dicapai pada saat di Filipina,” ucapnya. Saat ini Witantyo terus berusaha memupuk semangat para mahasiswa untuk terus mewujudkan mimpinya. Para mahasiswa didorong agar tetap menjalankan ibadah puasa meski harus bekerja ekstra keras dengan waktu berpuasa lebih dari 19 jam. “Mudah-mudahan semangat ini masih terus terjaga.” ARTIKA RACHMI FARMITA

(red//ur/sikin/MNA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!