5 Mitos Sepak Bola Dunia yang Belum Terpatahkan

redaksi.co.id - 5 Mitos Sepak Bola Dunia yang Belum Terpatahkan -Sepak bola memiliki banyak sisi unik. Mulai dari kehidupan pribadi si pemain, teknologi yang digunakan di...

18 0

redaksi.co.id – 5 Mitos Sepak Bola Dunia yang Belum Terpatahkan

Sepak bola memiliki banyak sisi unik. Mulai dari kehidupan pribadi si pemain, teknologi yang digunakan di atas lapangan hijau, sampai hal-hal absurd seperti mitos-mitos.

Sekilas mitos-mitos itu sulit dipercaya. Tapi, ternyata mitos-mitos itu benar-benar terjadi.

Mitos ini beragam pula wujudnya. Ada yang berupa mitos tak pernah menang, mitos selalu gagal meraih gelar juara, sampai yang mengerikan seperti kutukan.

Mitos-mitos itu ada yang sudah bertahan lama. Tapi ada juga yang baru muncul di era sepak bola modern.

Melansir Sports Keeda, berikut lima mitos yang saat ini belum terpatahkan di sepak bola.

1. Tottenham tidak bisa finis di atas Arsenal

Sejak Arsene Wenger masuk ke Arsenal pada 1996, ada satu hal yang bisa pastikan di tiap musimnya. Ya, Arsenal selalu bisa finis di atas rivalnya di London Utara, Tottenham Hotspur.

Mitos ini sebetulnya hampir terpatahkan di musim lalu saat Tottenham Hotspur berada di peringkat kedua sementara Arsenal terseok-seok memperebutkan posisi empat besar. Namun, di akhir musim, Arsenal berhasil menyalip Spurs dan finis di posisi kedua.

Spurs sendiri harus puas finis di posisi ketiga. Statistik Skysports mencatat, itu adalah kali ke-21 secara beruntun Arsenal finis di atas Spurs di Liga Inggris.

2. Kutukan Bela Guttman pada Benfica

Ini barangkali adalah salah satu mitos paling terkenal di sepak bola. Ya, kutukan Bela Guttman terhadap mantan klubnya Benfica.

Cerita bermula saat Guttman sukses mengantarkan Benfica memenangkan Liga Champions di musim 1961 dan 1962. Karena keberhasilannya tersebut, Guttman pun merasa berhak meminta kenaikan gaji pada manajemen Benfica.

Namun permintaan Guttman ditolak. Murka dengan hal itu, Guttman pun berhenti dari pekerjaannya tersebut sembari mengucapkan kutukan pada Benfica. “Benfica tidak akan pernah menjadi juara Eropa dalam jangka waktu 100 tahun dari sekarang,” kata Guttman.

Percaya atau tidak, sejak saat itu, Benfica memang tidak pernah lagi menjadi juara di Eropa. Padahal, sudah delapan kali Benfica masuk final di turnamen tingkat Eropa. Rinciannya, lima kali final Liga Champions (1963, 1965, 1968, 1988, dan 1990) dan tiga kali final Liga Europa (1983, 2013, dan 2014).

3. Kegagalan Messi bersama timnas Argentina

Mitos terbaru yang tercipta di sepak bola adalah mitos kegagalan Messi bersama timnas Argentina senior. La Pulga cuma berhasil mempersembahkan medali emas Olimpiade 2005 bersama timnas Argentina junior.

Messi sebetulnya memiliki empat kesempatan membawa Argentina juara. Kesempatan pertama terjadi di final Copa America 2007. Namun ketika itu, Argentina gagal juara setelah ditaklukkan seteru abadinya, Brasil.

Kesempatan kedua datang tujuh tahun kemudian saat Messi membawa Argentina masuk Final Piala Dunia 2014. Bermain di Maracana, Argentina harus menghadapi salah satu rivalnya asal Eropa, Jerman.

Tapi, Dewi Fortuna masih belum memihak Messi usai Argentina kalah 0-1 dari Jerman. Dua kekalahan di final berikutnya terjadi di final Copa America 2015 dan 2016. Di dua final itu, Argentina menyerah dari Cile.

Kekalahan terakhir tampaknya begitu memukul Messi. Tak lama setelah pertandingan, Messi pun memutuskan pensiun dari timnas.

4. Wenger yang tak pernah menang atas Mourinho

Jose Mourinho langsung menjelma jadi rival manajer Arsenal, Arsene Wenger di Liga Inggris, begitu dia masuk ke Chelsea di musim 2003/04. Hingga saat ini, Wenger pun belum pernah menang atas Mourinho di Liga Inggris.

Dari 13 pertemuan, Mourinho menang tujuh kali dan imbang enam kali. Manajer asal Portugal ini pun cuma kebobolan lima kali dan memasukkan 21 gol.

Satu-satunya kemenangan Wenger atas Mourinho terjadi di partai Community Shield awal musim lalu. Bermain di Wembley, Arsenal menang tipis 1-0.

Kini, Mourinho kembali ke Inggris untuk menangani Manchester United. The Special One pun berpeluang menjaga rekor bagusnya itu.

5. Kegagalan Zlatan Ibrahimovic memenangkan Liga Champions

Bagi Zlatan Ibrahimovic, Liga Champions seperti sebuah batu kryptonite untuk Superman. Ibrahimovic boleh saja berbangga soal koleksi trofinya.

Tapi, Ibra tak boleh sombong saat berbicara soal Liga Champions. Pasalnya, pemain berusia 34 tahun ini belum sama sekali mencicipi gelar di turnamen tersebut.

Prestasi tertinggi Ibrahimovic di Liga Champions adalah mencapai semifinal bersama Barcelona di musim 2010/11. Uniknya, yang menyingkirkan Barcelona saat itu adalah Inter Milan yang diasuh pelatih idola Ibra, Jose Mourinho.

Kini, Ibrahimovic bersatu dengan Mourinho di Manchester United. Sayangnya, MU tidak akan berkompetisi di Liga Champions musim depan.

Meski demikian, Ibra tidak ambil pusing soal kegagalan tersebut. “Karier saya masih tetap bagus, meskipun saya tidak memenangkan Liga Champions. Museum saya telah besar dan saya telah mendapat kesempatan bermain bersama banyak pemain yang telah memenangkan banyak gelar,” kata Ibrahimovic.

(red/ngga/eksa/AR)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!