Ini Kisah Pemudik Terjebak di Tol Cipali dan Beli BBM Mahal

redaksi.co.id - Ini Kisah Pemudik Terjebak di Tol Cipali dan Beli BBM Mahal Mudik Lebaran 2016 meninggalkan pengalaman pahit bagi pemudik Hafidz Abdurrahman dan keluarganya. Hafidz...

18 0

redaksi.co.id – Ini Kisah Pemudik Terjebak di Tol Cipali dan Beli BBM Mahal

Mudik Lebaran 2016 meninggalkan pengalaman pahit bagi pemudik Hafidz Abdurrahman dan keluarganya. Hafidz yang berencana pergi menuju Kota Malang, Jawa Timur, berangkat pada H-2 lebaran atau 4 Juli, dari Sentul City, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dengan melewati tol Kanci.

Namun ketika sampai di Kanci, dia mengaku mengalami kemacetan yang luar biasa. Di saat panas menyengat di tengah hari, dia melihat ribuan orang dengan kendaraannya mengantri untuk keluar tol berdesak-desakkan.

Ini ditambah pemandangan ribuan orang yang menepi di bahu-bahu jalan. Jalur tol yang terpanjang itu tidak dilengkapi dengan rest area yang memadai, dengan fasilitas MCK, dan pom bensin, kata Hafidz secara tertulis seperti diterima Tempo, Ahad, 10 Juli 2016.

Kemacetan yang bertambah parah mebuat dia dan keluarga harus menahan untuk tidak buang air. Dia juga terpaksa melakukan salat jamak qashar. Hingga saat berbuka puasa tiba, dia hanya minum air, kurma dan kue lapis yang dibawa dari Bogor. Dia mengalami keadaan macet itu hingga pukul 02.00 WIB, pada 5 Juli 2016 sampai mobil yang dikendarainya tiba di pintu keluar Tol Brebes Timur.

Di sini, Hafidz bercerita dia kembali mengalami kemacetaan. Padahal saat itu indikator bensin di mobilnya menunjukkan tinggal empat baris. Dia akhirnya membeli bensin eceran dengan harga tinggi, Rp 25 ribu per liter.

Terpaksa harus dibeli juga. Itu pun hanya mendapat jatah 5 liter, kata Hafidz. Dia juga mendapatkan informasi dari penjual jika kondisi macet itu telah tejadi selama empat hari.

Setelah mobil Honda CRV yang dikendarainya berhasil keluar dari pintu Tol Brebes Timur, kondisi perjalaan terasa semakin sulit. Dia mengaku kesulitan mengisi bensin karena adanya rekayasa lalu lintas.

Kami harus melanjutkan perlananan, sambil mencari pom bensin. Ada sekitar 6 kali usaha sudah dilakuan, dan gagal, kata dia. Hafidz menuturkan dirinya sempat mengantri selama dua jam untuk mengantri Pertamax, karena stok Premium telah habis.

Namun tiba gilirannya, dia juga gagal mendapatkan Pertamax. Baru ketika sampai di Jalan Pantura Tegal, dia mendapatkan bahan bakar jenis Pertalite sebanyak enam liter, yang diwadahi empat botol air mineral ukuran besar dengan harga Rp 30 ribu per botol. Meski keruh, terpaksa tetap diisikan ke mobil, ucap Hafidz.

Dia mengaku terpaksa melakukan penghematan bahan bakar dengan mematikan AC mobil di bawah teriknya matahari. Ini juga membuat putri bungsunya Salma harus membatalkan puasa karena mengalami dehidrasi.

Sementara anaknya yang pertama, Falah, hampir pingsan dengan raut wajah pucat pasi setelah mengantri berdiri di sebuah pom bensin selama 2 jam berdesak-desakan.

Rombongan Hafidz akhirnya menjumpai pom bensin setibanya di Pemalang. Di sini, dia mengaku merasa lega karena bisa mengisi Pertamax meski hanya dibatasi pembeliannya sebesar Rp 250 ribu. Dari sini, Hafidz kembali memacu kendaraannya menuju Malang melalui Semarang dan sampai pukul 01.45, pada 6 Juli 2016.

Menempuh perjalanan selama tiga hari ini memberikan pengalaman buruk bagi Hafidz dan keluarganya. Dia menyesalkan jumlah rest area dan stasiun pom bensin yang kurang.

Hafidz menilai pemerintah dan manajemen pengelola jalan tol, yang harusnya bertanggung jawab, telah gagal dalam mengantisipasi permasalahan yang terjadi.

Kesan kami, Jalur Tol Cipali memang benar-benar menjadi neraka, pom bensin tidak ada, toilet, kamar mandi kotor dan jorok, mushalla ala kadarnya. Bahkan, yang lebih menyesakkan hati, semuanya justru tidak mau mengakui kesalahan, sembari terus menyalahkan orang lain, kata dia.

(red/aini/J)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!