Sosok 'Putra Mahkota' Osama Bin Laden yang Mengancam AS

redaksi.co.id - Sosok 'Putra Mahkota' Osama Bin Laden yang Mengancam AS Pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden, memiliki 23 anak. Namun, hanya satu yang dipilih untuk...

35 0

redaksi.co.id – Sosok 'Putra Mahkota' Osama Bin Laden yang Mengancam AS

Pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden, memiliki 23 anak. Namun, hanya satu yang dipilih untuk membalas kematiannya, yakni Hamza bin Laden.

Melalui pesan audio online, Hamza, anak laki-laki paling muda bin Laden, menyampaikan ancaman balas dendam kepada Amerika Serikat karena telah membunuh ayahnya.

Hamza, yang saat ini berusia pertengahan 20-an, berjanji untuk melanjutkan aksi kelompok militan tersebut dalam memerangi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dalam pidato yang berjudul “We Are All Osama”, demikian menurut SITE Intelligence Group.

“Jika Anda berpikir bahwa kejahatan yang Anda lakukan di Abbottabad telah berlalu tanpa hukuman, maka Anda salah,” ujar Hamza.

Abbottabad merupakan sebuah kamp di Pakistan yang digunakan Osama untuk bersembunyi. Pada 2 Mei 2011, US Navy Seal–pasukan khusus Angkatan Laut Amerika Serikat–menggerebek rumah persembunyian tersebut sebelum pukul 01.00 dinihari.

Dikutip dari News.com.au, Selasa (12/7/2016), penggerebekan tersebut menyebabkan Osama yang saat itu berumur 54 tahun dan anggota keluarganya meninggal dunia.

Pada saat itu, Hamza diyakini sedang tak berada di tempat tersebut. Ia telah berpisah dengan ayahnya, tapi tetap menjaga ikatan kuat dengan keluarganya.

Hamza tumbuh berdampingan dengan konflik dan perang. Pada 2001, saat berumur 11 tahun, ia terlihat sedang berperang di antara militan Taliban.

Walaupun masih muda, ia dibentuk untuk menjadi seorang pemimpin. Dokumen yang ditemukan di kamp tempat penggerebekan Osama mengungkap, pemimpin Al Qaedaitu telah melatih Hamza agar suatu saat ia dapat mengambil alih kelompok teror tersebut.

Sejak 2001, Hamza muncul di sejumlah video. Pada 2005, ia terlihat dalam perang antara Al Qaeda dengan pasukan keamanan Pakistan di Waziristan selatan.

Pada 2007, diyakini Hamza telah mengambil peran yang lebih senior. Setahun kemudian, ia membuat pidato pertamanya atas nama kelompok teror. Di dalamnya, Hamza meminta para militan untuk mempercepat kehancuran bangsa sekutu yang berperang melawan Al Qaeda.

Sebuah rekaman memperlihatkan Hamza bin Laden memimpin militan sebayanya melalui serangkaian nyanyian dan berpartisipasi dalam latihan halang rintang di luar ruangan.

Hamza menulis surat untuk ayahnya pada 2009. Ia mengekspresikan kerinduannya dan ingin bersatu kembali. Namun tak jelas apakah mereka sempat memiliki kesempatan itu atau tidak.

“Ayahku tersayang, aku telah berpisah denganmu sejak aku masih kecil, belum berumur 13 tahun. Namun usiaku bertambahsekarang, dan telah dewasa,” tulis Hamza, menurut Reuters.

“Namun yang benar-benar membuatku sedih adalah pasukan Mujahidin telah berbaris dan aku belum bergabung dengan mereka,” katanya.

Pada 2015, Hamza tampil di beberapa video dan menyerukan serangannya kepada Barat. Dalam rekaman tersebut, ia menargetkan kota-kota seperti Washington, Paris, London, dan Tel Aviv.

Kelompok Intelijen SITE menerjemahkan sebagian pesan di dalam rekaman tersebut. Mereka mengatakanHamza memuji penembakan di Fort Hood dan bom Boston Marathon. Selain itu, ia melabeli Barack Obama sebagai “kepala kulit hitam geng kriminal di Gedung Putih”.

Hamza merupakan anak paling muda dari Osama dan Khairiah Sabar. Ibunya tinggal di kamp Abbottabad ketika pasukan AS meluncurkan “Operasi Geronimo”.

Sebenarnya saudara Hamza, Sa’ad bin Laden, juga dipersiapkan untuk memimpin bahkan mengambil peran penting dalam al-Qaeda.

Namun, layaknya sang ayah, pemuda berusia 29 tahun tersebut dibunuh oleh Amerika. Sebuah serangan pesawat pada 2009 merenggut nyawanya.

Sebagai militan muda yang bergabung dengan al-Qaeda, meningkatnya kemunculan Hamza di depan publik membuatnya menjadi pusat perhatian.

“Hamza memberikan wajah baru untuk al-Qaeda, yang langsung terhubung ke pendiri kelompok. Dia pandai berbicara dan merupakan ancaman berbahaya,” ujar Bruce Riedel dari Brookings.

(red/urista/urnamasari/NP)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!