8 Pekerjaan dengan Tingkat Bunuh Diri Paling Tinggi

redaksi.co.id - 8 Pekerjaan dengan Tingkat Bunuh Diri Paling Tinggi Berbagai tantangan dan hambatan yang ditemui ketika bekerja seringkali membuat banyak pegawai mengidap stres ketika bekerja.Tak...

36 0

redaksi.co.id – 8 Pekerjaan dengan Tingkat Bunuh Diri Paling Tinggi

Berbagai tantangan dan hambatan yang ditemui ketika bekerja seringkali membuat banyak pegawai mengidap stres ketika bekerja.

Tak jarang tekanan yang besar dari pekerjaan pun sering membuat pegawai melakukan tindakan di luar batas. Salah satunya seperti memutuskan untuk bunuh diri.

Data hasil riset yang dilakukan oleh Center for Disease and Prevention mengungkap beberapa jenis pekerjaan ternyata memiliki tingkat bunuh diri yang besar. Angka dihitung berdasarkan data bunuh diri per 100 ribu orang yang bekerja di pekerjaan tersebut.

Mengutip insidermonkey, Selasa (12/7/2016) berikut 8 pekerjaan dengan tingkat bunuh diri terbesar:

8. Komputer dan matematika

Tingkat bunuh diri per 100 ribu orang: 23,3

Pekerjaan programmer yang mengharuskan pekerjanya untuk bekerja sendiri membuat mereka sulit untuk berinteraksi dengan orang lain. Hal inilah yang membuat stres kerap kali sering menyerang.

7. Atlet, Desainer dan Selebriti

Tingkat bunuh diri per 100 ribu orang: 24,3

Ketiga jenis profesi ini ditakar memiliki tingkat bunuh diri yang sama. Mereka yang berprofesi sebagai atlet memiliki jiwa kompetitif yang besar. Ambisi yang mereka miliki tersebut bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri.

Berbeda ceritanya dengan desainer dan selebriti. Mereka yang bekerja di dunia seni seringkali harus menjalani hidup yang berbeda dengan orang kebanyakan. Tak heran tingkat bunuh diri di kalangan selebriti dan atlet sangatlah tinggi

6. Pekerja keamanan

Tingkat bunuh diri per 100 ribu orang: 30,5

Peringkat ke enam ditempati oleh mereka yang berprofesi sebagai pekerja keamanan. Orang-orang yang bekerja sebagai polisi, TNI atau pemadam kebakaran memiliki kesempatan yang besar untuk bunuh diri.

Hal ini dikarenakan mereka harus rela mempertaruhkan nyawa tiap kali bekerja. Hal itu dapat membuat stres berkepanjangan.

5. Insinyur dan arsitek

Tingkat bunuh diri per 100 ribu orang: 32,2

Seseorang yang bekerja sebagai insinyur dan arsitek harus bisa memperhatikan detail di tiap pekerjaannya. Fokus pada detail terus menerus dapat memicu stres yang besar.

Berbagai penyakit bisa menjangkit profesi ini. Termasuk diantaranya kesempatan bunuh diri yang besar.

4. Produksi

Tingkat bunuh diri per 100 ribu orang: 34,5

Pekerjaan produksi melibatkan mereka yang bekerja di pabrik. Rutinitas sama yang dikerjakan selama bertahun-tahun seringkali bisa membuat pekerja jenuh. Hal inilah yang membuat mereka sering mengalami stres yang berkepanjangan.

3. Pemeliharaan

Tingkat bunuh diri per 100 ribu orang: 47,9

Beberapa pos yang sering dikerjakan seperti bagian instalasi, perbaikan ataupun pemeliharaan. Menurut beberapa studi, pekerja yang bekerja di bidang ini rentan terkena beberapa efek zat kimia yang memiliki efek samping.

Paparan yang parah juga dapat berimbas pada kondisi emosional yang tidak stabil, depresi hingga kesehatan mental yang terganggu.

2. Konstruksi

Tingkat bunuh diri per 100 ribu orang: 53,3

Kondisi lapangan yang sulit ditebak membuat pekerja konstruksi harus siap dengan segala kondisi yang ada di lapangan.

Selain itu, mereka juga harus siap untuk bekerja dalam waktu yang lama. Walau pekerjaan ini memiliki gaji yang cukup besar, tingkat stres yang harus dipikul oleh para pekerja pun tidak kalah besar. Banyaknya kasus bunuh diri dari pekerjaan ini menjadi bukti dari kondisi pekerjaan di bidang ini.

1. Pertanian dan kehutanan

Tingkat bunuh diri per 100 ribu orang: 84,5

Peringkat teratas ditempati oleh mereka yang memiliki profesi di bidang kehutanan, pertanian dan perikanan. Hal ini dikarenakan pekerja di bidang ini harus menempuh medan yang terisolasi.

Sulitnya waktu untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan dunia luar membuat tingkat stres yang begitu besar bagi para pekerjanya. (Vna/Ndw)

(red/udhi/wi/nggoro/YDA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!