Ironi Sepak Bola Brasil di Pentas Olimpiade

100

redaksi.co.id – Ironi Sepak Bola Brasil di Pentas Olimpiade

Sepak bola selama ini kerap dianggap sebagai primadona kejuaraan multi event olahraga, termasuk Olimpiade musim panas yang bakal berlangsung 5-22 Agustus 2016. Dan secara kebetulan juga, tahun ini, hajatan akan digelar di Tanah Bola, Brasil.

Di pentas Piala Dunia, Brasil masih yang terbaik. Sejak pertama kali digelar pada tahun 1930, Tim Samba menjadi negara yang paling sering tampil sebagai juara. Hingga saat ini, Brasil telah mengoleksi lima gelar, yakni 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002.

Tiga dari lima gelar tersebut direbut saat Pele masih jadi pemain. Wajar, bila pria bernama lengkap Edson Arantes do Nascimento itu dianggap sebagai legenda hidup sepak bola dunia. Hingga kini belum ada yang melewati pencapaian Pele.

Namun deretan gelar ini bukan jaminan Brasil juga jadi penguasa sepak bola di Olimpiade. Sebaliknya, Tim Samba justru belum sekalipun berhasil merebut medali emas di ajang ini. Prestasi terbaik Brasil hanya menjadi runner up alias medali perak.

Olimpiade merupakan salah satu pesta olahraga modern tertua yang ada di muka bumi. Kejuaraan empat tahunan itu pertama kali digelar di Athena, Yunani, pada tahun 1896. Namun saat itu, sepak bola belum resmi dipertandingkan. Kalaupun ada, menurut sumber, hanya sebatas pertandingan eksebisi yang mempertemukan kesebelasan Athens XI dan Smyrna (Izmir).

Sepak bola baru dipertandingkan di Olimpiade Prancis tahun 1900. Edisi pertama hanya diikuti oleh tiga tim, yakni Inggris Raya, Prancis, dan Belgia.

Pertandingan berlangsung dalam sistem setengah kompetisi. Setelah melewati dua pertandingan, Inggris Raya berhasil keluar sebagai juara dan meraih medali emas. Sedangkan perak jatuh ke tangan Prancis dan perunggu jadi milik Belgia.

Seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya negara yang tertarik tampil di Olimpiade, cabang olahraga sepak bola juga kian diminati. Bahkan saat ini, negara-negara yang ingin bertarung di babak utama harus melewat babak kualifikasi yang panjang. Selain itu, sejak 1996 Komite Olimpiade Dunia (IOC) memberi lampu hijau bagi pertandingan sepak bola wanita.

Brasil pertama kali tampil di Olimpiade yang digelar Helsinki, Filandia, 1952. Kiprah pertama Salecao tidak terlalu buruk dan berhasil melaju ke perempat final. Tarian Samba akhirnya dihentikan oleh Jerman Barat dengan skor 2-4.

Empat edisi berikutnya, Brasil jadi bulan-bulanan. Tampil di Olimpiade Roma (1960), Tokyo (1964), Meksiko (1968), dan Berlin (1972), Brasil gagal melaju dari babak pertama. Baru pada edisi Montreal (1976), Brasil berhasil melaju ke semifinal. Sayang langkah Tim Samba menuju babak final kembali terhenti setelah menyerah dua gol tanpa balas dari kesebelasan Polandia.

Hingga saat ini, Brasil sebenarnya tercatat tiga kali melaju ke final. Masing-masing saat mengikuti Olimpiade Los Angeles 1984, Seoul 1988, London 2012. Meski demikian, Brasil gagal dan hanya membawa pulang medali perak. Sedangkan dua medali perunggu diraih saat tampil pada Olimpiade Atlanta 1996 dan Beijing 2008. Selebihnya Brasil hanya jadi pelengkap saja.

Cabang olahraga sepak bola memang tidak sekompetitif Piala Dunia yang bertabur pemain profesional. Sebaliknya, tim-tim yang tampil di Olimpiade hanya diperkuat oleh pemain-pemain muda. FIFA tidak ingin sepak bola di Olimpiade jadi pesaing Piala Dunia.

Pele yang menjadi legenda sepak bola dunia sama sekali tidak pernah memperkuat Brasil di Olimpiade. Sebab sejak berusia 17 tahun, dia sudah menjadi pemain profesional dan sudah memperkuat Brasil di Piala Dunia. Bahkan saat mendapat gelar kehormatan dari IOC, belum lama ini, Pele sempat berkelakar mengenai performa Brasil di Olimpiade.

“Saya jadi pemain di usia sangat muda. Saat itu, atlet profesional tidak bisa tampil di Olimpiade. Saya ingin berkelakar, alasan Brasil belum pernah merebut medali emas Olimpiade karena saya tidak pernah tampil di sana,” ujar Pele.

Saat Olimpiade berlangsung di Los Angeles, Amerika Serikat, 1984 lalu, IOC sebenarnya sempat melobi FIFA agar mengizinkan pemain profesional ikut ambil bagian. Namun FIFA bergeming. Kedua pihak akhirnya mencapai titik tengah di mana negara-negara dari Africa, Asia, Oceania and CONCACAF boleh menggunakan pemain terbaiknya, sementara peserta dari negara yang berada di bawah UEFA dan dan CONMEBOL hanya boleh menyertakan pemain-pemain yang tidak tampil pada Piala Dunia.

Sejak 1992, komposisi tim kembali berubah. Masing-masing negara hanya boleh diperkuat pemain-pemain U-23 plus tiga pemain yang berusia di atasnya. Kebijakan ini memberi keuntungan bagi negara-negara Afrika, di mana Nigeria dan Kamerun secara beruntun berhasil merebut medali emas pada Olimpiade Atlanta, 1996 dan Sydney Australia, 2000.

Menghadapi Olimpiade di rumah sendiri, persiapan Brasil tidak terlalu baik. Sebab sebulan sebelum event berlangsung, pelatih kepala Carlos Dunga justru dipecat dari jabatannya. Dunga diberhentikan karena Brasil gagal di Copa America 2016. Posisinya digantikan oleh Rogerio Micale yang merupakan pelatih Brasil U-20.

Sebanyak 18 pemain telah dipanggil untuk memperkuat Tim Samba. Salah satunya adalah Neymar. Pemain Barcelona ini sengaja disimpan saat Brasil tampil di Copa America 2016 agar bisa fokus untuk Olimpiade. Sedangkan dua pemain senior lainnya adalah Douglas Costa dan Fernando Prass. Selebihnya merupakan pemain U-23.

Kiper: Fernando Prass (Palmeiras), Uilson (Atletico Mineiro)

Bek: Marquinhos (PSG), Luan (Vasco da Gama), Rodrigo Caio (Sao Paulo), Zeca (Santos), William (Internacional), Douglas Santos (Atletico Mineiro)

Gelandang: Thiago Maia (Santos), Rodrigo Dourado (Internacional), Fred (Shakhtar Donetsk), Rafinha (Barcelona), Felipe Anderson (Lazio)

Striker: Neymar (Barcelona), Douglas Costa (Bayern Munchen), Gabriel Jesus (Palmeiras), Gabriel Barbosa (Santos), Luan (Gremio)

(red/ahyu/etyo/armawan/WSD)

loading...

Comments

comments!