Dituding Gelapkan Rp 24 Miliar, Ramadhan Pohan Lapor Balik

redaksi.co.id - Dituding Gelapkan Rp 24 Miliar, Ramadhan Pohan Lapor Balik Pengacara Ramadhan Pohan melaporkan seseorang dengan tuduhan penipuan dan penggelapan. Pelaporan ini merupakan buntut penjemputan...

18 0

redaksi.co.id – Dituding Gelapkan Rp 24 Miliar, Ramadhan Pohan Lapor Balik

Pengacara Ramadhan Pohan melaporkan seseorang dengan tuduhan penipuan dan penggelapan. Pelaporan ini merupakan buntut penjemputan paksa dan penahanan politisi Partai Demokrat itu atas tuduhan penipuan uang sebesar Rp 24 miliar saat Ramadhan Pohan mencalonkan diri sebagai walikota Medan, Desember 2015 lalu.

“Kami sudah melaporkan balik seseorang atas tuduhan Pasal 372 dan 378 KUHP karena klien saya Ramadhan Pohan merasa dia jadi korban penipuan penggelapan,” kata Sahlan, kuasa hukum Ramadhan Pohan kepada Tempo, Rabu 20 Juli 2016.

Ramadhan, kata Sahlan, melapor ke Polda Sumut bukan karena kliennya itu diperiksa dalam tuduhan penipuan uang Rp 24 miliar seperti yang ramai diberitakan media. “Intinya Ramadhan Pohan melaporkan balik karena dia dituduh menggelapkan uang Rp 24 miliar. Tidak ada sebegitu,” kata Sahlan.

Sayangnya, Sahlan tidak menjelaskan apa benar ada peminjaman uang oleh Ramadhan Pohan, dengan jumlah di bawah yang dituduhkan. Secara terpisah, Ramadhan mengakui ia memang sedang menjalani pemeriksaan di Polda Sumatera Utara.

Mengenai penetapan status tersangka dirinya, ia menyerahkannya kepada pihak kepolisian. Nggak tahulah nanti setelah ini. Kan polisi meminta keterangan. Setelah itu ya udah, nanti dilihat setelah dimintai keterangan ya, kata dia.

Kemarin malam, Ramadhan Pohan dijemput paksa oleh anggota Polda Sumut di kediamannya, Jalan Pramuka, Jakarta Pusat. Penjemputan Pohan berawal saat Polda Sumatera Utara menerima laporan dari Laurent Hendri Sianipar pada Maret 2016 lalu. Laurent mengaku Pohan meminjam uangnya senilai Rp 4,5 miliar pada Desember 2015 lalu untuk biaya pencalonannya sebagai Walikota Medan periode 2016-2021.

Pohan berjanji akan mengembalikannya satu minggu kemudian. Namun janji itu tak ditepati. Bahkan setiap ditelepon, kata Laurent, telepon Ramadhan selalu tidak aktif. Bila kebetulan bertemu dengan pelapor, kata Laurent, Ramadhan selalu memberikan berbagai macam alasan untuk mengelak membayar utangnya.

Polda Sumatra Utara kemudian memproses laporan itu bersama laporan lainnya. Setelah berkas siap, penyidik memutuskan memanggil Ramadhan Pohan untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi. Namun setelah dua kali pemanggilan, Ramadhan Pohan tak pernah tak hadir.

Kepada wartawan, Ramadhan juga sempat memberikan klarifikasi mengenai peristiwa penangkapannya di Kediamannya. Kata dia, informasi adanya penangkapan terhadap dirinya tidak benar, dan laporan itu dilakukan oleh seorang donatur yang meminta ganti rugi karena kekalahannya dalam pencalonan sebagai Walikota Medan.

“Ini ada donatur minta ganti rugi kalah Pilkada saya. Dia kasihnya ke orang, padahal saya nggak perintah utang, juga ngga terima uang sepeserpun dan tak ada perjanjian utang piutang antara saya dengan mereka atau siapapun,” kata dia.

Ramadhan balik menuduh motif dan identitas pelapor. Ini ada orang mau memeras saja, dengan menyebarkan info bohong supaya saya kasi uang. Saatnya saya akan kasi keterangan lagi ke polisi, ujarnya. Ramadhan disebut meminjam uang sebesar Rp 24 miliar kepada beberapa pihak saat mencalonkan diri sebagai Wali Kota Medan tahun lalu.

Ramadhan Pohan diduga tak kunjung mengembalikan uang tersebut sehingga para korban membuat laporan ke Polda Sumut. Kuasa hukum Laurent Hendri Sianipar mengatakan kliennya selain Laurent juga ibu Laurent yakni RH boru Simanjuntak. “Ramadhan meminjam uang kepada ibu Laurent dan kepada Laurent dengan total Rp 15,8 miliar. Ketika akan melunasi hutangnya, Ramadhan membayar dengan cek. Kekecewaan Laurent memuncak ketika cek itu tak bisa dicairkan karena dana di rekening Ramadhan hanya Rp 10 juta. SAHAT SIMATUPANG

(red/urista/urnamasari/NP)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!