'Nyonya Setan', Perempuan Pertama Capres AS

redaksi.co.id - 'Nyonya Setan', Perempuan Pertama Capres AS Pada 2 November 1872, 3 hari sebelum warga AS pergi ke bilik pemilihan untuk memilih presiden ke-19, salah...

35 0

redaksi.co.id – 'Nyonya Setan', Perempuan Pertama Capres AS

Pada 2 November 1872, 3 hari sebelum warga AS pergi ke bilik pemilihan untuk memilih presiden ke-19, salah satu kandidat capres ditahan.

Yang lebih mengejutkan, yang ditangkap adalah seorang perempuan. Namun ia bukanlah sembarang perempuan. Victoria Claflin Woodhull adalah salah satu kandidat capres AS yang paling kontroversial pada masa itu.

American History mencatat, Victoria Woodhull adalah perempuan pertama yang mencalonkan diri menjadi calon orang nomor satu di AS.

Pada masa itu, perempuan yang mencalonkan diri sebagai capres AS dipandang sebagai ide konyol. Namun tidak bagi Victoria. Kampanyenya penuh dengan hal kontroversial. Itu yang membuatnya harus mendekam dalam penjara.

Di kemudian hari,Hillary Clinton mencatat sejarah di Philadelphia sebagai perempuan pertama yang menjadi nominasi presiden dari partai mayoritas. Namun, ia bukanlah perempuan pertama yang mencalonkan diri sebagai capres. Itu yang membuatnya berbeda dengan Victoria.

Tahun 1872, Victoria menjadi kandidat dari partai gurem, melawan petahana presiden dari Partai Republik, Jenderal Ulysses S Grant serta penantang dari Demokrat, penerbit asal New York, Horace Greeley.

Victoria tak bisa memberikan suara untuk dirinya sendiri — hak yang memang tidak didapatkan perempuan AS dan baru 50 tahun kemudian ada– namun ia adalah sosok pergerakan sosial penting masa itu.

Perjalanan Victoria menjadi kontestan capers dimulai pada 1871, ketika teman dan pendukungnya, senator dari Massachussets, Benjami Butler dan dirinya diundang ke Washington untuk menyampaikan pidato di depan parlemen yang merumuskan undang-undang.

Di situ, Victoria memberikan pernyataan yang keras sebelum bertatap muka dengan panitia.

“Perempuan setara dengan pria di atas hukum dan memiliki hak setara juga,” demikian seperti dilansir Liputan6.com dari Long Read The Guardian, Minggu (24/7/2016)

Victoria berargumen bahwa perempuan memiliki hak untuk memilih, seperti halnya warga yang lahir di Amerika Serikat di bawah Amandemen ke-14 di konstitusi.

Lebih kontroversial lagi, dia mengutip Amandemen 15 (yang menghapuskan perbudakan pada tahun 1870) tentang perempuan, yang sudah lama dalam sebanding dengan perbudakan.

Panitia menolak untuk setuju dengan posisinya, tetapi penampilan Woodhull ini membawanya ke perhatian nasional. Koran berpengaruh milik miliader Frank Leslie Illumistrated Newspapers mencetak foto dan kisahnya sebanyak 1 halaman penuh.

Woodhull mengakhiri pidatonya dengan ancaman: jika pria terus mengecualikan perempuan dari pemerintah, perempuan tidak punya pilihan selain untuk memberontak dan mengatur dirinya sendiri.

“Jika Kongres menolak untuk mendengarkan dan memberikan apa yang wanita minta, hanya satu yang tersisa untuk kami kejar. Apa yang tersisa bagi perempuan untuk melakukan selain untuk menjadi ibu dari pemerintah masa depan? “

Kongres tidak akan mengakui satu inci pun permintaannya. Dan akibatnya pada 9 Mei 1872, Asosiasi Hak Pilih Perempuan Nasional menggelar konvensi tahunan dan membentuk cabang, The Equal Rights. Woodhull terpilih oleh anggota untuk mencalonkan diri sebagai presiden AS.

Kehidupan awal Victoria penuh dengan gambaran yang jauh berbeda dibanding perempuan AS masa itu. Dari usia muda ia mengalami kekerasan seksual, tereksploitasi, dan tak terlindungi oleh keluarga, teman, bahkan undang-undang.

Lahir pada 1838, di Homer, Ohuoa, ia belajar tentang dunia dari seorang ayah penjual obat keliling dan tukang ramal.

Sang ayah, ‘Dr R.B Claflin, American King of Cancers’ adalah salah satu penipu ulung kelas wahid –pada zamannya–yang mengembara dari satu kota ke kota lain. ‘Dokter ahli kanker’ itu menjual ramuan mujarab. Ketika tak berjualan, ia mencari orang untuk ditipu.

Dari kecil Victoria terbiasa bekerja. Bersama saudara perempuannya, ia menjadi ‘ahli spiritual’, main drama dan jadi ahli ramal. Ayahnya melakukan kekerasan terhadapnya, hingga membuat Victoria merasa, “sudah menjadi perempuan dewasa sebelum waktunya.”

Sosok ayahnya menjadi ketakutan Victoria seumur hidupnya sewaktu kecil.

Victoria menikah pada usia 15 tahun dengan Canning Woodhull. Namun, 11 tahun pernikahannya adalah mimpi buruk. Woodhull adalah sosok ‘ayah’ dalam wujud suami.

Setelah berjuang melepaskan diri dari ikatan pernikahan, ia berhasil cerai. Perceraian pada masa itu adalah hal tabu.

Kendati demikian ia sukses menjadi orangtua tunggal bagi 2 putrinya. Dan setelah Perang Bersaudara berakhir, Victoria menikahi Kolonel James Blood. Mereka pindah dari Ohio ke New York.

Di New York, ia membuka bar yang kerap didatangi orang-orang terkenal. Dan pada 1870, saudara perempuan Victoria menikahi politikus kiri dan kaya raya, Cornelius Vanderbilt.

Vanderbilt-lah adalah sosok yang membuat dua bersaudara itu terkenal secara tak langsung. Ia membantu mereka berinvestasi dan membuka usaha antara lain makelar saham dan terkenal di Wall Street. Kedua perempuan itu dijuluki ‘broker penyihir’.

Di saat yang sama ia membuat majalah mingguan Woodhull and Claflin dengan oplah 2.000 eksemplar per hari.

‘Nyonya Setan’

Victoria Woodhull digambarkan sebagai Nyonya Setan atau Mrs. Satan oleh kartunis Thomas Nast di Harper’s Weekly pada 17 Ferbruari 1872.

Kartun itu berjudul ‘Get thee behind me, (Mrs) Satan’.

Di dalam kartun itu Victoria digambarkan sebagai perempuan setan bersayap dengan tanduk yang membawa tulisan ‘Be saved by free love’.

Lantas di belakang ‘nyonya setan’ itu terdapat gambar perempuan dengan anak-anak suami yang mabuk, mencela Victoria dengan tulisan, “Lebih baik menjalani kehidupan pernikahan yang sulit daripada mengikuti langkahmu…”

(red/usland/argarito/RM)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!