Potensi Blue Carbon di Papua Barat Besar, Ini Faktanya

119

redaksi.co.id – Potensi Blue Carbon di Papua Barat Besar, Ini Faktanya

Jumlah karbon yang dapat disimpan hutan bakau (mangrove) Papua Barat ternyata cukup besar. Di Teluk Arguni, Kabupaten Kaimana, misalnya. Conservation International (CI) Indonesia mencatat wilayah ini menyimpan 717 ton karbon atau sekitar 2.631 ton karbondioksida (CO2) per hektarenya. Jumlah ini setara dengan penggunaan 1.120.671 liter bensin, 34,8 truk tangki bensis, dan 1.281.849 kilogram batu bara.

“Artinya, hutan mangrove sangat penting untuk lingkungan,” ujar Direktur Program Kelautan CI Indonesia, Viktor Nikijuluw, dalam konferensi pers yang digelar di Hotel Ibis Arcadia, Jakarta Pusat, Selasa, 26 Juli 2016.

Karena itu, kata dia, upaya pelestarian kawasan mangrove sangat penting dilakukan. Salah satunya ialah dengan program blue carbon initiative . Di tingkat global, CI terlibat dalam Inisiatif Karbon Biru Internasional, sebuah kerja sama yang dilakukan oleh CI, International Union for the Conservation of Nature and Natural Resource (IUCN), dan The Intergovernmental Oceanographic Commission of UNESCO (IOC-UNESCO).

Kelompok kerja “blue carbon” tingkat internasional ini dibentuk sejak 2011 untuk mengurangi dampak perubahan iklim dengan menjaga ekosistem laut dan pesisir secara global. Di Indonesia, CI Indonesia memulai program ini di Kaimana sejak 2014 “Kami mendukung pemerintah setempat dalam meningkatkan jumlah area konservasi mangrove dengan mendukung mata pencaharian masyarakat, misalnya melalui budidaya kepiting bakau yang berkelanjutan,” tuturnya.

Sedangkan di tingkat nasional, Viktor dan timnya akan menggandeng Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk melakukan inisiatif pengembangan blue carbon. “Tentunya tak hanya mangrove, tapi juga padang lamun, dan rawa pasang surut.” Kepala Sub-Direktorat Penataan Kawasan Konservasi Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP, Andi Rusansdi, berharap program blue carbon ini juga bisa memberikan manfaat langsung bagi masyarakat setempat.

“Karena, bagaimanapun, program apapun harus bisa kembali ke masyarakat,” tuturnya. Menurut Andi, kerja sama KKP dengan CI Indonesia akan sangat membantu upaya pemerintah dalam menjaga komitmen penurunan karbon yang disepakati di COP ke-21 Paris. Juga, dapat melestarikan ekosistem kawasan konservasi perairan Indonesia. Dia mengatakan, program blue carbon di Kaimana dapat diaplikasikan di kawasan lain di seluruh kawasan mangrove di Indonesia. AMRI MAHBUB

(red/ochman/rief/RA)

loading...

Comments

comments!