Ada 'Surga' Tersembunyi di Neraka Suriah

redaksi.co.id - Ada 'Surga' Tersembunyi di Neraka Suriah Ketika sebuah kota telah ditawan selama bertahun-tahun dan penduduknya menderita kelaparan, kemungkinan tak ada yang berminat untuk membaca...

27 0

redaksi.co.id – Ada 'Surga' Tersembunyi di Neraka Suriah

Ketika sebuah kota telah ditawan selama bertahun-tahun dan penduduknya menderita kelaparan, kemungkinan tak ada yang berminat untuk membaca buku. Namun, para ‘kutu-buku’ telah menyelamatkan buku-buku dari gedung yang hancur karena bom dan menyembunyikannya di sebuah perpustakaan bawah tanah diSuriah.

Dan yang menakjubkan, meski harus menghindari hujanan peluru, tetap ada saja para pembaca antusias yang berrusaha mencapai perpustakaan itu.

Setelah menuruni tangga sejauh mungkin dari sambaran peluru yang ditembakkan penembak jitu di permukaan, maka Anda akan menjumpai sebuah ruangan temaram. Terkubur di bawah sebuah bangunan yang telah dihancurkan bom, ruangan ini adalah sebuah perpustakaan rahasia yang menawarkan kesempatan untuk belajar, harapan, dan inspirasi bagi mereka yang tertawan di Darayya, di pinggiran kota Damaskus.

“Kami menganggap penting untuk membuat perpustakaan yang baru agar kami tetap dapat belajar. Kami memilih tempat di ruang bawah tanah agar tidak dihancurkan peluru atau bom seperti kebanyakan gedung-gedung yang ada di sini,” ungkap Anas Ahmad, mantan mahasiswa teknik sipil yang merupakan salah satu dari pendiri perpustakaan ini. Demikian seperti dilansir dari BBC, Minggu (31/7/2016).

Darayyadikuasai oleh pemerintah dan tentara pro-Assad dimulai hampir empat tahun lalu. Sejak saat itu,Anas dan sukarelawan lainnya, yang kebanyakan juga mantan mahasiswa yang studinya tertunda karena perang, telah mengumpulkan sekitar 14.000 buku dengan berbagai subjek.

Selama kurun waktu itu, lebih dari 2.000 orang telah tewas, kebanyakan adalah rakyat sipil. Namun, hal itu tidak menghentikan Anas dan kawan-kawannya dari menyusuri jalanan penuh puing untuk mengumpulkan bahan bacaan yang dapat mengisi rak perpustakaan mereka.

“Sering kali, kami memperoleh buku dari rumah-rumah yang telah dibom atau rusak karena peluru. Kebanyakan rumah-rumah ini ada di garis depan pertempuran, sehingga mengumpulkan buku merupakan kegiatan yang sangat berbahaya,” urainya.

“Kami harus melalui gedung-gedung yang hancur untuk menghindari penembak jitu. Kami harus ekstra hati-hati karena terkadang penembak jitu mengikuti kami, mengantisipasi langkah kami selanjutnya.”

Awalnya, ide bahwa ada orang yang rela membahayakan diri mereka sendiri demi mengumpulkan buku untuk sebuah perpustakaan terasa amat aneh. Namun Anas mengatakan bahwa upaya mereka membantu para penduduk dengan berbagai cara.

Para sukarelawan yang bekerja di rumah sakit Darayya, Suriah,menggunakan buku-buku dari perpustakaan mereka untuk mencari referensi bagi pengobatan pasien. Para guru yang tak terlatih menggunakan buku untuk membantu persiapan mengajar mereka. Lalu, para dokter gigi juga mencari buku untuk mendapat saran tentang mencabut dan menambal gigi.

Sekitar 8.000 dari 80.000 warga Darayya telah melarikan diri. Namun, kini tak ada yang bisa kabur. Sejak gencatan bersenjata sementara berakhir pada bulan Mei, peluru dan bom memberondong mereka hampir tiap hari. Karena itulah, wartawan tidak mungkin memasuki Darayya. Maka wartawan BBC News mewawancarai Anasdan kawan-kawan melalui Skype, dan percakapan antara mereka sering kali diselingi dengan bunyi dentuman bom, yang begitu kerasnya sehingga mendistorsi pengeras suara di ruangan.

Lokasi perpustakaan dirahasiakan karena Anas dan pengguna lainnya khawatir jika perpustakan mereka akan dijadikan target serangan di Darayya jika lokasinya diketahui.

Saat ini, lokasi perpustakaan dianggap terlalu berbahaya bagi anak-anak. Seorang gadis kecil bernama Islam, mengatakan bahwa ia menghabiskan sepanjang harinya di dalam rumah, bermain untuk melupakan rasa lapar dan membaca buku perpustakaan yang dibawakan oleh teman-temannya.

Islam tak mengerti apa penyebab pertumpahan darah yang terjadi di sekelilingnya.

“Yang kutahu hanyalah bahwa aku ditembaki,” kata bocah perempuan itu.

“Aku biasanya duduk dan melihat bom menghancurkan tempat lain dan berpikir, ‘Kenapa mereka membom tempat itu?’ Kadang aku mendengar kabar kematian orang karena luka yang dideritanya, dan aku bertanya-tanya, ‘Kenapa ia tewas, apa yang telah dilakukannya?’ Aku tak tahu.”

Namun ada seorang anak yang mengunjungi perpustakaan rahasia itu setiap hari, karena ia tinggal tepat di sebelahnya. Menurut Amjad yang berusia 14 tahun, lebih aman berada di perpustakaan daripada di permukaan tanah. Setelah beberapa waktu, antusiasme Amjad akan tempat itu membuatnya diberi julukan “wakil pustakawan”.

Dalam salah satu percakapan melalui Skype, Anas menyatakan bahwa selain menginspirasi para guru, dokter, dan dokter gigi yang mencari buku-buku teks atau akademis, banyak yang masih membaca karena memang menggemarinya.

Kebanyakan buku-buku yang populer adalah karya-karya penulis Arab terkenal, seperti penyair dan penulis drama Ahmed Shawqi, yang dikenal sebagai Pangeran Para Penyair, atau penulis Suriah As-Tanawi, yang mencatat pemberontakan-pemberontakan di dunia Arab. Namun, menurut Anas, ada juga yang antusias akan nama-nama penulis yang dikenal di dunia Barat.

“Aku telah membaca buku-buku karya penulis Prancis, namun Hamlet merupakan yang terbaik,” tutur Abdulbaset Alahmar, mantan mahasiswa lain yang berusia sekitar 25 tahun.

“Gaya tulisan Shakespeare sangat indah. Ia menjelaskan setiap detail dengan begitu nyata sehingga seolah saya berada di bioskop dan menonton filmnya. Sejujurnya, aku begitu menyukai Hamlet sampai-sampai membacanya di tempat kerja. Akhirnya aku harus menghentikan kebiasaan itu!”

Di sebuah kota yang tertawan dan hanya memiliki dua akses jalan konvoi bantuan, rupanya masih banyak orang yang mencari buku selain makanan.

“Aku percaya bahwa otak seperti otot. Dan membaca pasti membuat otak bertambah kuat. Otak yang tercerahkan dapat menjadi makanan bagi jiwa,” ujar Alahmar

“Perpustakaan ini seperti mengembalikan kehidupanku, dan membantu untuk bertemu mereka yang lebih dewasa dariku sehingga dapat berdiskusi dan belajar. Menurutku, jika tubuh memerlukan makanan, maka seperti itulah jiwa kita memerlukan buku.”

Ternyata, bahkan para Tentara Pembebasan Suriah, yang bertugas membela kota itu, juga suka membaca.

“Sungguh, aku bersumpah, bahwa perpustakaan ini memiliki makna khusus di hati kami semua. Dan setiap kali terjadi serangan di dekat perpustakaan, kami berharap perpustakaan tetap aman,” ungkap Omar Abu Anas, mantan mahasiswa teknik yang kini turut membela kampung halamannya.

Setiap akan berangkat ke garis depan, ia membekali dirinya dengan buku-buku. Setelah berada di sana, ia menghabiskan waktu dengan senapan di satu tangan dan buku di tangan lainnya.

“Di jantung garis depan, aku memiliki perpustakaan mini. Aku membawa beberapa buku dan menyimpannya di sana. Jadi aku duduk di sana selama enam atau tujuh jam, dan membaca.”

Banyak rekan seperjuangannya yang memiliki perpustakaan mini di garis depan, katanya. Ia menambahkan bahwa di setiap titik pertahanan, yang masing-masing berjarak sekitar 50 meter, Anda akan menemukan koleksi buku pinjaman.

“Jadi, contohnya, saat aku selesai membaca sebuah buku, aku akan menghampiri rekan lain di garis depan dan menukarkannya dengan yang baru saja ia selesai baca. Ini cara yang sangat baik untuk bertukar ide dan buku.”

Namun, sayangnya, bagi Omar dan teman seperjuangannya serta rakyat Darayya, mereka mungkin akan segera hanya memiliki sedikit waktu untuk membaca. Selama dua minggu terakhir, kekuatan pemerintah Suriah dan rekanan Hizbullah mereka, telah bergerak ke semua tanah pertanian di pinggir kota, dan bahkan sebagian wilayah pemukiman di pinggiran.

Seorang pria memprediksikan bahwa setelah hampir empat tahun bertempur, Darayya mungkin akan jatuh ke tangan lawan dalam beberapa hari ke depan.

Namun untuk saat ini, Omar mengatakan bahwa perpustakaan ini membantu memperkuat pertahanan kota dan tekad para penghuninya.

“Buku memotivasi kami untuk tetap berjuang. Kami belajar bahwa pada masa lalu, semua orang tidak menghiraukan sebuah negara, namun negara itu tetap berhasil. Kami juga bisa seperti itu. Buku membantu kami merencanakan kehidupan masa depan setelah Assad pergi. Kami hanya dapat melakukannya melalui buku-buku yang kami baca. Kami ingin menjadi negara merdeka. Dan semoga, dengan membaca, kami dapat melakukannya.”

(red/atno/wi/anto/RDS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!