Analis: Pemerintah Perlu Perlebar Defisit Anggaran

69

redaksi.co.id – Analis: Pemerintah Perlu Perlebar Defisit Anggaran

Analis Mandiri Sekuritas Leo Rinaldi mengatakan pemerintah perlu meningkatkan defisit anggaran untuk menarik investasi. Musababnya, pertumbuhan investasi bakal menggenjot pendapatan negara apabila target penerimaan perpajakan tak tercapai. Jika shortfall pajak diatasi dengan menaikkan defisit anggaran dan pemotongan belanja, maka investasi positif karena risiko dejavu tak terjadi lagi, kata Leo dalam diskusi di Nusa Dua, Bali, Minggu, 31 Juli 2016.

Menurut Leo, defisit anggaran dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2016 terlalu sempit, apalagi jika target penerimaan dari pengampunan pajak tak terealisasi. Leo memprediksi defisit aman jika berada di level 2,6-2,7 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara defisit dalam APBN Perubahan 2016 yaitu sebesar 2,35 persen dari PDB atau senilai Rp 296,723 triliun.

Akhir tahun lalu, pemerintah merta menerbitkan Surat Berharga Negara berdenominasi valuta asing untuk menutupi defisit anggaran 2015. Penerbitan SBN dilakukan dengan cara penempatan terbatas atau private placement. Akibatnya, defisit yang awalnya berada di kisaran 2,8 persen menyempit menjadi 2,6 persen dari produk domestik bruto. Risiko inilah yang menurut Leo sempat menghambat investasi. Peran investasi swasta yaitu sebesar 60-70 persen dari total investasi. Leo menilai revisi defisit tak akan bermasalah jika digunakan untuk sektor produktif bukan untuk biaya subsidi. Kemudian, pemerintah perlu menekan belanja hingga Rp 88 triliun jika defisit berada di level 2,6-2,7 persen terhadap PDB. Nanti bisa diatur juga misal dari pengeluaran operasional, kata dia.

Dengan hitungan tersebut, Leo memprediksi pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 5 persen, dan tingkat inflasi 4,5 persen. Ia telah memperkirakan kenaikan tarif listrik dan bahan bakar minyak secara bertahap. Sementara analis dari Korindo Sekuritas Reza Priyambada mengatakan pertumbuhan ekonomi hanya sanggup berada di level 4,8-4,9 persen. Sementara jika program pengampunan pajak sukses, Reza optimistis pertumbuhan ekonomi di level 5,05-5,15 persen. PUTRI ADITYOWATI

(red/udianto/R)

loading...

Comments

comments!