Irak vs Denmark Awali Sepak Bola Olimpiade Malam Ini

redaksi.co.id - Irak vs Denmark Awali Sepak Bola Olimpiade Malam Ini Tahun 2004 adalah tahun yang kelam buat Cristiano Ronaldo. Pada saat itu, ketika dia masih...

14 0

redaksi.co.id – Irak vs Denmark Awali Sepak Bola Olimpiade Malam Ini

Tahun 2004 adalah tahun yang kelam buat Cristiano Ronaldo. Pada saat itu, ketika dia masih berumur 19 tahun, dua kali dia digelandang duka. Dia menangis sesenggukan ketika timnya keok dari Yunani di final Piala Eropa.

Tak hanya itu, kesedihan kembali berulang. Di lain waktu, tim Portugal kalah oleh Irak di perempat final sepak bola Olimpiade, di Athena, Yunani, dua bulan kemudian. Penampilan Irak kala itu memang luar biasa.

Meski akhirnya di babak semifinal langkahnya terhenti oleh Italia, dan hanya menempati posisi ke-4, kehebatan tim yang berjulukan Singa dari Mesopotamia itu mengundang decak kagum. Dua belas tahun berlalu, Irak datang lagi ke Olimpiade. Mereka lolos sebagai wakil Asia setelah berhasil merebut tempat ketiga di Kejuaraan Piala Asia U-23 yang sekaligus menjadi ajang kualifikasi sepak bola Olimpiade, Januari lalu.

Wakil Asia lainnya adalah Jepang dan Korea, yang berhasil menjadi juara dan runner-up dalam kejuaraan itu. Hari ini, pukul 23:00 WIB, pasukan Singa dari Mesopotamia itu akan memperlihatkan kembali kehebatannya di pentas olahraga empat tahunan ini dengan melawan Denmark.

Berbeda dengan cabang olahraga lainnya, seperti yang sudah-sudah, cabang sepak bola memang digelar lebih awal sebelum pesta olahraga dunia ini dibuka resmi pada Jumat esok. Tim wanita sepak bola sudah lebih dulu bertanding.

Bagaimana dengan perjalanan mereka dalam Olimpiade kali ini? Tak dimungkiri, banyak yang berharap Irak bisa mengulangi kejayaan mereka seperti yang dilakukan dua belas tahun silam.

Meski persiapan mereka tidak bisa maksimal dengan keadaan negara yang terus didera masalah politik dan peperangan, tim yang dibawa oleh manajer Abdul Ghani Shahad tidaklah kekurangan pemain bagus. Bahkan beberapa dari mereka sudah mencicipi bermain di tim senior.

Mereka adalah striker Mohannad Abdul-Raheem, yang telah mencetak lima gol untuk tim senior Irak. Ada juga Humam Tariq, meski kadang bermain tak konsisten, dia adalah gelandang berbakat. Pemain lainnya adalah Ali Adnan, yang bermain di Liga Italia, Udinese. Pemain lain yang patut dicatat adalah Dhurgham Ismail, 21 tahun, yang disebut-sebut sebagai salah satu bek kiri terbaik Asia.

Penampilannya di Piala Asia 2015 di Australia mengundang decak kagum. Adapun soal pemain senior meski memberi batas pada usia di bawah 23 tahun, Olimpiade mengizinkan tiga pemain senior untuk berpartisipasi striker Hammadi Ahmad menjadi suntikan kekuatan dan semangat bagi pemain muda lainnya.

Dalam laga uji coba terakhir, mereka mencatatkan kemenangan penting atas Jepang, yang juga wakil Asia, di Sao Paolo, 25 Juli lalu. Saad Abdul Amir, yang bermain di Al Qadisiyah klub Arab Saudi menjadi pencetak satu-satunya gol dalam pertandingan itu.

Sayangnya nasib Irak kurang bagus. Dalam undian yang digelar pada April lalu, negeri ini berada di grup keras. Utamanya mereka berada di Grup A bersama tuan rumah Brasil. Di atas kertas, Brasil sebagai tuan rumah bisa mengamankan posisi pertamanya sebagai juara grup.

Untuk lolos ke babak perempat final, minimal mereka harus menempati posisi kedua. Nah, hal ini juga tidak mudah. Masalahnya, mereka harus bersaing dengan Denmark dan Afrika Selatan.

Tak ayal, mereka diprediksi akan cepat pulang. Kalaupun nasib baik berpihak pada mereka, pencapaian terjauh akan mentok pada babak kedua. Anggapan itu sah-sah saja. Namun motivasi membubung dalam setiap pemain Irak, yakni ingin memberikan semacam hiburan bagi para penduduknya yang sampai sekarang koyak oleh berbagai konflik kekerasan.

Bagi mereka, pengobatnya masih tetap sama: sepak bola. Sepak bola bukanlah sekadar olahraga, kata Hayder Al Sadi, seorang pegawai negeri di sana. Di Irak, ketegangan politik dan kekerasan masih terjadi di mana-mana.

Bagi kami, hanya sepak bola yang menjadi katup pelepas. Kehebatan mereka pada 2004 kemudian dilanjutkan dengan keberhasilan tim Singa Mesopotamia menjadi juara Piala Asia 2007 yang diselenggarakan di Jakarta.

Saat itu, di final, Irak mengalahkan Arab Saudi yang jauh diunggulkan. Rakyat Irak pun berpesta. Keberhasilan mereka sontak menyatukan Irak yang terbelah dalam berbagai kelompok.

Mohannad Abdul-Raheem, 22 tahun, yang terpilih menjadi Pemain Muda Asia Terbaik pada 2012, menyatakan keinginannya untuk mengulangi kehebatan yang dilakukan para pendahulunya itu.

Abdul-Raheem, yang pada 2004 masih berusia 11 tahun, mengaku sangat terkesan oleh perjuangan Younis Mahmoud dan kawan-kawan dalam kejuaraan tersebut. Hasrat yang sama itu pula yang kini diboyong oleh skuad Irak bertanding di Olimpiade di Rio de Janeiro.

“Lolos ke Olimpiade merupakan pencapaian yang luar biasa bagi kami,” katanya.

“Kami tidak berharap bisa meraih medali, tapi kami ingin mengikuti jejak yang telah mereka lakukan pada 2004.”

Pertarungan melawan Denmark hari ini akan menjadi langkah pembuka bagi perjalanan Singa dari Mesopotamia ini. ESPN | FIFA | THE NATIONAL | IRFAN

(red/ega/wi/riesta/VDA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!