Ini Momentum Paling Inspiratif Sepanjang Sejarah Olimpiade

redaksi.co.id - Ini Momentum Paling Inspiratif Sepanjang Sejarah Olimpiade Derek Redmond bersiap di garis start. Fisiknya dalam kondisi prima, semangat dan rasa pencaya dirinya membuncah. Bermodal...

24 0

redaksi.co.id – Ini Momentum Paling Inspiratif Sepanjang Sejarah Olimpiade

Derek Redmond bersiap di garis start. Fisiknya dalam kondisi prima, semangat dan rasa pencaya dirinya membuncah. Bermodal rekor nasional dan sejumlah penghargaan internasional, atlet Inggris itu difavoritkan menjadi peraih medali emas dalam ajang lari 400 meter di Olimpiade Barcelona 1992.

Apalagi, dalam babak sebelumnya ia menjadi yang tercepat. Namun siapa sangka, langkah Redmond harus berhenti di semifinal.

Setelah pistol diletuskan, pria itu memulai start dengan baik. Pada putaran pertama, ia merasa nyaman.

“Tiba-tiba aku mendengar suara seperti letusan. Aku terus berlari dua atau tiga langkah saat tiba-tiba merasakan sakit luar biasa. Awalnya kupikir, aku tertembak,” kata Redmond mengisahkan kejadian yang menimpanya, seperti dikutip dari Daily Mail, Senin (8/8/2016).

Ia mengenali rasa sakit itu, yang disebabkan cedera otot. “Rasanya seperti seseorang menusuk bagian belakang lutut dengan pisau panas dan memuntirnya,” kata Redmond.

Sang atlet kecewa luar biasa. Semua latihan dan kerja keras yang dijalaninya selama itu terancam sia-sia. Dengan ujung matanya, ia melihat pelari lain hanya butuh 100 meter lagi untuk mencapai finis.

Redmond berpikir, masih ada kesempatan untuk menyusul pelari lain. “Aku tertatih-tatih sejauh 50 meter. Lalu, aku akhirnya tahu perlombaan telah berakhir. Semua pelari telah melewati garis finis. Namun, aku tak ingin menyerah dan memutuskan untuk menyelesaikan lariku, meski mungkin itu adalah perlombaan terakhirku.”

Para dokter dan official mendekati trek lari, mencoba menghentikannya. Namun, Redmond bergeming.

Sekitar 100 meter menuju finis, ia merasa seseorang mendekatinya. Namun, Redmond tak sadar, itu adalah ayahnya, Jim.

“Derek, ini aku, kau tak harus melakukannya,” kata Jim pada putranya yang kesakitan dan kecewa.

“Ayah, aku ingin menyelesaikan ini, kembalikan aku ke semifinal,” jawab Redmond.

Melihat tekad kuat putranya, sang ayah akhirnya memutuskan untuk mendukungnya. “Oke, kita memulainya bersama, kini kita juga akan menyelesaikan bersama.”

Jim meminta putranya untuk berjalan menuju finis, bukan berlari. “Kau sudah jadi pemenang, kau tak perlu membuktikan apa pun,” itu kalimat yang terus dirapalkan sang ayah.

Ayah dan anak tersebut menuju garis finis dengan tangan bergandengan, diiringi tepuk tangan 65 ribu penonton yang memadati stadion lari.

Setelahnya, Derek Redmond berurai air mata saat mendengar “vonis mati” dokter yang mengatakan, ia tak lagi mungkin mewakili negaranya sebagai atlet.

Butuh waktu dua tahun bagi Derek Redmond untuk meredakan rasa marahnya. Hingga suatu hari ia berpikir: ada banyak hal yang lebih buruk ketimbang cedera otot parah dalam perlombaan. Ia memutuskan untuk melanjutkan hidupnya.

Namun, apa yang ia sangka menghancurkan hidupnya, justru membuka pintu yang mengarah pada banyak kesempatan.

Videonya digunakan dalam sejumlah iklan seperti Visa, Nike, dan the International Olympic Committee.

“Jika tak mengalami cedera otot, aku mungkin akan memenangkan medali Olimpiade. Namun, aku mensyukuri hidupku sekarang,” kata dia.

“Tanpa kejadian itu, aku mungkin tak akan jadi motivator, mewakili negaraku dalam ajang basket. Ayahku juga tak akan mendapat kehormatan membawa oborOlimpiade–sebuah penghargaan besar untuknya.”

© Derek Redmond mengalami cedera di tengah perlombaan lari Olimpiade Barcelona 1992 (Olympic) Derek Redmond mengalami cedera di tengah perlombaan lari Olimpiade Barcelona 1992

(red/ochman/rief/RA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!