Tukang Sampah Naik Haji

89

redaksi.co.id – Tukang Sampah Naik Haji

Bekerja sebagai pembersih sampah tidak menjadikan Radiudin berkecil hati untuk memiliki niat menunaikan ibadah haji. Setiap hari, warga Dusun Bunder, Desa Sumber Pinang, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Jawa Timur itu rela bekerja keras menjadi tukang sampah di Depo Sampah, Lingkungan Muktisari, Kelurahan Tegalbesar, Kecamatan Kaliwates, demi mewujudkan impiannya untuk menjalankan rukun Islam kelima itu.

“Awalnya saya tidak menyangka bisa naik haji tahun ini dan alhamdulillah saya diberi kemudahan oleh Allah SWT untuk mewujudkan impian saya menjalankan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah,” tuturnya beberapa waktu lalu..

Sejak 1993, bapak tiga anak itu menekuni pekerjaan sebagai pemulung sampah dan petugas kebersihan. Kini, Radiudin sudah diangkat sebagai tenaga honorer di Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Pemerintah Kabupaten Jember dengan penghasilan pertamanya sebesar Rp1.000 per hari.

Tunjangan bulanannya sebesar Rp5.000, sehingga total uang yang diterimanya hanya Rp35.000 per bulan.

Keinginan Radiudin untuk menunaikan ibadah haji itu merupakan cita-cita panjang. Dia bekerja tambahan sebagai pemulung yang mengumpulkan barang bekas bernilai ekonomis tinggi di antara tumpukan sampah untuk dijual kembali.

“Alhamdulillah tahun 2009, saya berhasil mendaftar haji ke Kantor Kementerian Agama Jember dengan membayar sebesar Rp20 juta hasil menabung sekian lama, sehingga mendapatkan kursi untuk menunaikan ibadah haji tahun 2016,” katanya.

Ia tidak pernah mengeluhkan keadaan hidupnya yang sehari-hari di tempat pembuangan sampah. Menurut dia, sampah-sampah berbau busuk itu justru menghidupi keluarganya, bahkan memberikannya bonus untuk naik haji.

Jarak rumah calon haji pemulung sampah itu menuju ke tempatnya bekerja di Depo sampah di Kecamatan Kaliwates cukup jauh yakni sekitar 20 kilometer. Dia harus berangkat pagi-pagi sekali untuk membersihkan sampah rumah tangga tersebut.

“Saya masih ingat pesan orang tua yang tidak boleh mengeluh dalam menjalankan hidup karena Allah akan memberikan berkah dalam setiap pekerjaan yang selalu disyukuri oleh umatnya,” tuturnya sambil menerawang jauh, mengingat pesan orang tuanya.

Dukungan istrinya Mariyati dan anak-anaknya untuk menunaikan ibadah haji juga cukup kuat. Hal tersebut dibuktikan dengan semangat dari keluarga yang dapat memotivasinya untuk selalu bekerja keras dan hidup sederhana.

“Istri saya selalu memberikan semangat ketika rezeki yang saya dapat sedikit dan selalu berhemat untuk belanja kebutuhan sehari-hari demi menyisihkan uang untuk tabungan haji, begitu juga anak-anak saya,” ujarnya.

Kendati hanya mendapat honor sebesar Rp450.000 per bulan sebagai tenaga honorer petugas kebersihan, Radiudin juga rajin bersedekah kepada orang-orang yang kekurangan yang hidupnya lebih menderita.

“Kekuatan sedekah juga memberikan saya berkah untuk bisa menunaikan ibadah haji karena saya yakin sedekah merupakan cara terbaik untuk memperlancar rezeki yang didapat, berapa pun itu,” ucapnya.

Istri Radiudin, Maryati juga tidak menyangka suaminya bisa berangkat haji tahun ini karena keinginan suaminya untuk menjalankan rukun Islam kelima tersebut sudah disampaikan kepada keluarga bertahun-tahun silam.

“Dengan penghasilan berapa pun, saya berusaha untuk menyisihkan uang sedikit demi sedikit untuk membayar tabungan haji dan alhamdulillah cita-cita suami saya terwujud untuk berangkat ke Tanah Suci,” katanya.

Ia mengatakan pihak keluarga memberikan dukungan penuh kepada suaminya yang berkeinginan menjalankan ibadah haji karena awalnya hal tersebut menjadi sesuatu yang tidak mungkin bagi seorang tukang sampah dengan penghasilan pas-pasan.

Radiudin menjadi salah satu dari 1.999 calon haji asal Kabupaten Jember yang menunaikan ibadah haji tahun 2016. Dia masuk dalam kelompok terbang (kloter) 19 yang tergabung dalam KBIH Al Mutazam Cangkring Jenggawah.

Keberhasilan Radiudin menunaikan ibadah haji menjadi inspirasi tersendiri bagi rekan seprofesinya yakni pemulung dan tukang sampah yang setiap hari bergelut dengan sampah.

“Tentu ini menjadi motivasi bagi kami untuk tetap semangat bekerja, agar bisa mengikuti jejak Pak Nur (panggilan Radiudin) berangkat menunaikan ibadah haji yang awalnya menjadi sesuatu yang tidak mungkin,” kata teman Radiudin, Soleh.

(red//ainuddin/MZ)

loading...

Comments

comments!