Akhir Petualangan Cinta Sutan Sjahrir di Tangan Rektor Al Azhar

70

redaksi.co.id – Akhir Petualangan Cinta Sutan Sjahrir di Tangan Rektor Al Azhar

Maria sudah membulatkan tekad. Dia akan menyusul kekasih hatinya ke Hindia Belanda. Dia akan berangkat bersama kedua anaknya yang masih kecil-kecil, setelah perceraiannya dengan Salomon Tas, aktivis pergerakan dan wartawan berdarah Yahudi yang berhaluan kiri, selesai di pengadilan Belanda.

Rencananya, ibu dua anak berdarah Belanda Prancis itu akan menemui kekasihnya, Sutan Sjahrir, di Medan, Sumatera Utara.

Bulan demi bulan berlalu, Maria Johanna Duchteau pun akhirnya berlayar mengarungi samudera dari Kolombo ke Medan bersama dua anaknya. Di Hindia Belanda, Sjahrir muda berangkat dari Batavia menuju Medan.

Pada April 1932, pasangan kekasih yang tengah dilanda rasa rindu mendalam itu akhirnya bertemu. Masih pada bulan itu, tanggal 10, Mieske –panggilan sayang Sutan Sjahrir kepada Maria dan Sidi panggilan sayang Maria kepada Sjahrirmenikah di sebuah masjid di Medan.

Maria dan Sjahrir sudah lama menjalin kasih. Keduanya pertama kali bertemu di Negeri Belanda saat Sjahrir menuntut ilmu. Saat itu Sjahrir bersahabat dengan suami Maria, Tas.

Baik Sjahrir, Tas, maupun Maria, ketiganya penggemar sastra, musik dan film. Tinggal di rumah yang sama dengan hobi yang sama, membuat hubungan Maria dan Sjarir semakin dekat. Apalagi Tas terlalu sibuk berpolitik dan tidak mempunyai banyak waktu untuk istri dan anak-anaknya.

Mengetahui hubungan Maria dan Sjahrir, Tas tak sakit hati. Selain karena kehidupan pergerakan di Belanda saat itu sangat bebas, juga karena Tas sudah menjalin hubungan dengan Judith, teman perempuan Maria.

Namun, Maria dan Sjahrir hanya bisa mengecap manisnya hidup berumah tangga tak lebih dari 5 minggu. Maria yang sehari-hari senang menggunakan kebaya dan kain mengundang perhatian orang Belanda. Apalagi dia yang berkulit putih menikah dengan orang pribumi di masjid.

Polisi Belanda pun menyelidiki dokumen pernikahan Maria dan menemukan, Tas ternyata belum menceraikan Maria secara resmi. Dalam buku ‘Sutan Sjahrir, Pemikiran dan Kiprah Sang pejuang Bangsa’ karya Lukman Santoso Az, disebutkan pernikahan Maria dan Sjahrir pun dibatalkan pada 5 Mei 1932 oleh aparat setempat. Lima hari kemudian Maria dipulangkan ke Belanda.

Kepergian Maria membuat pedih hati Sjahrir. Apalagi Maria tengah mengandung anaknya. Keduannya pun menjalin hubungan jarak jauh, hingga akhirnya Sutan Sjarir, yang lahir pada 5 Maret 1909 di Sumatera Barat, kembali menikahi Maria yang tetap tinggal di Negeri Kincir Angin. Namun, anak yang dikandung Maria meninggal saat dilahirkan.

Jarak yang jauh dan aktivitas pergerakan Sahrir yang semakin berat dari tahun ke tahun, mengantarkan kemerdekaan RI bersama Soekarno dan Hatta, membuat hubungan Mieske dan Sidi berjarak.

Api cinta mereka berdua akhirnya benar-benar redup setelah Indonesia merdeka dan Sjahrir menjadi perdana menteri pertama RI.

Meski masih berstatus suami Maria, Sjahrir yang dijuluki “The Smiling Diplomat”, terus mencari cinta.

Seorang perempuan cantik, berdarah ningrat, menarik perhatiannya. Dia adalah Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani atau Gusti Nurul. Gusti Nurul merupakan putri tunggal Raja Mangkunegara VII dan Gusti Ratu Timur, putri Sultan Hamengkubuwono VII.

Sjahrir pertama kali melihat Gusti Nurul usai sidang kabinet di Istana Presiden Yogyakarta. Pertemuan pertama itu langsung membuat Sjahrir jatuh hati.

Untuk merebut hati sang putri, pada setiap rapat kabinet yang berlangsung di Yogyakarta tahun 1946, Sjahrir selalu mengutus sekretaris pertamanya, Siti Zoebaedah Osman, ke Puri Mangkunegaran untuk mengantarkan kado khusus yang dibeli dari Jakarta. Bersama kado itu, Sjahrir melampirkan sepucuk surat yang ditulis tangan sendiri.

Dalam memperebutkan hati Gusti Nurul, Sjahrir harus bersaing ketat dengan Soekarno yang saat itu sudah menjadi Presiden.

Dikutip dari buku ‘Sutan Sjahrir, Pemikiran dan Kiprah Sang pejuang Bangsa’ karya Lukman Santoso Az, Gusti Nurul mengungkapkan, Sjahrir tidak pernah menemuinya di Istana Mangkunegaran.

“Saya hanya ketemu di Linggarjati,” kata Gusti Nurul ketika menghadiri perundingan perdamaian di Linggarjati, 11 November 1946.

“Kami menginap di rumah perundingan Belanda-Indonesia,” lanjut dia. Di masa tuanya, Gusti Nurul mengatakan tidak ingat apa saja yang dibicarakan dengan Sjahrir. Dia hanya ingat Sjahrir pernah membelai pipi dan dagunya, lalu melamar putri yang pandai menari itu.

Namun, baik Sjahrir maupun Soekarno gagal merebut hati Gusti Nurul. Sang putri menolak lamaran Sjahrir dengan alasan menentang poligami.

Gagal mendapatkan cinta Gusti Nurul, Sjahrir yang lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 5 Maret 1909, melabuhkan cintanya pada sekretarisnya, Siti Wahjunah Saleh.

Sepintas, wajah Siti atau Poppy mirip dengan Gusti Nurul. Tapi Poppy merupakan aktivis pergerakan mahasiswi yang pernah memimpin Perhimpunan Mahasiswi Putri Indonesia (Indonesische Vrouwelijke studenten Vereniging) periode 1940-1941.

Poppy, yang lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat 11 Mei 1920, adalah ahli hukum yang selalu mendampingi Sjahrir di seluruh perundingan dengan Belanda, sebelum dan menjelang perjanjian Linggarjati.

Meski juga menaruh hati kepada pemuda yang sering dijuluki si Kancil, karena perawakan Sjahrir yang kecil, namun Poppy menjaga jarak dari Sjahrir setelah mengetahui putra penasehat Sutan Deli dan Jaksa di Pengadilan Negeri Medan itu telah beristri.

Poppy bahkan pernah bertemu Maria di Belanda saat ia menghadiri Konferensi Meja Bundar di Den Haag, 23 Agustus 1949.

Demi menjaga jarak, Poppy mendaftar di Universitas Leiden pada 1949. Setelah lulus, dia melanjutkan studi ke London School of Economics di Inggris.

Namun, jarak jauh justru mendekatkan hati mereka. Usai studi, Poppy yang masih berada di London menerima lamaran Sjahrir yang tinggal di Jakarta. Mereka kemudian menikah di Kairo, Mesir pada 1951, dinikahkan oleh Rektor Universitas Al Azhar, Syekh Abdul Magud Selim.

Pernikahan ini berlangsung setelah Sjahrir dan Maria resmi berpisah pada 1947. Perpisahan keduanya berlangsung di New Delhi, India, dan disaksikan oleh Perdana Menteri India saat itu, Jawaharlal Nehru.

Dari pernikahan dengan Poppy, Sjahrir dikaruniai 2 anak, Kriya Arsyah dan Siti Rabyah Parvati . Hingga akhir hidup Sjahrir, Poppy selalu setia mendampinginya. Termasuk di detik-detik akhir hidup Sjahrir saat dia menjadi tawanan politik dan menjalani perawatan di Zurich, Swiss.

Sutan Sjarir meninggal pada 9 April 1966 setelah menderita stroke. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Setelah Sjahrir meninggal, Poppy membuat cetakan muka Sjahrir dan selalu menyimpannya di sebuah kotak perhiasan.

Poppy selalu melihat cetakan wajah Sutan Sjahrir dari waktu ke waktu sambil menangis. Kesedihan mendalam atas kepergian suaminya tidak hanya terlihat dari kebiasaan itu, Poppy juga tidak pernah memakai perhiasan dan merias wajahnya sampai akhir hayatnya.

(red/iti/mi/anik/SUH)

loading...

Comments

comments!