Eks Pemain Inter Hakan Sukur Buron, Dituding Dukung Kudeta

214

redaksi.co.id – Eks Pemain Inter Hakan Sukur Buron, Dituding Dukung Kudeta

Pengadilan Turki memerintah penyitaan properti dan harta yang dimiliki oleh mantan pemain Inter Milan, Hakan Sukur, dan ayahnya senilai 200 juta Lira Turki (Rp 887 miliar) setelah mengidentifikasi mereka memberikan dukungan keuangan untuk Organisasi Teroris Fethullahist (Feto), pimpinan Fethullah Gulen yang berbasis di Amerika Serikat (AS).

Keputusan pengadilan di Sakarya datang sehari setelah dikeluarkannya surat perintah penagkapanm terhadap Hakan Sukur dan ayahnya Selmet Sukur karena diduga memiliki hubungan dengan Feto. Hakan Sukur pernah memperkuat Inter Milan (2000-2001), Parma (2002), Blackburn (2003-2003), dan Galatasaray sampai pensiun pada 2008.

Hakan Sukur kini menjadi buronan negara karena dilaporkan telah melarikan diri ke Amerika Serikat, sementara ayahnya Selmet Sukur telah ditahan setelah tertangkap di sebuah masjid di provinsi Adapazari pada Jumat, 12 Agustus 2016. Pengadilan Sakarya memutuskan untuk menangkap keduanya dan menyita propertinya setelah mengklaim menemukan bahwa ayah dan anak itu telah memberikan dukungan keuangan untuk Feto, yang dituduh bersalah mendalangi kudeta gagal pada 15 Juli 2016.

Sebelumnya pada Kamis, 11 Agustus 2016, pengadilan mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap mantan penyerang sepak bola tim nasional Turki tersebut. Sukur diduga menjadi anggota kelompok teroris bersenjata yang mengacu kepada dalang utama yang dicurigai yaitu Fethullah Gulen yang berbasis di Amerika Serikat (AS). “Sukur sedang diselidiki untuk dugaan keterlibatannya dengan “kelompok teror bersenjata,” menurut kantor berita yang dikelola negara Turki Anadolu, seperti yang dilansir Express pada 12 Agustus 2016.

Sukur yang menjadi politisi selepas pensiun dari lapangan hijau, sering dikaitkan dengan masalah politik di negaranya. Awal tahun ini Sukur juga didakwa dengan menghina presiden Recep Tayyip Erdogan di Twitter. Dia dituduh mengunggah konten yang dianggap menghina Erdogan dan anaknya, jika dinyatakan bersalah dia bisa dihukum empat tahun penjara, namun aduan itu akhirnya ditolak oleh jaksa. Hampir 300 orang tewas pada kudeta pada 15 Juli 2016, ketika faksi Angkatan Bersenjata Turki berusaha mengendalikan Ankara dan Istanbul.

Kudeta itu akhirnya digagalkan ketika polisi yang mendukung Erdogan bergabung dengan warga yang kemudian bisa mengendalikan agresi militer tersebut. Sejak itu, Erdogan melakukan pembersihan pada 2.745 hakim dan 67.000 pegawai negeri lainnya, selain juga menutup 15 universitas, 1.043 sekolah swasta, 1.229 yayasan amal, dan lebih dari 100 organisasi media.

(red/urista/urnamasari/NP)

loading...

Comments

comments!