Peranan Australia dan Pengakuan Kemerdekaan RI

71

redaksi.co.id – Peranan Australia dan Pengakuan Kemerdekaan RI

Wilayah Hindia Belanda, yang dikenal warga Australia saat itu dengan sebutan Netherlands East Indies memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Australia barulah mengenal sebutan Negara Indonesia dan segera menyusun langkah-langkah baru untuk mengakui kedaulatan negara tetangga terdekatnya.

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia oleh Soekarno-Hatta langsung menarik perhatian dunia. Peristiwa tersebut menjadi bentuk pernyataan perlawanan untuk merdeka yang pertama kalinya dari negara koloni.

Australia, yang pada saat itu bersekutu dengan Belanda, terpaksa membuat kebijakan baru soal hubungannya dengan Indonesia. Terlebih saat itu Australia hanya mengutamakan hubungan politik dan ekonomi dengan Inggris.

Sejarah mencatat Belanda telah berulang kali mencoba melakukan agresi militer untuk merebut kembali kekuasaannya di Indonesia. Beberapa tokoh nasionalis, termasuk yang sedang berada di Australia, mencoba melobi pemerintah Australia.

Untuk menunjukkan solidaritas, 4.000 warga pekerja kelautan bekerja sama dengan pelaut Indonesia melakukan pemogokan dan menolak melakukan bongkar muat kapal-kapal Belanda yang membawa persenjataan milik Belanda.

Di 1945, Sutan Sjahrir pernah memberikan pidato yang disampaikannya bagi warga Australia. Sjahrir menyatakan Australia sebagai teman, dengan merujuk pada pengalaman kedua negara dalam perang Pasifik melawan Jepang. Ia juga mengakui kesuksesan Australia dengan membuat pasukan Jepang mundur.

Dalam pidatonya juga, Sjahrir berjanji Indonesia yang merdeka akan membantu membela kemerdekaan Australia di masa depan. Inilah, yang menurut saksi sejarah Joe Isaac sebagai tonggak awal hubungan antara Indonesia dan Australia.

Profesor Joe Isaac pernah menjadi asisten pribadi William Macmahon Ball, seorang dosen senior ilmu politik di Universitas of Melbourne. Pascaproklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Macmahon Ball dipercaya memimpin delegasi Australia ke Indonesia.

Joe yang saat itu asisten dosen di jurusan ekonomi di Universitas of Melbourne terpilih mendampingi Macmahon Bell karena memiliki pengetahuan soal bahasa Belanda, Indonesia. Joe juga pernah menulis hubungan perdagangan Australia dan Hindia Belanda untuk tesisnya.

“Delegasi Australia bertemu Soekarno dan kabinetnya, khususnya [Sutan] Sjahrir, perdana menteri saat itu, menjadi awal penting dalam hubungan diplomatik kedua negara,” kata Profesor Joe.

(red/usland/argarito/RM)

loading...

Comments

comments!