Kisah Malam Pertemuan Rahasia Lahirkan ISIS

redaksi.co.id - Kisah Malam Pertemuan Rahasia Lahirkan ISIS Sebuah mobil berwarna merah marun berhenti di sebuah rumah yang dijadikan markas organisasi garis keras di Suriah. Di...

41 0

redaksi.co.id – Kisah Malam Pertemuan Rahasia Lahirkan ISIS

Sebuah mobil berwarna merah marun berhenti di sebuah rumah yang dijadikan markas organisasi garis keras di Suriah. Di dalam kendaraan itu, terdapat empat pria, seluruhnya –kecuali sopir– membawa senjata otomatis. Salah satu di antara mereka memiliki janggut panjang dan balaclava hitam di kepalanya.

Dan ketika kendaraan itu masuk ke rumah itu, melewati 2 penjaga bersenjata, seorang komandan berbisik:

“Kamu baru saja melihat Abu Bakr Al-Baghdadi.”

Mobil dengan pria bersenjata di kota Kafr Hamra pada April 2013 adalah pemandangan biasa, menjelang detik-detik terbentuknya kelompok teroris global baru, yang kelak akan merongrong dunia.

Salah satu saksi mata terbentuknya kelompok garis keras itu adalah salah seorang mantan eks tentara militan yang menyebut namanya Abu Ahmad. Demikian dilansir Liputan6.com dari News.com.au, Kamis (18/8/2016).

Al-Baghdadi kini adalah pemimpin ISIS. Ia menjadi pria paling dicari di seluruh dunia. Namun, ia begitu gesit, seluruh percobaan penangkapan termasuk dengan serangan militer darat dan udara gagal untuk mendapatkannya.

Ia juga adalah tokoh yang meminta ISIS untuk pergi ke negara-negara Barat dan membentuk afiliasi di Eropa. Pada 2015, ia menculik aktivis kemanusiaan dari AS, Kayla Mueller untuk dijadikan istri dan berulangkali memperkosanya. Mueller dilaporkan tewas dibunuh.

MurutAbu Ahmad, pada tahun 2013, Al-Baghdadi pernah jadi salah satu petinggi Al Qaeda selama 3 tahun. Ia juga dilaporkan sebagai penggagas Garda Nusra di Suriah.

Namun, ia memiliki ambisi lebih besar lainnya yaitu mengombinasikan Al-Qaeda di Irak dan Suriah.

Saat Abu Ahmad melihat al-Baghdadi, eks militan itu mulai memperhatikan apa yang terjadi di markas Majlis Shura al-Mujahidin (MSM) di utara Suriah.

Setiap pagi, Al-Baghdadidan wakilnya, Haji Bakr, selalu tiba di markas itu dengan mobil yang sama. Mereka meninggalkan lokasi sebelum matahari terbenam.

Abu Ahmad yang sempat masuk ke dalam, mengaku kepada Foreign Policy kalau pertemuan itu diisi oleh para petinggi militan.

Mereka duduk di matras dan bantal di lantai. Juga menikmat hidangan seperti ayam panggang disertai dengan kentang goreng dan soft drink.

Ada ketua MSM Abu al-Atheer, Komandan Jihadi Abu Mesaab al-Masri, senior militan Chenchen, Omar al Shishani dari Georgia, senior militan Libya dan 2 ketua intel dari Nusra.

Pemimpin ‘karismatik’ Al-Baghdadi tengah dalam misi untuk mengajak para petinggi itu mengikuti rencananya.

Pengkhianatan Dimulai

Pada 8 April 2013, Al-Baghdadi ingin mengakhiri Nusra dan ISI. Keduanya harus melebur jadi satu menjadi ISIS. Namun, para emir itu merayu Al-Baghdadi agar bersumpah kepada Ayman al-Zawahiri, pengganti Osama bin Laden.

Al-Baghdadi mau bersumpah, selama ia menjadi wakil al-Zawahiri.

Kepada para emir ia meminta agar para tentaranya tampil ke muka umum. Berani menunjukkan mukanya. Saat para ketua militan itu menjadikan mereka target, al-Baghdadi bersikukuh kalau militan butuh pembatas, institusi, dan struktur untuk menarik minat dari seluruh dunia.

Para emir itu akhirnya diyakinkan, kalau al-Baghdadi akan mendukung Al Qaeda dan Nusra.

Atas permuntaan Al-Baghdadi, mereka memberikannya tentara asing. Namun, ternyata digunakan untuk kepentingan dirinya saja.

Pemimpin Garda Nusra, Abu Muhammad al-Jolani melihat gelagat tidak baik dari situ. Ia khawatir pendukungnya berbalik arah mendukung al-Baghdadi

al-Jolani meminta para militannya untuk tidak menandatangani dukungan sampai al-Zawahiri memutuskan siapa yang harus memimpin jihad di Suriah. Namun kebanyakan tak mendengarnya, ribuan tentara Nusra bergabung ke al-Baghdadi.

Al-Zawahiri mengeluarkan pernyataan ISIS harus dihancurkan, dan dan al-Baghdadi membatasi kegiatan kelompoknya di Irak saja. Tapi sudah terlambat.

Prajurit baru al-Baghdadi memerintahkan beberapa sisa loyalis Nusra keluar dari markas mereka di Aleppo dan menyita bangunan lain serta senjata di seluruh Suriah utara.

Itu adalah perpecahan dramatis dalam jajaran pemberontak anti-pemerintah, al-Baghdadi menggembar-gemborkan penurunan Al Qaeda dan kebangkitan ISIS. Tahun berikutnya, ratusan militan tewas saat ISIS bentrok dengan Nusra, dan ribuan warga mengungsi.

Pada bulan Februari 2014, al-Qaeda menolak keterkaitannya denganISIS.

Pada bulan Juni, kelompok teroris baru lahir itu menyatakan kekhalifahan global, dan telah berhasil mencapai tujuannya: mendirikan ISIS.

(red/ris/ahyudianto/AW)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!