Misteri Hilangnya Pilot AS Demi Indonesia dan Emas 20 Kg

199

redaksi.co.id – Misteri Hilangnya Pilot AS Demi Indonesia dan Emas 20 Kg

Suatu hari seorang pemuda konon tiba-tiba muncul, entah dari mana asalnya. Perawakannya tinggi, rambutnya pirang, bola matanya biru. Usianya baru 26 tahun. Dengan langkah gagah ia menghampiri Presiden Sukarno.

“Namaku Bob Freeberg. Aku orang Amerika. Aku seorang pilot dan menaruh simpati pada perjuangan Anda. Bantuan apa yang dapat kuberikan?” ungkap Sukarno dalam biografi yang ditulis Cindy Adams.

Sebelumnya, pada Juni 1947, Bobby Earl Freeberg–nama lengkapnya–menerbangkan pesawat C-47 Dakota. Nyaris sendirian, ia menempuh perjalanan 14-15 jam menuju sebuah negara asing: Indonesia.

Sebuah peta navigasi besar menjadi penunjuk arah. “Di sana Pulau Jawa hanya tergambar sepanjang 10 sentimeter,” kata sahabat Bob, Petit Muharto Kartodirdjo, penerbang Angkatan Udara Republik Indonesia, seperti dikutip dari buku Shared Hopes, Separate Fears: Fifty Years of U.S.-Indonesian Relations karya Paul F Gardner.

Bob, demikian ia akrab dipanggil, adalah seorang mantan pilot Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) asal Parsons, Kansas. Ia mengajukan diri untuk melakukan penerbangan bagi Republik yang baru saja terlahir dari Bumi Pertiwi.

Bob kali pertama bertemu dengan Petit saat ia menerbangkan C-47 untuk sebuah perusahaan di Filipina, CALI.

“Ia kemudian membeli Douglas DC-3 untuk diterbangkan demi kepentingan Republik. Kami menyebut pesawat itu RI-002, sebab nomor RI-001 disiapkan untuk pesawat presiden di masa yang akan datang,” kata Petit.

Kala itu, Belanda memblokade pelabuhan dan mengawasi ketat wilayah udara. Bob, yang dikontrak Pemerintah RI, mengemudikan pesawat pada malam hari mengirimkan perbekalanmedis dari Palang Merah Amerika Serikat dan kargo lainnya.

Bob membantu menyelundupkan vanila, kina dan karet dari Indonesia ke luar negeri. Lalu dia membawa senjata, pakaian dan obat-obatan ke Tanah Air.

Ia juga banyak membantu TNI menjalankan operasi militer. Dialah pilot operasi penerjunan pertama yang dilakukan AURI pada 17 Oktober 1947 untuk menembus blokade Belanda.

Bob juga membawa perwakilan RI untuk bertemu pejabat PBB di negara lain. Pesawatnya kala itu adalah satu-satunya yang bolak-balik masuk dan keluar Indonesia.

RI-002 yang dipiloti Bob juga mengantar Sukarno berkeliling Sumatera, mengumpulkan sumbangan rakyat untuk membantu perjuangan RI. Itu perjalanan pertama sang presiden ke luar Jawa. Kala itu rakyat Aceh menyumbang 20 kg emas.

Emas itu lalu dibelikan pesawat Dakota yang diberi nama Seulawah atau gunung emas. RI-001 akhirnya tak lagi sekadar nomor registrasi. Ia jadi kapal terbang sungguhan.

Tak jelas mengapa Bob memutuskan untuk datang ke Indonesia. Ia seorang penerbang bayaran, uang adalah tujuannya.

Seperti dikutip dari situs Smithsonian, Bob berencana untuk menabung dan kembali ke Amerika Serikat. “Ia sudah bertunangan dengan seorang perawat yang ditemuinya di Manila,” kata keponakannya, Marsha Freeberg Bickham.

Namun, surat-suratnya yang ditujukan pada keluarganya, menunjukkan sisi lainnya. Bom mengaku tergerak melihat ketidakadilan yang dialami rakyat Indonesia di tangan Belanda. “Sungguh mengagumkan melihat orang-orang yang menyakini kemerdekaan, yang telah dinikmati rakyat Amerika, dan berjuang untuk meraihnya,” tulis dia.

“Ia juga menulis tentang anak-anak yang telanjang tanpa pakaian, kelaparan, dan bagaimana ketabahan rakyat Indonesia. Bob menulis tentang bagaimana masyarakat menggunakan bambu runcing dan menyerbu pasukan Belanda yang bersenjatakan senapan mesin,” kata Bickham.

Sementara, Petit mengaku tak tahu apa tujuan Bob datang ke Indonesia. “Apa pendapatnya tentang perjuangan kami, atau alasan perjuangan kami, kami tak pernah tahu dan tak pernah menanyakannya. Ia juga tak pernah mengutarakan opininya.”

Bob, kata Petit, datang ke Yogyakarta demi mendapatkan uang. “Namun, saat melakukannya, ia tak pernah mengeluh soal cuaca seburuk apa pun, berapa jumlah penumpang, atau soal berat kargo yang harus diangkut…”

“Ia makan makanan yang sama dengan kami. Ketika tak ada akomodasi, ia akan tidur di sayap RI-002, membiarkan kru dan para penumpangnya terlindung di dalam kabin.”

Penerbangan Maut

Pagi itu, 29 September 1948, pesawat kargo Douglas DC-3 lepas landas dari Yogyakarta. Ada lima awak di dalamnya, satu penumpang, perbekalan medis, dan 20 kilogram emas yang diambil dari Cikotok, Banten, untuk ditukar dengan pesawat baru di India.

Namun, mereka tak pernah kembali. Beberapa saat setelah mengudara dari Tanjung Karang, kapal terbang itu raib tak berjejak.

RI-002 hilang di siang bolong. Sesuatu yang nyaris tak masuk akal menimpa penerbang seandal Bob.

Pada 1978, sekitar 30 tahun kemudian, dua petani menemukan puing pesawat di hutan terpencil, juga bagian jasad manusia. Namun tak ada jenazah Bob. Ia hilang secara misterius.

“PBB mencarinya, demikian juga dengan Australia. Semua mencari, namun tak bisa menemukannya,” kata Bickham. “Pihak Belanda mengaku tak pernah tahu soal dia.”

Bob baru berusia 27 tahun saat ia menghilang. Ia telah bertunangan dengan seorang perawat Angkatan Laut AS yang ia temui di Filipina. Natal tahun itu sang pilot berniat pulang ke kampung halamannya.

Selama bertahun-tahun keluarganya mendengar banyak desas-desus atau rumor yang beredar soal keberadaannya.

Dua orang mengaku melihat Bob di penjara Belanda. Dan, seorang pria Inggris yang bekerja sebagai wartawan mengaku mendengar sang pilot tertangkap Belanda.

“Mereka mengontak kakek dan nenekku dan mengatakan mereka mungkin telah menemukannya. Namun tak ada bukti kalung nama (dog tag). Pilot US Navy selalu mengenakannya hingga ia meninggal dunia. Jadi, kami masih yakin, jasadnya belum ditemukan.

Bickham bertekad menemukan kebenaran. Dalam pencariannya ia menemukan sejumlah bukti, di antaranya memo Departemen Luar Negeri AS dan dari CIA yang menyebut pamannya ditangkap dan mendekam dalam penjara.

“Saya menemukan, pesawatnya ditembak jatuh pihak Belanda dan ia kemudian dibawa ke penjara. Itu yang sesungguhnya. Temuan terakhir mengungkapkan ia ada di penjara Belanda pada 1949,” kata dia seperti dikutip dari situs Parsons Sun.

Memo dari Kedubes AS di Bangkok bertanggal 13 Januari 1949 menyebut, Bob dilaporkan ditahan di penjara Tanjang(mungkin Tanjung) Pinang dekat Palembang. “Kedubes mendapat informasi bahwa subjek telah dipindah ke Penjara Glodok di Batavia,” demikian isi memo itu. “Batavia kini disebut Jakarta,” kata Bickham.

Dokumen kedua adalah data rahasia CIA bertanggal 3 Juni 1949 yang dikirim ke Departemen Luar Negeri, US Navy, Angkatan Udara, NSRB, dan FBI.

“Di dalamnya disebutkan, di Borneo (lokasi pasti tak disebutkan) Belanda memiliki kamp konsentrasi besar, yang di dalamnya ada sejumlah tahanan dari Eropa, dari kewarganegaraan berbeda dan Amerika…,” kata Bickham.

“Di antara mereka adalah Bobby Freeberg, pilot AS yang terbang untuk Republik Indonesia dan menghilang pada musim gugur 1948.”

Namun, Bickham menjelaskan, bahkan setelah 60 tahun, dokumen itu masih bercap “rahasia”.

Sejumlah pencarian rahasia dilakukan atas pesawat yang dipiloti Bob. Hanya ada peralatan medis yang ada di dalamnya. Emas 20 kg yang konon diangkut tak berjejak.

Bickham selalu penasaran dengan insiden hilangnya sang paman yang misterius. Namun, baru 2009 ia memutuskan mencari.

Bobby Freeberg diakui sebagai orang Amerika yang membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. “Ia adalah pahlawan,” kata Tamalia Alisjahbana, Direktur Gedung Arsip Nasional.

Ayah Bickham, Paul telah meninggal dunia, tanpa mengetahui nasib sang kakak.

Sebelum Paul meninggal dunia pada Januari 2009, ia mewariskan sekitar 200 surat Bobby Freeberg dan meminta anak perempuannya itu untuk mencari tahu keberadaan sang pilot.

Sementara, tunangan Bob, perawat Angkatan Laut asal Deposit, New York tutup usia pada 2009 lalu. Perempuan itu tak pernah menikah seumur hidupnya. “Ia menanyakan soal Bobby di ranjang kematiannya,” kata Bickham.

(red/ngga/eksa/AR)

loading...

Comments

comments!