Tips Hindari Punya Banyak Utang Tapi Gaya

100

redaksi.co.id – Tips Hindari Punya Banyak Utang Tapi Gaya

Pada zaman teknologi informasi seperti ini, hidup kita bisa lebih gampang dijalani. Tapi, bisa juga malah jadi amburadul.

Tiap hari, media koran, Internet, dan terutama televisi membombardir kita dengan beragam informasi. Kita menjadi seperti didikte, harus begini harus begitu.

Orang sukses harus punya mobil mewah, bajunya karya perancang terkenal, hangout di kafe kelas atas. Padahal, informasi itu masih bisa diperdebatkan.

Masak sih, semua orang sukses dan kaya harus berpenampilan kayak gitu? Gak usah jauh-jauh deh. Lihat Presiden Joko Widodo. Dia terkenal sederhana, padahal kaya raya.

Begitu juga Bob Sadino. Pengusaha itu gemar memakai celana pendek ke mana-mana. Gak usah pakai jas dan celana bahan perlente.

[Baca: Simak Dulu 7 Cara Hidup Sederhana Ala Warren Buffet Nih]

Di sisi lain, ada yang beranggapan bahwa orang kaya harus punya gaya hidup kaya juga. Seperti yang sering ditampilkan di media-media.

Siapa yang gak mau punya mobil mewah dan pesawat pribadi, ajiiib!

Mereka yang memang terlahir kaya sih gak bakalan kepayahan mengikuti gaya hidup ala borju. Gimana jika hanya sok kaya?

Gaya elite mereka didapat dari hal yang mendatangkan musibah. Ada yang rela gak sarapan, makan siang, dan jajan hanya untuk bisa makan malam di resto bintang lima malamnya.

Bahkan, yang lebih parah, banyak utang tapi gaya. Gaya yang mereka tampilkan adalah hasil utang.

Memang, pada dasarnya utang bukanlah sesuatu yang buruk. Mana ada sih negara di dunia ini yang gak punya utang? Amerika saja punya.

Tapi, keputusan berutang memerlukan pertimbangan yang masak. Bukan asal utang sana-sini lalu akhirnya tertimbun beban yang telanjur menumpuk liar itu.

Utang kartu kredit, misalnya. Alat pembayaran itu dibuat untuk dimanfaatkan menurut fungsinya.

Fungsi kartu kredit bukanlah alat untuk berutang. Melainkan alat pembayaran! Tagihan yang tercatat dari transaksi kita itu bukan untuk ditunda-tunda pembayarannya, tapi dilunasi.

Gaya dari Utang

Jika kamu termasuk orang-orang yang lebih mementingkan gaya ketimbang kesehatan finansial, belum telat untuk berubah. Bagaimanapun, kesehatan finansial adalah fondasi dari segalanya.

Kalau finansial kuat, otomatis kebutuhan untuk menunjukkan kemakmuran akan lebih gampang dipenuhi. Mau ngafe ke Starbucks, gak perlu puasa makan tiga hari tiga malam.

Tinggal ambil dana untuk hangout itu dari bujet bulanan. Keberadaan bujet alias rencana anggaran adalah salah satu pembeda antara mereka yang banyak utang tapi gaya dan banyak uang tapi biasa saja.

Bujet menjadi patokan pengeluaran kita tiap hari, juga tiap bulan. Kalau gak ada bujet, tanpa disadari bisa besar pasak daripada tiang alias pengeluaran melebihi pemasukan.

Dalam kondisi ini, mau bergaya sekeren apa pun gak akan ada artinya. Sebab, gaya itu berdiri di atas kepalsuan, di atas fondasi keuangan yang rentan ambrol.

Berikut ini tips untuk refleksi diri terkait dengan gaya hidup:

1. Baju mahal belum tentu pas dipakai. Pakaian adalah soal kenyamanan dan kepercayaan diri. Gak peduli mereknya apa, jika pakaian itu nyaman dan kita percaya diri memakainya, pakai saja.

2. Makanan mahal pasti sehat? Belum tentu. Bahkan masakan rumahan jauh lebih menyehatkan ketimbang makanan cepat saji ala Amerika. Dan yang juga penting, lebih murah.

3. Pelit dan ngirit itu beda. Jika kita rela gak makan seharian hanya untuk bisa gaul di diskotik, itu namanya pelit ke diri sendiri. Puasa yang terpaksa itu tentunya bakal bikin kondisi tubuh terganggu, sakit, dan akhirnya keluar duit.

Sekeren apa pun penampilan luar, bakal lebih keren kalau yang menopang bukanlah hasil utang. Apakah kamu salah satu penganut paham banyak utang tapi gaya? Semoga bukan.

(red/atno/wi/anto/RDS)

loading...

Comments

comments!