Terungkap, Misteri Cermin dan Optik di Lukisan Rembrandt

84

redaksi.co.id – Terungkap, Misteri Cermin dan Optik di Lukisan Rembrandt

Misteri cara melukis Rembrandt Harmenszoon van Rijn terungkap. Adalah Francis O’Neill, seniman dan pengajar seni rupa asal Oxford, dan Sofia Palazzo Corner, fisikawan independen asal London, yang berhasil mengidentifikasi teknik melukis Rembrandt.

Menurut mereka, pelukis asal Belanda itu menggunakan cermin datar dan melengkung serta lensa untuk menciptakan perspektif, proporsi, dan pencahayaan yang pas dalam tiap lukisan potretnya. Hampir semua perspektif bayangan dan pencahayaan dalam lukisan Rembrandt sama. Itu karena Rembrandt memakai lensa dan cermin saat melukis, ucap O’Neill dan Palazzo, seperti yang tertulis dalam Journal of Optics edisi Juli 2016.

Temuan mereka terinspirasi oleh teori yang pada 2001 dicetuskan seniman asal Inggris, David Hockney, dan fisikawan Amerika Serikat, Charles Falco. Keduanya menyatakan Rembrandt dan perupa sezamannya menggunakan instrumen optik dalam melukis. Tujuan penggunaan instrumen tersebut, kata O’Neill seperti dikutip dari Live Science , adalah menciptakan rincian dan proporsi dengan akurasi tinggi. Teknik ini mirip cara kerja camera obscura, yang memproyeksikan gambar terbalik ke sebuah kotak gelap.

O’Neill sempat menguji teknik tersebut dengan menggunakan cermin sebagai pengganti camera obscura. Ia sulit melukis wajahnya secara akurat karena perhatiannya terbagi antara refleksi wajahnya di cermin dan karyanya di kanvas. Saya sudah melukis selama 20 tahun, dan teknik ini ternyata sangat sulit. Lantas, saya jadi berpikir, bagaimana Rembrandt melakukannya? kata O’Neill. Itulah mengapa dia juga memakai cara kerja optik.

Setelah mengumpulkan berbagai macam teknik melukis perupa lain sezaman Rembrandt, O’Neill dan Palazzo bereksperimen dengan sepasang cermin kosmetik yang dibeli di apotek. Satu cermin datar dan satu cermin cekung. Mereka mengatur kedua cermin untuk mentransfer refleksi bayangan obyek ke permukaan logam datar, sehingga gambar yang diproyeksikan akan mendapat penerangan yang cukup.

Mulanya, O’Neill dan Palazzo menggunakan kertas aluminium foil sebagai permukaan proyeksi obyek. Namun itu ternyata bukan permukaan yang terbaik, meski bisa menangkap proyeksi. Kemudian mereka menggantinya dengan piringan tembaga. Dari situ kami bisa membuat proyeksi yang lebih jelas, Palazzo menambahkan. Dalam jurnal, Palazzo dan O’Neill juga menjelaskan transfer obyek melalui cermin hingga ke permukaan proyeksi.

Cara ini, menurut mereka, membuat ukuran proyeksi obyek sama dengan aslinya. Cara tersebut juga membuat Rembrandt dapat melukis garis mata secara akurat. Meski begitu, beberapa sejarawan seni mengkritik penelitian mereka karena tak ada catatan sejarah bahwa Rembrandt menggunakan cermin atau alat optik lainnya untuk membantunya melukis.

Namun, menurut O’Neill, seniman pada saat itu memang tertutup dalam soal teknik melukis mereka. Kami pun menemukan teknik ini berdasarkan pemeriksaan lukisan, bukan bukti-bukti sejarah, ujarnya. Pendapatnya didukung oleh tulisan Hockney, Falco, dan peneliti lainnya yang menunjukkan bahwa pengetahuan tentang teknik optik, seperti penggunaan cermin lengkung dan camera obscura, memang terkenal di kalangan seniman Eropa pada 1350 hingga zaman Rembrandt.

Bahkan, teknik ini memberikan dampak yang amat mendalam terhadap seni di dunia Barat. Ini jelas membuktikan bahwa penemuan lensa memberikan umat manusia kemungkinan melihat posisi mereka di dunia, ujar O’Neill. Sebab, sejak saat itu, manusia bisa melihat bintang-bintang, astronomi mulai maju. Manusia mulai melihat melalui mikroskop dan mengamati hal terkecil di dunia. JOURNAL OF OPTICS | LIVE SCIENCE | AMRI MAHBUB

(red/endarmono/l/idarto/HAS)

loading...

Comments

comments!