7 Hari di Suriah, Pengalaman Horor Wartawati di Zona Perang

redaksi.co.id - 7 Hari di Suriah, Pengalaman Horor Wartawati di Zona Perang Suriah, Desember tahun 2012. Abu-abu dan dingin. Saat itu Janine Di Giovanni dan rekan-rekannya...

29 0

redaksi.co.id – 7 Hari di Suriah, Pengalaman Horor Wartawati di Zona Perang

Suriah, Desember tahun 2012. Abu-abu dan dingin. Saat itu Janine Di Giovanni dan rekan-rekannya tiba di Aleppo. Mereka tinggal di rumah seorang mahasiswa. Suatu malam, sang tuan rumah kembali dengan wajah berduka. Ternyata, salah satu temannya telah tewas di garis depan.

“Sepanjang malam, setelah kami mematikan generator yang menghidupkan listrik di apartemen kecil itu, aku dapat mendengar tangisannya. Tak jelas apakah ia menangisi sahabatnya atau seluruh negerinya,” tutur Janine dalam kesaksiannya seperti Liputan6.com kutip dari Newsweek, Selasa (23/8/2016). Beberapa minggu kemudian, sang mahasiswa pun terbunuh.

Pagi harinya, Janine dan rombongan berangkat menuju jalan-jalan di Aleppo. Udara terasa dingin dan kelam. Dan yang pertama ia lihat adalah seorang lelaki tua yang terkubur hingga pinggang di dalam lautan sampah. Ia sedang mencari makanan.

“Tiap kali kami melewati tempat itu selama seminggu ke depan, ia selalu di sana, di lokasi yang sama, menggali tumpukan sampah agar dapat bertahan hidup,” ujar Janine.

Namun, hal yang paling perempuan itu ingat dari hari-hari di Suriah adalah melihat seorang bayi yang meninggal di Al-Quds Hospital.

“Bayi itu tidak tewas karena luka peluru atau pecahan bom, melainkan karena penyakit pernapasan biasa yang sebenarnya dapat ditangani dengan mudah di rumah sakit mana pun di dunia. Tapi bayi ini berada di Aleppo, maka ia pun tak selamat.”

Semua itu adalah gambaran yang melekat dalam pikiran Janine sejak perjalanannya ke Aleppo pada 2012 hingga 2014 bersama fotografer Nicole Tung dan sinematografer Patrick Wells untuk membuat film dokumenter 7 Days in Syria. Premis film itu, menurut sutradara Robert Rippberger dan produser Scott Rosenfelt, adalah Janine.

Janine mengungkap segalanya yang dapat dilaporkan dari zona perang di Aleppo. Ia mencatat sembari mewawancarai dan menjelajahi kota.

“Saat kami ke sana, Aleppo sudah menjadi neraka. Sekarang, situasinya bertambah parah,” kata Janine.

Mereka memulai tugas pada bulan Desember 2012. Aleppo dingin membeku, kelaparan, serta tercabik-cabik. Empat tahun kemudian, Aleppo diduduki dan pelan-pelan mati kelaparan.

Kebanyakan orang yang pernah mereka wawancarai telah tewas atau mengungsi. Al-Quds Hospital, yang mereka filmkan, telah dibom pada akhir April lalu dan dokter anak terakhir di Aleppo juga telah terbunuh.

Film mereka berjudul 7 Days in Syria, namun diperlukan lebih dari seminggu untuk membuatnya. Janine ingin menampilkan tiap hari sebagai perjuangan kehidupan keseharian di Suriah, dengan menampilkan warga biasa dan suara manusia kebanyakan.

Janine dan tim memilih untuk memfilmkan seorang dokter, seorang tukang roti, seorang pejuang, dan seorang wartawan.

Meskipun Janine pernah membuat dua film dokumenter berformat panjang untuk BBC tentang Bosnia dan perang antar geng di Jamaika, tantangan bekerja di Aleppo dengan kamera adalah sesuatu yang baru dan monumental bagi wartawan cetak seperti dirinya.

Janine adalah seorang penulis dan terbiasa membaur dengan para narasumbernya. Namun, kamera yang disandangnya membuat orang menjadi curiga dan membisu. Mereka tak mau bicara. Bagi kebanyakan orang yang mereka temui, tampil dalam video akan membawa risiko yang besar bagi mereka, utamanya saat menunjukkan apa yang terjadi pada kota dan negaranya.

“Aku beruntung ada Paddy dan Nicole. Mereka berdua sangat mengerti Aleppo dan sangat bersemangat ikut menjadi saksi kesengsaraan rakyat,” tutur Janine.

Sementara itu, Nicole punya alasan lain untuk pergi ke Suriah. Ia punya misi pribadi, yaitu mencari informasi tentang teman dekatnya James’Jim’Foley.

Saat mereka mulai membuat film, Jim telah diculik beberapa minggu sebelumnya. Menurut Nicole, jejaknya masih segar. Seringkali, setelah mereka menyelesaikan pengambilan gambar dan mendengar suara tembakan dan bom di jalan, ia akan pergi menjumpai orang yang mungkin memiliki informasi tentang di mana Jim terakhir terlihat.

“Saat itu, Nicole sangat bersikeras bahwa Jim masih hidup dan ia akan menemukannya,” Janine mengenang.

Sejak usia 20-an, saat meliput penyerangan ke Sarajevo, Janine telah bekerja di zona perang seluruh dunia. Tapi bekerja di Suriah, terutama di Aleppo, merupakan hal yang amat berbeda.

Perbedaan utamanya adalah, di Bosnia ia dapat muncul di garis depan dan mengambil kesempatan. Baik terluka atau tewas, keduanya merupakan takdir, tergantung seberapa dekat peluru roket atau bazoka mendarat, atau bisa juga karena ditembak oleh penembak jitu.

Janine tak dapat menghitung berapa kali ia terjebak dalam hujaman peluru di garis depan Bosnia. Namun ketakutan akan diculik tak pernah terlintas di benaknya.

“Perang di Suriah jauh lebih mengerikan. Hujan peluru tak ada artinya jika dibandingkan dengan bayangan penculikan dan pemenggalan…,” tutur Janine.

Di Aleppo, mereka semua terus memikirkan Jim Foley. Beberapa hari setelah memulai perjalanan, Janine berjumpa seorang wartawan muda yang cerdas bernama Steve Sotloff.

Ia berasal dari Miami, menguasai bahasa Arab, dan pernah berkuliah di Yaman. Ia juga pernah tinggal di Libya dan bersemangat membangun karier sebagai pakar Timur Tengah.

Mereka menjadi dekat dan sering bertukar kabar. Pada Agustus 2013, Steve diculik di dekat Aleppo, dan seperti halnya Jim, ia dipenggal oleh para teroris pada tahun 2014.

Kejahatan mereka? Mereka hanya wartawan yang sedang melakukan pekerjaan mereka. Mereka sedang mencoba menuliskan kisah mereka, dan tewas karenanya.

Setelah terbunuhnya mereka, Janine mulai berpikir untuk melakukan pekerjaan lain. Namun ia berkomitmen pada pekerjaannya, meski tingkat risiko yang ia ambil sekarang amat jauh berbeda dari yang ia ambil saat perang di Somalia, Chechnya, Afghanistan, atau Irak, dan ia tak ingin terbunuh.

Baru-baru ini ayah Steve menghubungi Janine dan bertanya apakah ada hal lain yang dapat ia ingat tentang putranya, selain yang ia tulis dalam bukunya, The Morning They Came for Us: Dispatches from Syria.

“Bagiku, pertanyaan itu sangat menyedihkan, bagaimana jika itu aku yang merindukan putraku sendiri sampai meminta rekannyauntuk mengingat apa yang pernah anakku ucapkan, dan lakukan?” kata Janine.

Wartawan perang itu tersentak setiap kali melihat Diane Foley, ibu Jim, atau keluarga Sotloff, dengan harga diri dan keberanian yang mereka miliki setelah menjalani hal terburuk di dunia.

Jim dan Steve sempat turut difilmkan. Janine menontonnya berulang kali, sambil bertanya-tanya, seperti yang sering ia lakukan saat rekan-rekannya tewas dalam pertempuran: “Apakah mereka telah mengetahuinya, atau mendapat firasat, akan apa yang akan terjadi? Kemungkinan besar tidak, atau mereka tidak akan mampu untuk bangkit, mengenakan sepatu mereka, dan pergi bertugas.”

Suriah kini telah berperang selama enam tahun dan proses perdamaian masih tertunda. Aleppo terus dihujani bom dan gas. Jika perang tak kunjung usai, Janine khawatir kota yang tadinya merupakan kota Jalur Sutera kuno dan tempat yang sangat baik untuk keberagaman akan lenyap untuk selamanya.

“Semua orang yang tampil dalam video kami ingin menyampaikan bahwa mereka pun manusia. Kehidupan mereka tak jauh berbeda dari kita, misalnya belajar, bekerja, berkeluarga, memiliki hewan peliharaan, kesukaan, rumah. Film ini merupakan saksi bagi orang-orang biasa ini,” ujar Janine.

(red/ochman/rief/RA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!