Wacana Harga Rp 50 Ribu, Harga Saham Rokok Berguguran

redaksi.co.id - Wacana Harga Rp 50 Ribu, Harga Saham Rokok Berguguran Beberapa emiten rokok di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan hari ini mencatatkan harga saham di...

24 0

redaksi.co.id – Wacana Harga Rp 50 Ribu, Harga Saham Rokok Berguguran

Beberapa emiten rokok di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan hari ini mencatatkan harga saham di zona merah. Berdasarkan pantauan Tempo di Bursa Efek Indonesia pada pukul 10.50 WIB, tiga emiten rokok mengalami penurunan harga saham. Saham PT HM Sampoerna Tbk, misalnya. Emiten dengan kode saham HMSP ini mengalami penurunan harga sebesar 20 poin atau 0,5 persen di level Rp 4.000, dari pembukaan perdagangan pukul 09.00 yang berada di level Rp 4.020 per lembar saham.

Hal yang sama terjadi pada emiten PT Gudang Garam Tbk, yang mengalami penurunan harga hingga 1,64 persen. Harga saham emiten berkode GGRM ini pada pukul 10.50 turun 700 poin ke level Rp 66.050, dari pembukaan perdagangan yang berada di level Rp 66.750 per lembar saham. Padahal di hari penutupan pada Senin, 22 Agustus kemarin, harga GGRM berada pada level Rp 67.150 per lembar saham. Adapun untuk saham PT Wismilak Inti Makmur Tbk, turun 2 poin atau 0,5 persen ke level Rp 400.

Direktur Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio menyatakan wacana kenaikan harga rokok menjadi Rp 50 ribu per bungkus turut menimbulkan persepsi pada investor untuk menjual saham rokoknya. Memang ada persepsi, waduh jangan-jangan naik nih. Bisa aja itu, katanya, di Bursa Efek Indonesia, Selasa, 23 Agustus 2016.

Meski demikian, ia lebih khawatir kenaikan harga rokok bukan bakal menurunkan angka penjualan rokok, melainkan barang substitusi dan pelengkapnya yang turun. Tadinya orang beli rokok sama permen, eh permennya yang disetop lagi. Saya belum tahu, ujar Tito. Kemarin, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menanggapi wacana tentang kenaikan harga rokok.

Pemerintah, menurut dia, tidak memiliki rencana menaikkan harga rokok menjadi Rp 50 ribu per bungkus. Ia berpendapat masih banyak cara meningkatkan penerimaan negara yang lebih baik ketimbang menempuh kebijakan ekstrim di satu pos Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

(red/hmad/yaiku/AS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!