YLKI: Rokok Layak Dikenai Cukai Tinggi

redaksi.co.id - YLKI: Rokok Layak Dikenai Cukai Tinggi Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menjawab tudingan sementara kalangan bahwa lembaga ini tidak peduli pada konsumen perokok menyusul...

36 0

redaksi.co.id – YLKI: Rokok Layak Dikenai Cukai Tinggi

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menjawab tudingan sementara kalangan bahwa lembaga ini tidak peduli pada konsumen perokok menyusul kabar akan adanya kenaikan harga jual rokok oleh Pemerintah.

Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi menegaskan, YLKI tentu sangat concern pada konsumen perokok, bahkan calon perokok.

“Tetapi ingat lho ya, bentuk kepedulian, perlindungan YLKI terhadap konsumen perokok, calon perokok tidak bisa disamakan dengan komoditas seperti makanan, minuman, obat-obatan atau bahkan sektor jasa,” tegas Tulus kepada Tribunnews.com, Selasa (23/8/2016).

Menurutnya, rokok bukan komoditi dagang yang normal. Terbukti rokok dikenai cukai sebagai ‘sin tax’ (pajak dosa) atas dampak buruk mengonsumsi rokok bagi penggunanya.

Tulus menjelaskan, rokok pantas dikenai cukai tinggi karena menimbulkan dampak negatif bagi konsumennya, bahkan bagi perokok pasif dan lingkungan.

YLKI, kata dia, berusaha melindungi perokok adalah agar tidak makin terperosok oleh dampak negatif tersebut.

Caranya, dengan mendukung penetapan harga jual tinggi terhadap produk rokok, termasuk membatasi penjualannya.

YLKI juga mendukung pemasangan peringatan kesehatan bergambar pada kemasan rokok, larang total adanya iklan rokok dan aktivitas promosinya dan penegakan kawasan tanpa rokok.

Terkait wacana harga rokok Rp 50.000 per bungkus, YLKI setuju dan bahkan mendorong, sebagai bentuk kepedulian untuk melindungi konsumen perokok dan atau non perokok.

“Terutama di kalangan masyarakat menengah bawah, anak-anak dan remaja,” jelasnya.

“Mengaitkan dampak harga rokok dengan nasib petani dan ketenagakerjaan juga kurang ada relevansinya,” tegasnya.

Justru selama ini nasib petani tembakau terpinggirkan karena adanya impor karena adanya impor tembakau.

“Produksi rokok nasional 60 persennya dipasok dengan tembakau impor,” ujarnya.

Menurutnya, hal inilah yang menyebabkan tembakau lokal milik petani tidak tersedot ke pasaran.

“Petani tembakau tidak punya bargaining apapun dengan industri,” jelasnya.

Nasib buruh industri tembakau juga sama saja menurut YLKI. Hak-haknya dilanggar oleh industri karena mayoritas masih menjadi buruh kontrak.

Industri rokok yang melakukan mekanisasi, mengganti buruh manusia dengan mesin membuat buruh rokok terpinggirkan.

“Dengan mesin lebih efisien, karena satu mesin bisa menggantikan 900 orang buruh. Jadi musuh petani dan buruh rokok itu bukan harga rokok, bukan kenaikan cukai, tetapi industri rokok sendiri,” tegasnya.

“Ingat, rokok adalah jenis komoditas barang yang dikenai cukai (bukan barang normal), yang justru harus dihindari masyarakat,” tegasnya.

(red//ur/sikin/MNA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!