Kapolda Lampung Sebulan Tidur Bersama Pembunuh

redaksi.co.id - Kapolda Lampung Sebulan Tidur Bersama Pembunuh Banyak kisah menarik dari pengalaman Kapolda Lampung, Brigjen Pol Ike Edwin, selama menjadi polisi. Ike pernah tidur berdekatan...

21 0

redaksi.co.id – Kapolda Lampung Sebulan Tidur Bersama Pembunuh

Banyak kisah menarik dari pengalaman Kapolda Lampung, Brigjen Pol Ike Edwin, selama menjadi polisi. Ike pernah tidur berdekatan dengan seorang pelaku pembunuhan selama satu bulan lamanya.

SUATU ketika, ketika masih menjabat Kasat Reksrim Polresta Depok, Ike Edwin menangani kasus pembunuhan seorang sopir taksi. Sebagai kasat reskrim, ia menjadi komandan lapangan dalam pengusutan kasus tersebut.

Ia malang melintang ke berbagai lokasi, termasuk di tempat kejadian perkara (TKP).

Tak dinyana, pelaku pembunuhan sopir taksi itu ternyata satu di antaranya adalah anggota polisi yang bertugas di kesatuan yang sama.

“Satu bulan dia bangun tidur sama kita, belakangan ketahuan kalau dia pelakunya,” kata Ike saat menceritakan kisah tersebut kepada Tribun, belum lama ini.

Ike saat ini menjabat Kapolda Lampung. Setelah menjadi Kasat Reskrim di Depok dengan penanganan kasus pembunuhan yang 100 persen berhasil diselesaikan, kariernya melesat.

Ia pernah menjadi Kapolres Tanah Bumbu di Kalsel, Wadirreskrim Polda Metro Jaya, Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kapowiltabes Surabaya, hingga Wakapolda Sulselbar.

Kembali ke cerita tentang kasus pembunuhan sopir taksi tersebut, Ike menyatakan bersyukur Tuhan masih melindungi dirinya sehingga tidak terjadi apa-apa meski selama sebulan lebih selalu bersama-sama dengan pembunuh.

“Kami pernah tidur bersama dalam satu gubuk. Dia di sudut, saya di sisi lain. Kalau dia mau jahat pada saya, selesai sudah,” kenangnya.

Mereka pernah melakukan pemeriksaan menggunakan anjing pelacak di TKP. “Tapi, anjing tersebut sama sekali tidak mengarah ke oknum polisi ini,” papar Ike.

Dia belakangan mafhum, karena si polisi tersebut adalah pelatih anjing pelacak polisi.

Ike sebenarnya heran, si polisi tersebut selalu mengikuti jalannya penyelidikan. Bahkan, dalam pembuatan Berita Acara Pemeriksaan (BAP), ia selalu ikut campur dan membuat perubahan-perubahan, yang belakangan diketahui untuk menyelamatkan diri.

Oknum tersebut malah mengatur arah penyelidikan, termasuk mengarahkan ke sosok preman sebagai pelaku. Sampai-sampai, Ike menangkap si preman dan memasukkannya dalam karung.

Ada cerita menarik terkait preman yang ditangkap namun belakangan diketahui bukan pelaku, melainkan hanya penunjukan dari si oknum polisi tadi.

Saat dibawa ke kantor, Ike menempatkan karung yang berisi preman itu di bawah kakinya. Namun, hebatnya, preman itu berhasil meloloskan diri.

Bagaimana bisa? Rupanya, preman itu punya ilmu. Untuk bisa melepaskan diri, harus ada air. Nah, dia menggunakan air ludahnya.

Dua-tiga jam memuntahkan ludah, dia menjadi licin dan dengan mudah lolos dari karung, sementara para polisi yang ada di ruangan itu tertidur pulas.

Ike mendatangi orang ahli untuk mengetahui apa yang terjadi. Di situlah ia diberitahu, preman itu punya ilmu belut. Asal ketemu air, lolos. Borgol tidak berguna lagi.

Kasus pembunuhan sipor taksi tersebut cukup lama baru dituntaskan, hingga mencapai 40 hari. Pimpinan hingga anak buah Ike sudah hampir menyerah karena sekian lama belum ada indikasi yang mengarahkan ke tersangka.

Tapi, Ike tidak mau mundur. Ia selalu optimistis bisa menyelesaikan kasus tersebut.

Bagaimanapun caranya. Ia yakin, kalau hingga demikian lama penyidik belum menemukan petunjuk, maka Tuhan yang akan memberikan petunjuk.

Lewat tengah malam, sekitar pukul 02.00 dini hari, Ike mendatangi TKP sendirian. Di situ ia merenung dan mencari jawaban. Lalu, ia curhat dan berdoa kepada Tuhan.

Ia mengatakan, kasus tersebut sangat sulit. Berat untuk mengungkapnya. Tapi, yang Mahatahu adalah Tuhan.

“Beri kami petunjuk-Mu. Atas kehendak-Mu, beri kami kekuatan untuk menyelesaikan kasus ini,” begitu dia berdoa.

Selama dua jam dia berada di TKP, di sekitar semak-semak yang menjadi lokasi penemuan mayat sopir taksi. Setelah kembali ke Mapolresta, ia mendapat kabar, pelakunya sudah ditangkap di Jakarta Utara.

Dari situ kemudian terungkap, si oknum polisi tersebut juga merupakan komplotan pembunuh sopir taksi.

Mereka bersama- sama mencegat taksi dan mengambil uang setoran, lalu membunuh sang sopir. Mayatnya dibuang ke semak-semak.

Ike mengingatkan, dalam setiap kejadian apapun, jangan sampai melupakan Tuhan.

Aparat kepolisian dalam upaya mengungkap kasus harus selalu berdoa kepada-Nya, minta diberi kekuatan, kesabaran, dan petunjuk.

“Dengan prinsip itu, semua kasus pembunuhan yang saya tangani, terungkap semua. Syukur saya panjatkan kepada Tuhan,” katanya.

(red/andhi/urhartanto/SN)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!