Kitab Kematian dan Kehidupan Seks 'Tak Wajar' pada Era Mesir Kuno

redaksi.co.id - Kitab Kematian dan Kehidupan Seks 'Tak Wajar' pada Era Mesir Kuno Urusan dan praktik-praktik seksual cukup sulit ditebak dari catatan-catatan arkeologis. Tidak seperti jenis...

46 0

redaksi.co.id – Kitab Kematian dan Kehidupan Seks 'Tak Wajar' pada Era Mesir Kuno

Urusan dan praktik-praktik seksual cukup sulit ditebak dari catatan-catatan arkeologis. Tidak seperti jenis pangan atau penyakit, praktik seksual tidak meninggalkan bekas pada jasad manusia.

Bukan hanya itu, benda-benda yang dipakai saat melakukan tindakan seksualbiasanya tidak disertakan dalam catatan-catatan arkeologis, seandainya memang ada.

Lagipula, dalam banyak masyarakat kuno, urusan seks jarang ditampilkan peninggalan budaya. Ketika ada tampilan seks, pemahamannya dilakukan oleh pengamat masa kini.

Dikutip dari Ancient Origins pada Kamis (25/8/2016), untuk mengerti alasan suatu masyarakat menampilkan gambar-gambar seksual, orang perlu mengandalkan sumber-sumber tertulis.

Tapi, sumber-sumber tertulis seringkali tidak menggambarkan masyarakat secara keseluruhan, melainkan merupakan pandangan satu kelompok saja.

Pengertian seks dalam masyarakat kuno lebih rumit lagi ketika berurusan dengan praktik-praktik yang melibatkan tindakan seksual bukan antara pria (hidup) dengan wanita (hidup). Misalnya, seks dengan mayat, hewan, atau homoseksualitas.

Menurut kebanyakan sumber yang ada tentang homoseksualitas, dalam masyarakat Mesir Kuno, hubungan heteroseksual ditengarai menjadi norma utama. Homoseksualitas dipandang dengan curiga.

Dalam Mantra 125 dalam Kitab Kematian, diceritakan tentang orang sakit yang tiba di “gerbang Dua Kebenaran”. Ada tertulis demikian, “Saya tidak melakukan sesuatu yang salah secara seksual, karena saya tidak melakukan praktik homoseksualitas.”

Dengan demikian, berdasarkan kutipan tersebut, homoseksualitas ditengarai menjadi sesuatu yang terlarang.

Walaupun homoseksualitas dipandang rendah pada masa itu, bukan berarti tidak ada dalam praktik. Ada beberapa sumber tertulis Mesir yang bisa ditafsirkan sebagai penggambaran hubungan homoseksual — biasanya antara dua pria, bukan dua wanita.

Salah satu sumber misalnya ada dalam mitos berjudul “Persaingan Horus dan Seth”. Ada bagiannya yang berbunyi:

Kemudian Seth mengatakan kepada Horus, “Ayolah berlibur ke tempatku.”

Horus menjawab, “Aku akan lakukan, pasti, aku akan lakukan, aku akan lakukan.”

Tak lama kemudian, pada malam hari, ranjangpun dipersiapkan bagi mereka dan keduanya berbaring. Pada malam hari, batang kelamin Seth mengeras dan dimasukkan di antara paha Horus.

Lalu Horus menaruh tangan di antara dua pahanya dan menerima cairan mani Seth.

Horus kemudian mengadu kepada Isis, ibunya, “Tolong aku, Isis, ibuku, lihatlah apa yang dilakukan Seth kepadaku.”

Ketika ia membuka tangan dan menunjukkan cairan mani Seth. Ibunya menjerit, mengambil tembaga (pisau), dan memotong tangan Seth.

Untuk mengerti mitos ini, kita harus mengingat bahwa Horus dan Seth selalu bersaing. Karena itu, walaupun Seth terlibat dengan praktik yang diduga homoseksual, tindakan Seth ditujukan untuk mendominasi Horus dan membuktikan bahwa ia lebih hebat di antara mereka berdua.

Gambaran lain yang mungkin dianggap hubungan homoseksual dapat digali dari kisah antara Raja Neferjare dan Jenderal Sasenet. Dalam kisahnya, disebutkan tentang petualangan tiap malam di rumah Jendral Sasenet:

“Kemudian, dia (seseorang yang disebut dengan Tjeti) mengamati sang paduka raja Mesir Atas dan Bawah bernama Nefer-ka-Re, keluar berjalan-jalan tanpa seorangpun bersamanya.”

“Tjeti bersembunyi tanpa kelihatan oleh sang paduka. Tjeti, putra Henet, berdiri diam sambil berpikir, ‘Jika demikian, selentingan tentang dia keluyuran di malam hari memang benar adanya.'”

“Kemudian ia tiba di rumah Jenderal Sasenet. Ia melempar batu setelah menandakkan kaki. Kemudian sebuah tangga diturunkan ke arahnya dan ia menaikinya.”

“Sementara itu, Tjeti, putra Henet, menunggu hingga sang paduka pergi. Setelah paduka selesai melakukan apa yang ingin dilakukan dengannya (sang jenderal), ia pun pergi dengan diikuti oleh Tjeti. Kemudian, setelah sang paduka tiba di Rumah Agung, barulah Tjeti pulang.”

Tulisan ini tidak secara gamblang menyebutkan tentang apa yang dilakukan sang firaun dengan jenderalnya, walaupun penggalan kata “melakukan apa yang ingin dilakukan dengannya” ditengarai sebagai cara tak langsung untuk mengatakan “hubungan seksual”.

Jika sang firaun memang terlibat dalam hubungan homoseksual dengan jenderalnya, maka hal ini menambah pandangan negatif Mesir Kuno terhadap praktik seksual ini.

Perlu diketahui bahwa kisah tersebut hanya ada dalam pecahan-pecahan cerita, sehingga kita tidak mengetahui akhirnya dan tidak boleh terlalu yakin tentang apa yang terjadi antara sang firaun dengan jenderalnya.

Hingga saat ini, argumen terkuat tentang homoseksualitas pada masa Mesir Kuno mengacu kepada dua gambar dari makam Kerajaan Lama di Saqqara, milik Niankhkhnum dan Khnumhotep.

Makam itu ditemukan pada 1964 dan berisi gambar menarik |di bagian dinding barat antara dua celah yang mengarah ke ruang persembahan|.

Gambar itu menampilkan dua pria saling berdekatan dengan mesra. Gambar ini terlihat juga |di dalam ruang persembahan akhir di sisi belakang pilar masuk.|

Tafsiran pertama adalah bahwa gambar itu menampilkan dua saudara sekandung, atau bahkan saudara kembar.

Ada juga yang menduga Niankhkhnum dan Khnumhotep memiliki hubungan homoseksual, dan hal ini semakin didukung oleh beberapa ilmuwan dalam dua dekade terakhir. Tapi pendapat lain menyebutkan bahwa dua pria itu sebenarnya kembardempet.

Namun demikian, karena kurangnya bukti pendukung saat ini, tafsiran tentang hubungan antara Niankhkhnum dan Khnumhotep masih akan menjadi perdebatan hingga beberapa saat ke depan.

Demikian juga nasibnya dengan topik umum homoseksualitas pada masa Mesir Kuno.

(red/ainin/adziroh/LN)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!