Genjot Produksi Batik, Tim ITB Bikin Mesin Fotonik

92

redaksi.co.id – Genjot Produksi Batik, Tim ITB Bikin Mesin Fotonik

Tim dosen dan mahasiswa Institut Teknologi Bandung membuat mesin khusus bagi produsen batik di Tanah Air. Mesin itu menghasilkan penyinaran matahari buatan untuk memunculkan warna setelah proses pencelupan kain batik.

Dengan mesin itu, produksi batik bisa digenjot harian tanpa harus mengandalkan sinar matahari. Tim gabungan dari Fakultas Teknik Industri dan Fisika Teknik ITB. Penggagasnya dosen Eko Mursito Budi serta pengusaha batik di Bandung, Komarudin Kudiya.

Tim penelitinya melibatkan Vebi Nadhira, Nugroho Hari Wibowo, Pedrick Pratama, dan Nabella Adjani. Mesinnya dibuat sebagai tugas akhir oleh Amron Naibaho dan Haris Suwignyo. Inovasi tersebut dipamerkan di Aula Barat ITB, Senin, 24 Agustus 2016.

Mesin yang digagas pada 2015, kata Amron, berawal dari keluhan pengusaha batik. Masalahnya, produksi batik selalu menurun saat musim hujan. Karena sulit sinar matahari untuk mengaktivasi warna kain batik setelah pencelupan, ujarnya kepada Tempo.

Tim peneliti kemudian mencari tahu komponen sinar matahari apa yang berperan untuk memunculkan warna kain batik. Pengujiannya pada sinar infra merah, cahaya tampak, dan ultraviolet. Hasilnya kemudian dipastikan, sinar pencetus warna itu adalah ultraviolet.

Pada pengujian berikutnya dengan memakai lampu khusus ultraviolet, tim peneliti juga menemukan durasi dan jarak penyinaran lampu dengan kain batik. Setelah itu tim membuat mesin penyinaran itu dengan sistem pengantar berjalan (conveyor).

Setelah tombol aktivasi mesin dihidupkan, kain batik secara otomatis disinari secara merata. Dari pantauan Tempo , hasil warna yang muncul pada beberapa contoh kain dengan beragam warna indigosol itu dari hasil kerja mesin, ada yang sama dan beberapa lebih bagus daripada cara dijemur langsung ke matahari.

Pengujian itu berlangsung di laboratorium Fisika serta di tempat produsen batik. Mesin fotonik batik itu dalam wujud purwarupa panjangnya 25 sentimeter, lebarnya sesuai ukuran lebar kain standar yakni 1,2 meter dengan panjang kain 2 meter. Panel (tempat) penyinaran harus ditutup untuk menghindari efek lampu ke mata operator, kata Amron. Biaya riset pembuatan mesin tersebut Rp 120 juta. ANWAR SISWADI

(red//ainuddin/MZ)

loading...

Comments

comments!