Sosok Asli Pembunuh Berantai Legendaris Jack The Ripper

redaksi.co.id - Sosok Asli Pembunuh Berantai Legendaris Jack The Ripper Misteri pembunuhan berantai di kawasan Whitechapel di London, Inggris pada musim gugur 1888 masih menyisakan pertanyaan...

121 0

redaksi.co.id – Sosok Asli Pembunuh Berantai Legendaris Jack The Ripper

Misteri pembunuhan berantai di kawasan Whitechapel di London, Inggris pada musim gugur 1888 masih menyisakan pertanyaan besar hingga sekarang.

Walaupun kasusnya sudah dinyatakan ditutup pada tahun 1892, kejahatan yang dilakukan Jack the Ripper itu belum tuntas hingga sekarang, terutama jati diri asli sang pelaku.

Ada 7 teori jati diri si pelaku, mulai dari perempuan, pengacara hingga pangeran. Namun, menurut penelitian sejarah yang paling anyar, Jack the Ripper sesungguhnya adalah Frederick Bailey Deeming.

Deeming adalah salah satu penjahat paling kejam dalam sejarah Inggris. Dari London, ia pergi ke Yorkshire untuk menyebarkan aksi bengis lainnya setelah ia melakukan pembunuhan berantai di Whitechapel.

Pada tahun 1892, Deeming dihukum gantung di Melbourne, Australia. Namun, saat itu tak ada yang mengenali kalau ia adalah Jack the Ripper sesungguhnya.

Lantas bagaimana perjalanan Deeming menjadi sosok pembunuh legendaris itu?

Adalah sejarawan Mike Covell yang membuat kronologis perjalanan Demming dalam bukunya Jack The Ripper – Or Something Worse? Ia mendeskripsikan pria dengan karakter paling gelap dengan pembunuh berantai Whitechapel. Demikian dilansir Daily Mail, Minggu (28/8/2016).

Covell mengumpulkan cerita bertahun-tahun disertai riset mendalam. Ia bahkan mencari arsip tak hanya di Inggris namun hingga Australia. Menggali data yang terselip di file Departemen Dalam Negeri dan Scotland Yard.

Covell menemukan Deeming lahir di Derbyshire pada tahun 1853. Ia beremigrasi ke Australia bersama istrinya Marie James. Di ‘halaman belakang’ Inggris itu, Deeming bermasalah dengan hukum karena penipuan.

Pasangan itu kembali ke Inggris dan pada 1888 Deeming tinggal sendiri di Whitechapel. Tepat dimulainya pembunuhan berantai di lokasi itu bermula.

Namanya muncul dalam file Scotland Yards dalam pembunuhan itu. Bahkan seorang pembuat baju asal London yang tampil di pengadilan mengatakan, Deeming-lah the Ripper.

Namun, setelah tak cukup bukti dan gagal dinyatakan sebagai tersangka, ia kabur dari London menuju East Yorkshire. Di kota itu, ia mengenalkan dirinya sebagai miliader Australia bernama Frederick Lawson.

Menyamar sebagai Lawson, ia menikahi Nellie Matheson, perempuan 21 tahun. Padahal ia masih menikah dengan Marie. Kala itu tahun 1890.

Tak lama setelah menikah ia ditahan 9 bulan karena penipuan. Lalu, ia kabur ke Montevideo di Uruguay. Di negeri Amerika Latin itu, ia kembali terlibat kriminalitas yang membuatnya di deportasi ke Inggris dan ditahan.

Setelah bebas pada Juli 1891, korban pertama Jack the Ripper, Mary Jane Langley ditemukan tewas di selokan tak jauh dari penjara tempat Deeming ditahan. Leher perempuan 18 tahun itu tergorok.

Deeming kembali ke istri pertamanya, yang kemudian ia bunuh bersama 4 anak mereka. Keluarganya itu ia kubur dan disemen di bawah lantai dapur.

Ia kembali menikah dengan istri ketiga, Emily Lydia Mather. Pada November 1891, pasangan itu pergi ke Australia. Dan sebulan kemudian, perempuan itu tewas.

Deeming mencekik hingga mati pada Hari Natal. Menutupi tubuh istrinya yang masih berusia 25 tahun dengan semen di bawah salah satu lantai kamar mereka.

Namun kali ini Deeming tertangkap. Polisi menemukan koleksi pisau, pedang dan kampak di rumahnya.

Scotland Yard akhirnya tertarik dengan Deeming. Apalagi mereka menemukan jasad keluarganya. Mereka segera berangkat ke Melbourne di mana ia dihukum gantung atas pembunuhan.

“Sebelumnya orang mengira Deeming berada di dalam penjara saat pembunuhan serial Whitechapel dimulai,” kata Covell.

“Namun saya menemukan sebaliknya. Ia telah bebas dari penjara. Apalagi seorang penjual koran mendeskripsikan bagaimanan Deeming selalu membeli banyak koran setelah pembunuhan itu dimuat media. Dan ia terlihat begitu semangat membacanya…”

(red/hmad/yaiku/AS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!