Kisah Pengasingan Diri Putri Diana di Sumbawa

redaksi.co.id - Kisah Pengasingan Diri Putri Diana di Sumbawa Sejak menikahi pewaris takhta Inggris Pangeran Charles, Lady Diana menjalankan tugas resmi kerajaan. Ia kerap mendatangi sekolah,...

35 0

redaksi.co.id – Kisah Pengasingan Diri Putri Diana di Sumbawa

Sejak menikahi pewaris takhta Inggris Pangeran Charles, Lady Diana menjalankan tugas resmi kerajaan. Ia kerap mendatangi sekolah, rumah sakit, dan juga melakukan kunjungan ke sejumlah negara di dunia.

Di balik tatapannya yang “malu-malu”, Princess of Wales memancarkan pesonanya. Berbeda dengan kaum darah biru lainnya, Diana terlihat alami dan melebur dengan orang kebanyakan, bahkan dengan mereka yang terpinggirkan.

Seperti kunjungannya ke Indonesia pada November 1989 silam. Ia melakukan sebuah tindakan “terlarang”.

Kala itu, Lady Di mengunjungi Rumah Sakit Sitanala di Banten, Indonesia. Tak menghiraukan imbauan dari para pejabat dan awak media, Princess of Wales nekat duduk di tempat tidur penderita kusta dan berjabatan tangan mereka.

Diana bahkan tak ragu menyentuh perban yang membungkus luka para pasien. Seperti dikutip dari BBC, tindakannya tersebut menuai pujian. Sebab, Diana membantu menepis mitos dan kabar bohong yang terlanjur menyebar soal penyakit kusta.

Mitos dalam masyarakat menyebutkan, orang-orang yang menderita penyakit ini terkena kutukan. Karena itu, pasien kerap dijauhi dan dikucilkan.

Merasa tertegun melihat aksi tersebut, sebuah organisasi yang berfokus untuk mengobati pengidap kusta, The Leprosy Mission, meminta Diana untuk menjadi pelindung atau patron.

Princess of Wales pun menerima tawaran tersebut dan menjadi patron untuk The Leprosy Mission sejak tahun 1990 hingga kematiannya pada 1997. Demikian seperti dikutip dari websiteorganisasi tersebut, http://www.leprosymission.org.uk.

Sebagai seorang patron, Diana mengunjungi sejumlah rumah sakit khusus kusta yang didirikan The Leprosy Mission di India, Nepal, dan Zimbabwe. Ia juga menjadi tuan rumah dan menghadiri sejumlah acara terkait di London dan Hong Kong.

Untuk lebih fokus pada tugasnya, pada 1996 Putri Diana memangkas jabatannya sebagai patron dari 100 badan amal menjadi enam. The Leprosy Mission pun menjadi salah satu organisasi yang dipilihnya.

Keterlibatan Diana pada The Leprosy Mission mendobrak hambatan bagi penderita kusta sekaligus menginspirasi banyak orang.

“Selalu menjadi perhatian saya untuk menyentuh penderita kusta, mencoba menunjukkan dalam tindakan sederhana bahwa mereka tak pantas dicaci, dan tak pula kita perlu merasa jijik,” ujar Diana seperti dikutip dari Inspire, Selasa (30/8/2016).

Perhatian lain yang diberikan Diana bagi para penderita kusta dapat dilihat dari didirikannya The Diana Princess of Wales Health Education and Media Centre yang dibuka di Noida, India, pada November 1999.

Menggunakan hibah dari Diana Princess of Wales Memorial Fund, pusat kegiatan tersebut bertujuan untuk mempromosikan hak-hak, martabat, serta diterimanya penderita kusta dan difabel oleh masyarakat India.

Tak hanya terhadap penderita kusta, Diana juga menunjukkan kasih sayangnya kepada orang-orang yang hidup dengan HIV/AIDS. Statusnya sebagai penyokong tak hanya sampai rapat komite atau di acara penggalangan dana. Dengan tindakan sederhana, saat Diana bersalaman dengan pasien AIDS, itu menunjukkan pada publik bawa kontak sosial dengan mereka tak menimbulkan risiko.

Walaupun tindakan berani Diana dapat mengubah pandangan banyak orang terhadap pasien kusta dan HIV/AIDS, tak semua orang senang karenanya. Ratu Inggris Elizabeth II memiliki tanggapan berbeda.

Aksi DianaDitentang Ratu Elizabeth

Ratu Elizabeth menentang sikap Diana yang berkunjung dan bersentuhan langsung dengan penderita HIV/AIDS dan kusta. Ia meminta Princess of Wales untuk melakukan pekerjaan amal yang lebih “menyenangkan”.

Selain memberi perhatian lebih terhadap penderita kusta, Putri Diana juga merupakan keluarga Kerajaan Inggris pertama yang bersentuhan langsung dengan penderita AIDS dan membantu mendobrak kesalahpahaman global terhadap penyakit tersebut.

Pada akhir 1980-an, ketika banyak orang meyakini bahwa AIDS bisa menular melalui kontak biasa, Diana justru duduk di atas tempat tidur dan menggenggam tangan penderitanya.

Namun, Diana mengaku sangat kecewa terhadap tanggapan Ratu Elizabeth karena tak mendukung apa yang telah dikerjakannya. Hal tersebut diungkapkan oleh pengawal Diana, Ken Wharfe, saat memberikan keterangan dalam pemeriksaan resmi atas kematian Diana.

“Setelah Diana kembali (dari Ratu) dan terlihat tertekan, aku bertanya kepadanya, ‘Apa yang terjadi?’ dan ia menjawab, ‘Ratu tak suka aku terlibat dengan AIDS dan kusta, (dan bertanya) mengapa kamu tak terlibat dengan sesuatu yang lebih menyenangkan?'” ujar Wharfe.

“Diana marah karena Ratu tak dapat melihat apa yang ia lakukan. Lady Di merasa anggota keluarga kerajaan harus terlibat dalam kampanye untuk menemukan obat AIDS,” tutur Wharfe seperti dilansir oleh The Telegraph.

Namun dalam kunjungan Ratu Elizabeth ke Uganda pada 2007, ia secara terbuka mengungkapkan kesedihannya terhadap penderita AIDS ketika menjabat tangan salah satu orang yang dinyatakan positif HIV.

“Mengasingkan Diri” di Sumbawa

Kedatangan Diana ke Tanah Air pada 1989 bukan yang terakhir kali.

Pada 16 Agustus 1993, sejumlah mobil mewah terlihat berada di landasan Bandara Brang Biji di Sumbawa Besar untuk menjemput Putri Kerajaan Inggris, Diana.

Diana, ketiga teman wanitanya, dan ditemani dengan pengawal pribadinya kemudian melanjutkan perjalanan ke sebuah “surga” tersembunyi di Indonesia, yakni Pulau Moyo.

Untuk menuju lokasi tersebut, mereka menggunakan kapal pesiar Aman XI. Di sana, Diana menginap selama tiga hari dua malam di Amanwana Resort di Pulau Moyo, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Tempat tersebut merupakan resor yang dirancang bagi mereka yang tak ingin privasinya terganggu. Bahkan menurut sejumlah kabar, selebritas kelas dunia kerap berkunjung ke tempat ini.

Walaupun dikelilingi pemandangan indah, mereka bebas untuk berenang di laut biru nan jernih, dan melihat senja spektakuler di pinggir pantai. Namun Princess of Wales tampak murung. Demikian seperti dilansir oleh Lombok News.

Pulau Moyo merupakan tempat yang diperuntukkan untuk menikmati keindahan taman bawah laut. Selain itu, lokasi tersebut juga merupakan area berburu, di mana rusa, banteng, dan ular dapat ditemui.

Masih di pulau yang sama, terdapat sebuah air terjun indah bernama Mata Jitu. Diana pun tak melewatkan kesempatan tersebut dan berkunjung ke sana dengan menggunakan jip.

Saat ini, air terjun itu disebut oleh masyarakat setempat dengan “Queen Waterfall” untuk mengenang kunjungan Diana.

(red/ainin/adziroh/LN)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!