Puncak Gerhana Matahari Cincin di Mentawai

redaksi.co.id - Puncak Gerhana Matahari Cincin di Mentawai Petugas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bengkulu menyebutkan puncak gerhana Matahari cincin pada Kamis, (1/9) mulai teramati...

6 0

redaksi.co.id – Puncak Gerhana Matahari Cincin di Mentawai

Petugas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bengkulu menyebutkan puncak gerhana Matahari cincin pada Kamis, (1/9) mulai teramati dari Pulau Mentawai, Sumatera Barat. Puncaknya nanti akan terjadi pada 17:52 WIB.

“Kontak pertama gerhana untuk wilayah Indonesia terjadi di Pacitan, Jawa Timur, tapi puncak gerhana pertama teramati di Pulau Mentawai, Sumatera Barat,” kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Bengkulu, Sudiyanto, di Bengkulu, Rabu (31/8).

Ia mengatakan kontak pertama gerhana Matahari cincin di Indonesia adalah di Pacitan yang terjadi pada pukul 17 : 26 WIB untuk selanjutnya menyebar ke daerah lain. Puncak gerhana itu, kata Sudiyanto, pertama kali teramati di Seai, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat pada pukul 17 : 52 WIB untuk selanjutnya menyebar ke lokasi lainnya di Sumatera.

Gerhana Matahari kali ini ditandai dua garis merah yang berdekatan, dapat diamati di Samudera Atlantik, Afrika bagian tengah, Madagaskar, dan Samudra Hindia. Untuk wilayah Indonesia, menurut BMKG, gerhana dapat diamati dari 124 kota dan kabupaten di 10 provinsi, yaitu Sumatera Barat bagian Selatan, Bengkulu, Sumatera Selatan bagian Tenggara, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur bagian Barat.

“Gerhana dapat diamati dengan syarat kondisi cuaca cerah. Apalagi terjadinya menjelang malam jadi sangat rawan tertutup awan,” kata Sudiyanto.

Khusus untuk Bengkulu tambah dia, gerhana matahari teramati hampir dari seluruh wilayah Bengkulu antara lain Argamakmur, Karang Tinggi, Kota Bengkulu, Manna, Curup, dan Kepahiang. Ia mengimbau masyarakat yang ingin mengamati gerhana agar menggunakan alat pengaman berupa kacamata hitam atau perangkat lain guna melindungi mata dari dampak buruk kontak langsung dengan Matahari.

(red/ambertus/usi/urek/LLH)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!