Kode Rahasia di Balik Mahakarya Michelangelo

100

redaksi.co.id – Kode Rahasia di Balik Mahakarya Michelangelo

Seperti halnya Leonardo da Vinci, Michelangelo adalah maestro yang lahir pada Abad Pencerahan. Karena kehebatannya, keduanya dianggap mewakili definisi ‘Manusia Renaissance’. Tak hanya mewariskan karya seni yang luar biasa, dua seniman besar itu juga meninggalkan misteri yang menanti untuk dipecahkan.

Simbol-simbol rahasia Michelangelo menyebar dalam mahakaryanya berupa lukisan gaya fresco yang membentang megah dalam kapel Sistine di Vatikan.

Butuh empat tahun, dari 1508 hingga 1512, bagi Michelangelo untuk menyelesaikan karyanya itu dengan perasaan jengkel. Ia berpikir bahwa tugasnya hanya demi kebesaran Paus. Di antara lukisan-lukisan yang menggambarkanPenciptaan Dunia oleh Tuhan, Hubungan Tuhan dengan Manusia, dan Jatuhnya Manusia dari Cinta Tuhan — sang maestro juga menyisipkan kode rahasia berupa anatomi manusia.

Dikutip dari Daily Mail pada Jumat (2/9/2016), ajaran Katolik pada masa itu menyatakan bahwa tubuh manusia merupakan misteri ilahi dan melarang representasi anatomi manusia yang dianggap mengembalikan pemujaan berhala’.

Belakangan, muncul dugaan Michelangelo disisipi rahasia feminis dan tidak ketahuan oleh pihak berwenang yang memberi penugasan.

Menurut para peneliti, mereka telah menemukan bentuk-bentuk yang disamarkan dalam lukisan besar itu dan terlihat menyerupai organ seksual wanita.

Misalnya, ada 8 tengkorak banteng yang ditempatkan pada tempat-tempat biasa langit-langit guna memisahkan gambar-gambar telanjang pasangan pria dan wanita.

Gambaran tanduk itu menyerupai organ reproduksi wanita, yaitu rahim, sel telur, dan tabung fallopi, demikian menurut para peneliti.

Para peneliti juga menghitung bahwa lengan-lengan Eva atau membentuk bagian tengah langit-langit. Mereka mengatakan bahwa tangan Michelangelo ditempatkan di lengan Eva dalam bentuk segitiga terbalik.

Bentuk ini, menurut para peneliti, merupakan lambang perahu yang merupakan simbol pagan yang mewakili kesuburan dan tubuh wanita.

Menurut mereka, sebanyak 8 gambaran lain bentuk tersebut ataupun pelambang maskulinnya, yaitu segitiga tegak — ada dalam lukisan.

Dr Deivis de Campos, seorang peneliti anatomi manusia di Federal University of Health Sciences di Porto Alegre, mengatakan bahwa Michelangelo sengaja melakukan ini karena dongkol kepada Paus dan Gereja Katolik.

Michelangelo ogah-ogahan menerima penugasan ke Kapel Sistine di Vatikan. Tapi, ia berhasil membujuk Paus untuk memberikan kebebasan ketika menciptakan mahakaryanya itu.

Dr de Campos dan rekan-rekannya menuliskan laporan mereka dalam jurnal Clinical Academy, dan mengatakan, “Seperti seniman lainnya pada masa Rennaisance, Michelangelo sering menyisipkan gambar anatomi, plesetan seksual, dan hinaan kasar terhadap pemberi tugas tanpa ketahuan.

“Bagi Michelangelo, kekristenan tidak lebih tinggi dibandingkan agama-agama lain.”

“Sebagai orang yang gandrung akan kesederhanaan dan kesempurnaan seni Yunani-Romawi, Michelangelo memuja segala ajaran feminin.”

“Alasannya, kekuatan wanita dan kemampuan mereka untuk menghasilkan kehidupan dipandang sangat suci dalam ajaran kuno dan Yahudi. Tapi, pandangan ini mengancam Gereja Katolik yang kental kelelakian.”

“Karena itu, kami menduga Michelangelo menyamarkan simbol-simbol yang berkaitan dengan anatomi wanita karena ia mengetahui bahwa Paus tidak akan pernah menyenangi tampilan demikian.”

Michelangelo ditugaskan melukis Kapel Sistina pada 1508 oleh Paus Julius II ketika ia juga sedang mengerjakan makam sang Paus.

Ia memerlukan waktu 4 tahun untuk menyelesaikan tugas yang mencakup lukisan seluas 500 meter persegi. Lebih dari 300 tokoh hadir dalam lukisan, demikian juga dengan 9 kisah dalam kitab Kejadian di tengah-tengah lukisan.

Pada tiang-tiang penopang langit-langit ada 12 pria dan wanita yang menubuatkan kedatangan Yesus. Mereka dikenal sebagai nabi dan peramal.

Mengapit tiang-tiang itu ada 8 segitiga berisi kelompok-kelompok keluarga mengenakan pakaian seperti yang diuraikan dalam kitab suci.

Banyak komentator meyakini bahwa tokoh-tokoh itu melambangkan kaum Yahudi sepanjang sejarah yang menantikan kembalinya Yesus.

Tapi Dr de Campos dan rekan-rekannya berpendapat bahwa Michelangelo sedang membuat pernyataan visual menggunakan kerumunan keluarga tersebut, di mana tokoh wanita yang mendominasi.

Mereka mengatakan, “Michelangelo mungkin sedang membuat penyataan visual yang jelas bahwa seorang ibulah yang menjaga kehidupan iman dan keluarga.”

“Selain itu, Michelangelo juga menaruh tokoh ibu yang kuat dalam versi ‘lelaki’ segitiga itu yang menunjuk ke atas.”

“Dengan begitu, ia mungkin berusaha menyeimbangkan pertumbuhan spiritual keluarga manusia dari ibu dan ayah, sehingga menciptakan citra keseimbangan sempurna melalui penggunaan sebuah segitiga.”

Teori tersebut diterbitkan dalam jurnal Clinical Anatomy dan menunjuk juga kepada sejumlah indikasi lain tentang upaya Michelangelo untuk ‘mengalahkan’ Gereja Katolik yang didominasi lelaki.

Misalnya, kebanyakan wanita yang ditampilkan dalam fresco itu dilukis secara berotot, dan diduga sebagai upaya Michelangelo menegaskan kekuatan kaum wanita.

Bahkan di masa lalu ada banyak ahli teologi berdebat apakah kaum wanita memiliki jiwa.

Ini bukan pertama kalinya para ilmuwan mengaku melihat citra-citra anatomi di langit-langit Kapel Sistine.

Pada 2010, Ian Suk dan Rafel Tamargo dari Johns Hopkins University School of Medicine di Baltimore mengaku bahwa panel terakhir di langit-langit menggambarkan syaraf tulang belakang dan batang otak manusia.

Mereka mengamati bahwa tenggorokan dan dada penggambaran Tuhan terlihat menggumpal tak teratur.

Ketika dilihat menggunakan gambar otak manusia yang terlihat dari bawah, ternyata dua gambar itu cocok.

Dr de Campos dan rekan-rekan menambahkan bahwa seniman besar itu mungkin memilih menyembunyikan penggambaran anatomi manusia karena suatu alasan yang kuat.

Mereka menuliskan, “Pada masa Michelangelo, penyayatan jasad sangat dilarang oleh Gereja Katolik karena tubuh manusia dipandang sebagai misteri ilahi.”

“Dalam jaman intoleransi dan penyesahan religius, seni tidak berani menyatakan secara terbuka hal yang ingin disampaikan oleh seorang seniman.”

(red/ahmat/dhy/urniawan/RAK)

loading...

Comments

comments!