12 Tahun Pembunuhan Munir, Beberapa Keanehan

redaksi.co.id - 12 Tahun Pembunuhan Munir, Beberapa Keanehan Hari ini tepat 12 tahun tewasnya aktivis Hak Asasi Manusia Munir Said Thalib. Hingga kini belum terang siapa...

35 0

redaksi.co.id – 12 Tahun Pembunuhan Munir, Beberapa Keanehan

Hari ini tepat 12 tahun tewasnya aktivis Hak Asasi Manusia Munir Said Thalib. Hingga kini belum terang siapa sesungguhnya yang membunuh Munir di dalam pesawat Garuda Indonesia saat hendak ke Amsterdam, Belanda.

Hanya dua orang yang baru dihukum atas kematian Munir akibat racun arsenik. Keduanya adalah Pollycarpus Budihari Priyanto dan Indra Setiawan, Direktur Utama Garuda.

Indra dianggap memberikan kesempatan kepada Pollycarpus untuk membunuh Munir dengan menempatkan Pollycarpus ke bagian keselamatan penerbangan, yang memungkinkan ia terbang pada hari pembunuhan.

Akhirnya ia divonis setahun penjara. Pukulan terberat kasus Munir ketika Pollycarpus mendapat begitu banyak korting hukuman. Pollycarpus pada sidang peninjauan kembali yang diajukan Kejaksaan Agung pada Januari 2008 mendapat hukuman 20 tahun.

Korting pertama menjadi 14 tahun terjadi pada pada peninjauan kembali sekali yang dimohon oleh Pollycarpus. Akhirnya pada 28 November 2014, Pollycarpus mendapat bebas bersyarat. Total jenderal, Pollycarpus mendapat remisi berlimpah: 4 tahun, 6 bulan, dan 20 hari.

“Kami sudah melalui prosedur, sudah menjalani hukuman. Pokoknya kami sudah ikuti semua aturan,” kata mantan pilot Garuda Indonesia waktu itu.

Dalam sidang Pollycarpus, ia terungkap pernah berulang-ulang ditelepon dari nomor khusus Deputi V Badan Intelijen Negara Bidang Penggalangan dan Propaganda Mayor Jenderal (Purn) Muchdi Pr.

Pollycarpus berkilah mengaku baru mengenal Muchdi di persidangan. Begitu juga menurut Muchdi, yang dihubungi oleh Polly lewat telepon itu bisa siapa saja, tapi yang jelas bukan dirinya. Dan Polly pun bebas.

Kebebasan Pollycarpus itu menambah daftar keanehan kasus Munir, berikut diantaranya:

Misteri Pemberian Racun Racun arsenik di tubuh Munir, yang meninggal pada 2004, besar kemungkinan masuk ke tubuh saat ia transit di Singapura dalam perjalanan pesawat Garuda dari Jakarta menuju Amsterdam.

Misteri pembunuhan Munir bisa terungkap jika bisa dipastikan dengan siapa saja Munir mengisi waktu saat transit.

Sidang peninjauan kembali keputusan Mahkamah Agung, yang dilakukan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 2007 mengandalkan kesaksian baru, terutama dari Ongen, yang menyatakan melihat Pollycarpus memberikan minuman kepada Munir. Tapi, dalam sidang, Raymond Latuihamalo alias Ongen mencabut kesaksian itu dengan alasan ditekan polisi saat pemeriksaan.

SAKSI

Raymond J.J. Latuihamallo alias Ongen

VERSI

Pengadilan Ongen memesan teh untuk minum obat di Coffee Bean saat transit di Singapura. Posisinya hanya berjarak sekitar dua meter dari Munir.

Munir, kata Ongen, bersama seorang laki-laki, tapi bukan Pollycarpus. Malah Ongen mengatakan tidak melihat Pollycarpus di Changi. “Saya melihat seorang laki-laki, tapi bukan dia,” kata Ongen sambil menghadap ke Pollycarpus. (22/8/2007)

VERSI

Berita Acara Pemeriksaan Ongen melihat Pollycarpus membawa minuman dan diberikan kepada Munir. Sambil minum, Ongen mengaku melihat Munir bercakap-cakap dengan Pollycarpus. (NAMUN BAP DICABUT)

SAKSI

Asrini Utami Putri, Penumpang Garuda yang Duduk di Depan Munir Asrini melihat Pollycarpus, Ongen, dan Munir di Coffee Bean sekitar 10 detik saat ia melewati mereka. “Mereka duduk bertiga dan sedang mengobrol.”

Asrini hafal wajah Pollycarpus karena kantong matanya lebih gelap dari kulitnya. Ongen, seusai sidang, mengatakan mungkin Asrini salah lihat. Ia juga ingat wajah Ongen di Changi dari rambut panjangnya.

Belakangan, saat di ruang tunggu, Asrini dikenalkan dengan Ongen oleh Joseph Ririmesa, calon Station Manager Garuda di Amsterdam. Namun Ongen yang mengaku dikenalkan seorang perempuan, tapi tidak ingat apakah ia Asrini. Evan/PDAT Sumber Diolah Tempo

(red/aini/J)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!