Hajar Malaysia, Timnas Indonesia Bisa Seperti Spanyol

redaksi.co.id - Hajar Malaysia, Timnas Indonesia Bisa Seperti Spanyol Keberhasilan timnas Indonesia menggulung Malaysia 3-0 pada laga uji coba internasional memiliki makna ganda. Selain menambah kepercayaan...

36 0

redaksi.co.id – Hajar Malaysia, Timnas Indonesia Bisa Seperti Spanyol

Keberhasilan timnas Indonesia menggulung Malaysia 3-0 pada laga uji coba internasional memiliki makna ganda. Selain menambah kepercayaan diri jelang Piala AFF 2016, kemenangan ini juga jadi langkah awal Alfred Riedl dalam merevolusi timnas senior.

Sejak 2007, timnas punya tradisi atau pakem mempertahankan skuat lama dan sulit diganti. Berkali-kali ganti pelatih mulai Peter White, Ivan Kolev, Benny Dollo hingga Alfred Riedl, ketergantungan terhadap pemain senior sulit diubah.

Sebelum 2007, pakem seperti ini juga kerap dipakai. Maka itu, pemain seperti Bambang Pamungkas bisa memiliki caps 85 bersama timnas Indonesia.

Generasi lebih tua, Soetjipto Soentoro menjadi pemegang caps kedua terbanyak dengan 68 caps. Sedangkan Ponaryo Astaman 61 caps. Jangan dilupakan Kurniawan Dwi Yulianto (60), Ismed Sofyan (53) dan Agung Setyabudi (53).

Mempertahankan pemain senior di timnas sebenarnya sah-sah saja. Di negara manapun, pemain senior kerap dijadikan inspirator dalam tim yang diharapkan bisa membimbing pemain yang lebih muda.

Masalahnya, banyak pelatih timnas yang ragu untuk tampilkan pemain muda langsung sebagai starter. Ini sudah terjadi sejak 2007 dan baru sekarang tradisi itu diubah.

Rield berani menampilkan pemain-pemain debutan. Sedangkan pemain lama hanya menyisakan Irfan Bachdim, Boaz Solossa dan Andik Vermansyah.

© Irfan Bachdim mencoba menguasai bola saat laga uji coba Indonesia vs Malaysia di Stadion Manahan Sol… 20160906- Timnas Indonesia Gulung Malaysia 3-0-Boy Harjanto

Yang menjadi pertanyaan, apakah formasi timnas Indonesia saat melawan Malaysia merupakan ‘calon’ formasi atau starter di Piala AFF 2016 nanti? Seperti diutarakan Riedl, formasi yang ada sekarang tidaklah final.

Dia tidak menutup kemungkinan untuk memanggil pemain anyar di luar 22 pemain yang dipersiapkan saat melawan Malaysia lalu.

Tengok revolusi Riedl saat melawan Malaysia lalu. Semuanya nyaris wajah baru. Mulai dari kiper, belakang dan tengah diisi pemain anyar. Hanya lini depan diisi stok pemain lama.

Namun duet Irfan Bachdim dengan Boaz Salossa juga bisa disebut baru. Kedua pemain ini belum pernah dimainkan secara bersamaan.

Simak nama-nama ini dalam starter; Benny Wahyudi, Fachrudin, Rudolof Yanto, Abdul Rachman (Bek), Bayu Pradana dan Irsyad Maulana (Tengah). Ini pilihan berani dari Alfred Riedl menghadapi duel sengit menghadapi Malaysia.

Meski demikian, pemain-pemain muda ini sudah siap mental. Artinya, timnas memang sudah siap regenerasi pemain. Pemain-pemain lawas seperti Firman Utina, Hamka Hamzah, Achmad Jufriyanto, Supardi, Cristian Gonzales, Sergio van Dijk memang sudah waktunya dilupakan.

Tapi sekali lagi, apakah ini formasi final? Ataukah formasi ini berubah lagi?

Kebetulan atau tidak, apa yang dilakukan timnas Indonesia mungkin sama dengan yang dilakukan Spanyol lewat pelatih anyar Julen Lopetegui. Memegang tongkat estafet kepelatihan dari Vicente Del Bosque yang fenomenal, Lopetegui berani lakukan revolusi.

Kegagalan di Piala Dunia 2014 dan Piala Eropa 2016 memang menjadi pemicu dipercepatnya revolusi di tubuh timnas Spanyol. Meski mempertahankan muka lama, tapi Lopetegui nyaris merombak total Spanyol.

Tak ada lagi nama Cesc Fabregas, Pedro atau Iker Casillas. Lopetegui mempercayakan lini tengah kepada Thiago Alcantara dan Koke yang boleh jadi sudah menunggu-nunggu momen ini sejak lama.

Maklum di era Del Bosque, posisi ini biasanya dihuni Cesc Fabregas dan Andres Iniesta. “Kita harus membangun fondasi masa depan timnas Spanyol lewat pemain muda,” ujar Lopetegui usai kalahkan Belgia di uji coba lalu.

Benar saja, pemain muda Spanyol ternyata bisa tampil trengginas. Pada laga pertama kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Eropa, Spanyol menggilas Liechtenstein 8-0.

Diego Costa, David Silva dan Alvaro Morata sama-sama mencetak dua gol. Sedangkan gol lainnya dicetak Sergi Roberto dan Vitolo. Nama terakhir ini patut diperhitungkan karena cukup berpengaruh di dua laga terakhir Spanyol.

Nah, timnas Indonesia diharapkan bisa seperti ini. Indonesia boleh saja kalah kualitas dari Spanyol. Namun Indonesia punya talenta pemain sepak bola yang banyak. Kesuksesan dan keberanian Spanyol rombak pemain juga bisa dilakukan di timnas Indonesia.

(red/endarmono/l/idarto/HAS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!