Ayah Gatot Brajamusti: Jujur, Bapak Sedih

redaksi.co.id - Ayah Gatot Brajamusti: Jujur, Bapak Sedih Kesedihan diungkapkan ayah kandung Gatot Brajamusti, H. Dudung melihat kenyataan sang putra terjerat kasus narkoba."Jujur bapak sedih, karena...

19 0

redaksi.co.id – Ayah Gatot Brajamusti: Jujur, Bapak Sedih

Kesedihan diungkapkan ayah kandung Gatot Brajamusti, H. Dudung melihat kenyataan sang putra terjerat kasus narkoba.

“Jujur bapak sedih, karena bagaimanapun dilihat dari keturunan zaman dulu, baru terjadi seperti ini,” ucap Dudung ketika ditemui Tribunnews.com, Kamis (8/9/2016).

Itulah ungkapan yang dirasakan seorang ayah, saat tahu anak pertamanya yang selama ini dalam pengawasan dan pendidikan ilmu agama, terjerat kasus hukum.

Pria berusia 76 tahun itu terlihat tidak bisa memendung rasa sedihnya ketika tahu Gatot terlibat kasus dugaan penyalahgunaan narkoba.

Meski tidak ada air mata yang terjatuh dipipinya, namun mata itu berkaca-kaca dan tangannya pun ikut gemetar.

“Kalau bicara kecewa, nggak enak. Karena setiap manusia siapapun bisa salah. Tapi kadar salahnya pasti berbeda-beda. Apalagi Gatot sejak kecil sampai dia punya anak, sebagai orangtua bapak selalu mengajarkan agama yang baik dan benar,” ujar dia.

H. Dudung menjelaskan, perubahan yang dialami Gatot terjadi sejak 10 tahun lalu. Saat itu, dia telah membiarkan mandiri dan membebaskan anak pertamanya hidup tanpa pengawasan dia.

“Sejak 10 tahun lalu bapak pun tidak banyak mencampuri urusan dia. Karena bapak melihat dia sudah dewasa dan menjalani agama dengan baik,” katanya seraya mengerutkan dahi.

“Terus bapak melihat perubahan dia ya sejak dia pindah ke Jakarta, sekitar tahun 2009. Kalau dulu kenapa dia suka pakai sorban dan gamis itu karena terbiasa melihat kebiasaan bapak dan diikuti dia,” lanjutnya.

Pria yang ketika itu ditemui dikediamannya di kawasan Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat ini mengaku tidak bisa berbuat apa-apa ketika lama tidak mengawasi anaknya dan saat ini harus terlibat kasus hukum.

“Makanya bapak bilang, bapak mendidik dia secara agama mati-matian. Kalau akhirnya ada penyimpangan ya semoga dia segera menyadari kesalahan, dan kembali ke jalan yang benar,” tandas H. Dudung.

(red/aini/J)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!