Catatan Ini Menguak Ketegangan Presiden Bush Saat Teror 9/11

79

redaksi.co.id – Catatan Ini Menguak Ketegangan Presiden Bush Saat Teror 9/11

Sebuah catatantulis tangan detik menegangkan di pesawat pengangkut presiden Air Force One dirilis. Permasalahannya, itu bukan sekedar catatan, melainkan gambaran situasi Presiden George W Bushkala teror 9/11menghantam AS.

Bagian dari sejarah itu dibuka oleh mantan ajudan Bush. Ari Fleischer, yang saat itu menjadi juru bicara Gedung Putih, merilis 6 halaman tulisan tangannyaberisi rencana dan ketegangan suasana Air Force One kepada 2 wartawan, Yahoo News Oliver Knox dan Reuters, Steve Holland.

Kedua awak media itu juga berada di pesawat pengangkut Air Force One.

Saat Knox menulis berita itu, catatan tulisan tangan itu terkuak. Di situ terlihat betapa tidak pastinya situasi negara. Belum lagi berbagai laporan palsu yang datang tiap 1 jam sekali, seperti Air Force One jadi target, bom mobil di Kemlu AS serta pesawat jatuh di Camp David.

“Suara-suara pesawat jet sudah menggelegar bersiap mengawal Air Force One,” tulis Fleischer pada pukul 10:20.

“Peralatan alat komunikasi baik tapi tidak begitu bagus. Butuh otorisasi untuk dimatikan jika perlu.” Demikian seperti dilansir USA Today, Minggu (11/9/2016).

Fleischer menulis, bagaimana Kepala Staf Militer, Andy Card melaporkan pesawat Bush tiba-tiba naik dengan cepat hingga 45.000 kaki.

Belakangan diketahui, sang pilot Kolonel Mark Tilman menghindari seorang pria di ujung landasan Bandara Internasional Sarasota-Bradentoyang terlihat membawa benda seperti pistol. Ia takut burung besi itu diserang.

Sebagai juru bicara Gedung Putih dan sekertaris presiden, Fleischer berperan sebagai pembuat notula presiden. Dia selalu menulis apa saja yang diucapkan Presiden Bush.

“Saya salalumencatat apa saja. Ini adalah pekerjaan saya. Namun, pada 11 September, sangat jelas betapa pentingnya mencatat detil apa yang presiden lakukan dan katakan. Saya biasanya menempel pada Bushtiap harinya dan di kabin Air ForceOnesaya usahakan terus mendengar dan mencatat tiap patah katanya,” kata Fleischerkepada Reuters.

Laporan itu juga mencatat bagaimana kedua anak Bush akan dipindahkan ke rumah yang aman serta permintaan Bush untuk mengungsikan anjing kesayangan mereka, Barney.

Kronologi ketegangan dalam Air Force One berawal dari penasihat politik Bus Karl Rove tentang serangan pertama. Di catatan Fleischer tertera pukul 8.45,

Notes itu mencatat pukul 9.45, Bush sudah masuk di Air Force One.

“Terdengar kita akan melakukan perang kecil. Saya dengar soal Pentagon,” kata Bush kepada wakilnya Dick Cheney. Tak lama kemudian, lewat telepon kepada pemimpin kongres, Bush berkata, “Kita tengah berperang sekarang.”

Pada pukul 10.20, Fleischer menulis permintaan Bush untuk, “izin menembak jika diperlukan.” Hal itu dikeluarkan setelah ancaman palsu kepada Air Force One dengan sandi ‘Angle is next’ datang dari pesan White House.

5 menit kemudian, Fleischer menulis kabar bahwa kedua putri Bush aman.

10.37 kabar bahwa bin Laden pelakunya, sampai ke telinga Bush. Namun, saat itu belum pasti benar bahwa ia pelakunya.

Pukul 10.55 mereka di pesawat mengetahui ancaman bom di kemlu bohong.

Pukul 11.00 Bush membuat keputusan seluruh militer AS bersiap perang.

“Saya pikir sangat penting untuk orang-orang untuk tahu bahwa pemerintahan berfungsi. Soalnya, TV di seluruh negeri memperlihatkan negara kita diserang dan dibom. Pemerintah tidak hancur. Kita berjalan dengan lancar. Kita akan tangkap para begundal itu,” kata Bush kepada Cheney pada pukul 12.25. Kemudian, Bush mendeklarasikan, “Ini adalah perang baru. Pengecut pelakunya.”

Pukul 12.40 meski sudah tahu siapa dalangnya, kepada media Bush mengatakan, “Saya tak sabar ingin tahu siapa pelakunya dan tak sabar memberi tamparan di mukanya.”

Telepon di Air Force One tak henti-hentinya berdering. Ada senator Demokrat Chuck Schumer yang meyakinkan Bush 2 partai AS akan satu suara.

Namun, yang paling membuat raut muka Bush paling tegang terjadi pukul 13.05. Saat itu sebuah laporan –yang belakangan palsu– mengatakan, “objek berkecepatan tinggi menuju ranch POTUS di Crawford, Texas.”

Saat itu, Bush langsung berkomentar, “Saya ingin pulang secepatnya. Saya tak ingin, apapun itu menahan saya di luar Washington.”

Pukul 13.35, Bush umumkan, “pemerintahan ini akan mengambil langkah apapun untuk mencari, memburu, dan menghancurkan siapapun pelakunya.”

Pada pukul 16.39, akhirnya Bush menelpon sang istri, Barbara.

“Saya akan pulang, sampai bertemu di Gedung Putih. Love you…”

(red/udianto/R)

loading...

Comments

comments!