Eksklusif Melanie Subono, Antara Perceraian dan Sakit Kanker

redaksi.co.id - Eksklusif Melanie Subono, Antara Perceraian dan Sakit Kanker Langit memang tidak selalu biru, namun akan ada pelangi setelah hujan. Semangat itu sepertinya menggambarkan semangat...

17 0

redaksi.co.id – Eksklusif Melanie Subono, Antara Perceraian dan Sakit Kanker

Langit memang tidak selalu biru, namun akan ada pelangi setelah hujan. Semangat itu sepertinya menggambarkan semangat hidup seorang Melanie Subonosaat ini. Di tengah kondisi sakit kanker dan rumah tangganya yang kembali bercerai, Melanie Subono tetap berkarya melalui lagu dan semakin lantang menyuarakan ketidakadalian bagi kaum marjinal terhadap penguasa. Apa yang membuatnya tetap bersemangat meski diterpa berbagai cobaan?

***

Rezeki, jodoh dan mau memang di tangan Tuhan. Melanie Subono meyakini hal tersebut sebagai bagian dari rahasia Tuhan. Karena itu ia berusaha menjalani hari demi hari dalam kehidupannya dengan semangat melakukan yang terbaik. Sederet masalah yang datang bertubi-tubi, dari mulai derita kanker yang membuat rahimnya harus diangkat sehingga ia tidak bisa memiliki keturunan, dua kali menjalani perceraian hingga ancaman-ancaman berat saat Melanie berdiri lantang menyuarakan pembelaan terhadap kaum tertindas.

Tanpa tangis, tanpa mengeluh tanpa meminta belas kasihan, Melanie Subono melangkah pasti menghadapi berbagai macam permasalahan. Selalu berpikir positif dan menjadi diri sendiri, merupakan tiketnya beraktivitas, modalnya menjalankan rutinitas. Ia tak ingin menyesal di kemudian hari ketika wafat, jika hidupnya ternyata tak memiliki manfaat.

Melanie Subono tidak asal ucap, sekadar mengangkat citra, namun memang itulah Melanie Subono, dengan gaya yang to the point dan ceplas ceplos jika berbicara kehidupannya. Hidup dalam keluarga sukses yang dikenal tidak lantas membuatnya manja. Toh, bagi Melanie Subono, ia sendiri yang menghadapi kehidupannya.

Hal itu pula yang dilakukannya saat rumah tangganya kandas untuk kedua kali. Perceraiannya dengan I Gusti Ngurah Agus Wijaya tengah diproses di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sebelum mengajukan gugatan cerai, terungkap jika Melanie Subono sudah melakukan kesepakatan dengan sang suami yang menikahinya pada 11 Januari 2008.

Perceraian memang bukan akhir dari segalanya bagi Melanie Subono. Bahkan putri sulung promotor Adrie Subono itu tidak menganggap perceraian adalah sebuah kegagalan, melainkan sebuah ungkapan dari ‘perbedaan jalan’. Dengan bahasa yang lugas, Melanie Subono menceritakan berbagai hal dalam kehidupannya. Dari singel baru berjudul Aku Patut Membenci Dia, kisah rumah tangganya yang kandas untuk kedua kali, aktivitasnya sebagai aktivis sosial, hingga perkembangan penyakit yang diidapnya.

Kerap bersuara lantang menentang ketidakadilan bagi kaum marjinal, Melanie Subono tidak lupa mengungkap sisi romantisnya melalui lagu. Seperti singel terbarunya yang merupakan lagu daur ulang berjudul Aku Patut Membenci Dia. Adakah hubungannya dengan kisah rumah tangganya yang tengah dilanda prahara?

Ceritakan tentang single terbarunya. Kenapa ambil lagu daur ulang?

Gue itu pasti dalam dua tahun atau setahun sekali pasti keluarin single untuk selera pasar karena sehari-hari lagu gue kan tentang kritik sosial. Bagi gue it’s good setahun atau dua tahun sekali untuk radio, teman dan memang umumnya daur ulang. Eh, enggak juga sih, kemarin judul lagu Dia Sahabat bukan recycle (daur ulang).

Tapi kenapa sih sering pilih lagu daur ulang?

Karena kalau aku buat sendiri, isinya pasti marah-marah, hahaha. Isinya kritik sosial melulu, mangkanya mending pilih recycle untuk dilempar ke radio. Minimal orang pas denger bilang, eh pernah denger nih lagu atau minimal orang tahu lagunya gitu. Banyak juga kok lagu-lagu Indonesia yang bagus dan keren untuk diaransemen ulang. Tapi setelah ini, gue mau keluarin lagi lagu yang marah-marah itu, hahahaha.

Emang kamu itu karakternya marah-marah terus ya?

Bukan juga, gue itu suka kejujuran dan gue orang yang akan menggunakan seni gue untuk bersuara. Pada dasarnya manusia kan lebih suka dengerin musik atau idolanya daripada dengerin guru, pendeta atau orangtua. Kalau gue punya kesempatan untuk menyampaikan pesan yang baik melalui media yang gue punya, kenapa enggak. Tapi di single terbaru gue kan judulnya tetap ada marah-marahnya kan, tetap membenci kan, hahahaha.

Jarang lagu cinta juga ya?

Emang gue enggak ambil lagu cinta yang pasangan gitu. Seperti lagu gue sebelumnya, cinta general, cinta untuk sahabat. Itu kan umum. Aktivis lain enggak mau tuh keluarin karya yang agak soft, tapi gue tetaplah pengin ada karya yang bisa dilempar di pasar umum. Biasanya setelah keluarin lagu yang sesuai dengan keinginan pasar, gue akan keluarin lagu yang penuh pesan sosial.

Kan saat ini lagi proses cerai dengan suami. Lagu barunya itu ada hubungannya dengan cerita pribadi?

Mungkin secara enggak langsung ada hubungannya. Lagunya kan menceritakan wanita yang kuat dalam menjalani hubungan. Nah, mungkinn dari segi itu berhubungan, tapi secara cerita bukan. Ini sebenarnya proyek sudah lama, jadi enggak ada hubungannya langsung.

Gagal kedua kali, apa rencana ke depan kamu?

Gue menyebutnya ini bukan kegagalan. Akhir dari segala sesuatu adalah permulaan dari sesuatu, tergantung melihatnya dari mana. Bagi gue, ini (perceraian) bukan kegagalan, mungkin ada satu hal dalam diri manusia yang harus berhasil, namun ada lagi yang memulai sesuatu lagi. Ambil positifnya saja. Sementara gue enggak tahu ke depannya bagaimana.

Emang enggak punya rencana masa depan?

Jadi begini. Gue memperlakukan hidup gue ini setiap bangun pagi, menganggap ini hari terakhir gue hidup. Jadi apapun yang gue lakukan, perjuangan itu akan gue lakukan. Kalay ada satu hal yang membuat gue menjadi negatif atau menghalangi atau menghambat langkah gue, akan gue cut.

Apa berarti suami menjadi penghalang?

Menghalangi dalam konteks melarang gue beraktivitas bukan itu. Gue tipe orang yang gini, gue itu kan aktivis, ketemu setiap hari sama petani, nelayan. Berteriak di jalan. Mungkin jalan gue di sini, dan gue enggak mau nyeret-nyeret orang ikut ke sana. Berbeda jalan, gue mau ke kanan, lu mau belok kiri. Dua-duanya enggak jelek, kan akhirnya berpisah.

Perceraian kalian tanpa isu sebelumnya. Bahkan kalian dianggap pasangan bahagia, lantas kenapa bisa bercerai?

Satu-satunya hal yang biki gue enggak pernah tertimpa gosip bukan gue enggak pernah, tapi gue enggak mau masuk media untuk urusan gosip. Gue sudah menjadwalan satu hari per dua bulan untuk wawancara dengan media. Jadi berita media enggak perlu masuk rumah gue. Gue akan selalu menjaga kehidupan privadi gue. Gue bukan seperti teman-teman gue yang dikit-dikit nyautinmedia.

Apa sih alasan kalian bercerai?

Sampai sekarang enggak tahu alasannya kan? Gue enggak akan pernah ngomong. Urusan pribadi akan terus menjadi urusan pribadi, bukan urusan publik. Gue banyak melihat, hal-hal kecil dan sederhana, bisa menjadi besar gara-gara ngomong di publik. Urusan kamar, buat gue bukan urusan umum.

Sebelum memutuskan bercerai, apakah sudah dipikirkan jalan keluar lain?

Sudah, cuma ada kan bedanya. Gue enggak akan mengubah orang atau mengubah diri gue sendiri untuk orang lain. Kalau memang enggak ketemu ya enggak ketemu saja. Mecoba matching-in sesuatu gitu itu bisa, tapi kalau sampai berubah total ya, takutnya perubahan itu hanya sementara saja. Sementara malah gue punya sifat jelek gitu juga. Gue pengin nyenening orang tapi itu bukan gue. Please jangan berubah buat gue, takutnya akan meledak lagi. Mungkin bukan sekarang, bisa nanti. Kalau sekarang enggak ada gosip karena semua berjalan baik-baik saja. Kita sudah sepakat, apalagi gue migrain terus. Mangkanya gue enggak pernah ngundang media karena enggak akan ada ga pernah ngundang media, karena enggakakan ada jawaban dari kita.

Ada yang bilang karena komunikasi kurang dan ego kalian?

Kayaknya komunikasi mah enggaklah, masa gak punya hape hahahha. Kalau ego pastilah, nulis itu karena ego. Manusia selama hidup pasti punya ego. Tapi jangan sampai ego kita merusak orang lain. Gitu saja. Bagaiimana ya jelasinnya karena ego nempel dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Sebenarnya apa sih yang dicari kamu?

Menjadi orang yang berguna. Gue menjadi orang yang selalu melakukan kebaikan, menjadi suara dari banyak ketidakadilan. Yang

gue cari adalah hari dimana manusia sudah bisa memanusiakan manusia.

Selain seniman, Melanie Subono juga dikenal sebagai aktivis sosial yang lantang bersuara melawan ketidakadilan bagi kaum marjinal. Namun di tengah gegap gempitanya suara Melanie membela kaum lemah, jiwanya pun tengah terancam akibat sakit kanker yang dideritanya. Bahkan ia sudah siap, jika Tuhan akan memanggilnya. Karena itu, Melanie Subono berusaha melakukan yang terbaik bagi kehidupan, agar tak menyesali saat mata tak lagi bisa terbuka.

Tadi sempat cerita sebagai aktivis kamu banyak menerima ancaman. Ceritakan saat itu?

Ya, mobil gue pernah dihancurin, mau ditembak macem-macem. Itu sudah hari-hari gue.

Jadi, sudah terbiasa?

Sangat terbiasa. Banyak yang bilang, eh kamu mau cari sensasi. Ya gue bisa bunuh diri karier kalau begitu. Kebenaran akan selalu jadi kebenaran. Jadi manusia bisa memanusiakan manusia. Gw ga akan berhenti.

Apa hasil nyata dari perjuangan kamu menjadi aktivis?

Hasil itu seperti apa? Kalau sekarang anak muda lebih aware dengan yang namanya buruh migran, TKI, keadilan atau gerakan perlawanan terhadap tanah masyarakat. Kita ngomong reklamasi Rembang segala macam. Itu sudah perjuangan anak muda semua lho. Itu kan dari suara kita, melalui lagi maupun dari apapun. Anak muda sekarang sudah bikin lagu tentang perjuangan, itu suatu kemajuan. Kita bisa kumpulin duit dari ngamen membawa seorang buruh migran TKI yang dihukum mati pulang ke Indonesia dari duit Rp2.000 dari para pengamen yang dikumpulin. Itu tamparan buat pemerintah. Kita bisa menang kasus reklamasi pulau G di Jakarta melawan Ahok, kita menang di pengadilan itu anak muda. Bahwa minimal anak muda sekarang lebih mengerti, itu bagus menurut gue.

Mau terjun ke politik?

Tidak akan pernah. Gue selalu bilang ke teman-teman, kalau gue masuk ke politik, loe bisa ludahin gue. Bukan apa-apa, untuk berbuat sesuatu kenapa harus masuk politik, berarti orang yang enggak masuk politik enggak bisa berjuang lagi dong? Jadi begini, justru gue adalah salah satu contoh masyarakat yang sehari-hari nongkrongnya bisa tidur di rumah rakyat, ngegembel di pinggir jalan. Itu yang membuat mereka lebih percaya dan dekat. Wakil rakyat enggak pernah turun ke situ, itu yang membuat gue bisa menyatu dengan mereka. Gue enggak perlu pakai dasi duduk di gedung bundar itu. Justru gimana loe bisa ngerasain kalau loe duduk di sana, kalau enggak banyak spend waktu dengan mereka. Gue lebih punya kebebasan dan mengerti perjuangan gue berjibaku disitu karena gue adalah masyarakat, bukan wakil rakyat.

Ada kekhawatiran menjadi aktivis, terutama keselamatan?

Pasti! Setiap hari keluarga, teman dekat gue pasti akan mendoakanku untuk melangkah lebih baik. Toh gue bukan ngaco, keluar rumah nge-drugs, bunuh orang, atau segala macam. Gue hidup di mode agama. Gue selalu bertanya sama orangtua, tunjukkan di agama mana dikatakan bahwa kalau melihat suatu kejahatan lebih baik diam dan pura-pura enggak nanya. apa bedanya kita sama penjahat itu kalau kita tahu tapi enggak bertindak? Gue tetap akan berhati. Bukan berarti gue di pinggir jalan langsung bertindak dengan kejahatan, enggak konyol juga. Gue lakukan pembelaan pergi ke kaum marjinal. Buat apa kita ke gereja atau masjid tiap minggu tapi cuma bisa diam melihat ketidakadilan.

Pernah merasakan ancaman terberat?

Apa ya, banyak sih setiap hari sih. Itu terakhir mau naik panggung, ada ancaman Kalau Melanie masih naik kita tembak, itu waktu acara di Jakarta menolak reklamasi Pulau G. Gue pakai baju tertutup tapi di dalamnya ada baju reklamasi, jadi ada yang enggak mau gue naik panggung.

Enggak minta pengawalan polisi?

Gue enggak melakukan hal yang salah. Parnoan (takut) pihak mereka malah bawa pengawal beberapa puluh. You Know What? Tuhan belum bilang waktunya (mati) ya belum. Kalau Tuhan sudah bilang waktunya loe bisa mati di tempat tidur di rumah dan kebenaran akan selalu benar salah ya salah. Loe kayak enggak punya Tuhan saja. Gue dengan doa dengan nama Yesus gue jalan ya jalan. Kalau mau waktunya selesai ya selesai. Ada teman gue berkali-kali mau bunuh diri tapi kagak mati-mati sampai sekarang. Tuhan bilang belum ya belum, hahahaha.

Sekarang bagaimana dengan kondisi penyakit kamu?

Gue baru aja MRA, ngetes isi kepala gue yang ada sumbatan di saluran yang mendapat oksigen di kepala. Gue juga masih radiasi. Berhenti sebentar karena tato tangan. Terakhir HPV 16, 18 tinggi. Ya semua pengobatan masih jalan. Gue sih bawa happy saja. Jalan saja.

Ada rasa kekhawatiran penyakit bakal renggut nyawa kamu?

Kanker itu sebenarnya dari pikiran juga kan, musuh terbesar kita penyakit itu ya pikiran. Gue tanya, kalau terus di rumah lalu nangis terus apa sembuh? Mati iya lebih cepat. Mending kalau misal umur gw tinggal seminggu, mending bikin hari-hari seminggu itu lebih berguna, ya enggak.

Perkembangannya bagaimana?

Sekarang gue cukup stabil kok. Sedang bagus enggak gimana-gimana. Tapi gue perhatikan sih kalau lagi down, sedih pengaruhi kesehatan. Tapi sekarang gue lagi cukup stabil, membawa aktivitas ke positif. Guw mau nangis bagaimana kalau ada yang ternyata lebih bermasalah dari gue. Hidup ngalir saja.

Lho ada sumbatan?

Iya, baru dua hari lalu. Ini gara-gara migrain bisa 24 jam per hari berbulan-bulan, plus perdarahan. Mangkanya gue periksa. Sangking seringnya, pas ada yang tanya, gue lagi migrain apa enggak, gue harus mikir ini lagi migrain apa enggak. Bokap (Adrie Subono) yang nyuruh gue periksa, dia yang nemenin ke dokternya eyang (Habibie).

Tetap fight hadapi penyakit kan?

Gini deh, elo pagi, kecuali mau bunuh diri, melek terus ngapain? Mangkanya hadapin harinya, bayar tagihannya, ya, kerja.

Tadi sempat bilang kalau merasa setiap hari adalah hari terakhir hidup, maksudnya?

Gini deh, berasa enggak sih waktu kecil kebayangnya orang meninggal umur 60 tahun. Sekarang banyak yang 30 tahun sudah meninggal. Gue saja kaget waktu Mike Mohede meninggal. Banyak teman-teman kita yang seusia sudah pergi duluan. Emang lu pede banget ya sudah ngobrol sama Tuhan, supaya hidup lu yang ngatur. Nego mati lama, enggak akan bisalah. Gue enggak mau menyesal sebelum mati. Seperti di film-film itu ada flash back, belum lakuin ini lakuin itu. Gue enggak mau nyesel, mangkanya gue minta maaf ke semua orang, bilang i love you ke setiap orang. Gue jalankan apa yang mau gue jalani.

Melanie Subono banyak mengajarkan tentang kehidupan, karena ia pun belajar banyak tentang kehidupan dari apa yang dijalaninya. Pelajaran yang bisa diamabil adalah, jalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya agar kelak tidak ada penyesalan.

(red/ainin/adziroh/LN)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!