Kisah Penipuan Hingga 'Rahasia Kotor' di Balik Tragedi 9/11

redaksi.co.id - Kisah Penipuan Hingga 'Rahasia Kotor' di Balik Tragedi 9/11 Meski 15 tahun sudah berlalu, namun serangan 11 September 2001 atau lebih dikenal dengan peristiwa...

22 0

redaksi.co.id – Kisah Penipuan Hingga 'Rahasia Kotor' di Balik Tragedi 9/11

Meski 15 tahun sudah berlalu, namun serangan 11 September 2001 atau lebih dikenal dengan peristiwa 9/11 masih menyimpan banyak teka-teki. Dan di antaranya terselip pula kisah penipuan hingga ‘rahasia kotor’ yang menanti terkuak.

Pasca-peristiwa 9/11, nama Tania Head menghiasi pemberitaan di berbagai media massa. Ia mengaku sebagai salah satu korban selamat dalam serangan ke Menara Kembar World Trade Center di New York City, Amerika Serikat (AS).

Tania mengklaim kala peristiwa itu terjadi ia tengah berada di Menara Selatan Gedung World Trade Center. Perempuan itu menyaksikan pesawat United Airlines dengan nomor penerbangan 175 menuju ke arahnya sebelum akhirnya menabrak lantai 78 gedung, tempat Head berada.

Ia selamat setelah ditemukan oleh Welles Crowther, seorang pria yang disebut pahlawan dalam tragedi itu karena berhasil menyelamatkan 12 orang. Berdasarkan keterangan Tania, Crowther memandunya menuju jalan keluar ketika itu hingga akhirnya ia lolos dari maut menyusul runtuhnya menara tersebut.

Dan enam hari kemudian, perempuan itu mengaku terbangun di unit luka bakar di sebuah rumah sakit. Pada saat yang bersamaan ia mendapat kabar bahwa sang suami, Dave tewas di Menara Utara.

Kisah Tania Head ini dianggap heroik. Oleh berbagai pihak ia dianggap mewakili kehilangan dan kehancuran akibat peristiwa 9/11.

Perjuangannya membuat Negeri Paman Sam kagum. Cerita Tania bahkan dikisahkan berulang-ulang oleh para pemandu di Ground Zero.

Pengalaman luar biasa yang dialami Tania membuat dirinya menjadi salah satu pendiri World Trade Center Survivor’s Network. Belakangan terkuak, kisah heroik tersebut tak lebih dari karangan Tania belaka.

Kebohongan yang Terkuak

Kebohongan Tania terungkap oleh New York Times. Saat itu media AS tersebut tengah mencari sosok inspiratif untuk dimuat dalam tulisan terkait peringatan ke-6 tragedi 9/11.

“Nama aslinya bahkan bukan Tania Head,” kata penulis ‘The Woman Who Wasnt There’, Angelo Guglielmo kepada NPR, seperti dikutip dari News.com.au.

Gugliemo bertemu Tania saat ia menjadi relawan di Ground Zero.

“Kami langsung berteman saat itu. Ia datang kepadaku dan menceritakan kisahnya,” tambah dia. “Dan air mata seketika menggenangi mataku.”

Padahal, saat 9/11 terjadi, Tania bahkan tak berada di AS. Ia sedang mengambil sekolah bisnis di Barcelona, Spanyol.

“Kemungkinan ia bertemu suaminya, yang memang adalah korban sungguhan, sama sekali tak masuk akal,” kata Guglielmo.

Faktanya, Tania tak pernah menikah.

Sebelumnya tak ada yang mempermasalahkan inkonsistensi kisah Tania. Ia menyebut Dave sebagai suami, kadang sebagai tunangan. Juga tak ada yang menganggap serius saat perempuan itu tak mau menyebut nama belakang pasangannya dengan alasan untuk melindungi privasi orangtua korban.

Ketika Tania mengunjungi monumen yang tertera nama Dave, membawa miniatur taksi kuning, yang mengingatkan pertemuan pertama mereka — semua itu begitu meyakinkan, mengharukan — tak ada satu pun yang tega menuduhnya berbohong.

Hingga akhirnya, artikel tentang Tania Head muncul di New York Times.

“Media mengecek latar belakangnya dan menemukan hal aneh,” kata penulis ‘The Woman Who Wasnt There’ lainnya, Robin Gaby Fisher.

Tania mengklaim sebagai lulusan Harvard dan Stanford. Ia juga mengaku bekerja di World Trade Center sebagai pegawai Merrill Lynch. Namun, namanya tak terdata di 3 lembaga tersebut.

Nama asli Tania Head adalah Alicia Esteve Head. Ia berasal dari keluarga kaya di Spanyol dan memimpikan ketenaran. Meski tak pernah mengincar bantuan dana, perempuan itu berharap kisah palsunya itu bisa dijadikan film dan memberi keuntungan baginya.

Tania pernah berjanji akan mengungkap ‘kisah’ yang sebenarnya. Namun janjinya tak pernah ditepati.

Berjam-jam setelah tragedi 9/11 terjadi, Kurt Sonnenfeld merupakan salah seorang yang diberikan akses bebas masuk ke mana pun di lokasi kejadian. Ia saat itu bekerja untuk Federal Emergency Management Agency (FEMA), sebuah organisasi yang terikat dengan Departemen Keamanan Kementerian Dalam Negeri AS di mana bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan respons perdana setiap bencana.

Berbekal peralatan kamera lengkap, pria itu diminta membuat film tentang seluruh hal yang disaksikannya. Hasil rekaman tersebut nantinya harus ia laporkan.

Namun yang terjadi, Sonnenfeld tak pernah melaporkan rekaman tersebut. Kehidupannya bahkan berubah setelah hari itu dan puncaknya adalah kematian sang istri.

Perempuan yang dicintainya itu ditemukan tewas di sofa rumah mereka di Denver. Terdapat peluru bersarang di bagian belakang kepalanya.

Merasa tak aman dengan hasil rekaman yang didapatnya, Sonnenfeld kabur ke Argentina. Namun ia diminta segera kembali setelah otoritas setempat menuduhnya bertanggung jawab atas kematian sang istri — sesuatu yang dengan konsisten disangkalnya.

Sementara di lain sisi, pria itu justru mengatakan pemerintah AS ingin membungkamnya atas apa yang disaksikannya di bagian bawah gedung WTC 6. Hal tersebut diyakini dapat mencoreng nama baik pemerintahan George W Bush sekaligus menguak tabir serangan 9/11.

Salah satu yang membuat Sonnenfeld urung mengirim rekaman itu adalah fakta bahwa ia menemukan gudang yang jelas sudah ‘dibersihkan’ sebelum serangan itu. Sonnenfeld yakin pemerintah AS tahu akan adanya serangan tersebut.

“Saya sangat yakin kalau agen mata-mata AS tahu akan adanya serangan itu, dan membiarkan itu terjadi,” kata Sonnenfeld.

“Tak hanya tahu kalau itu akan segera terjadi, tapi nyatanya mereka berkolaborasi.”

Menurut artikel New York Times, pintu gudang itu masih utuh, tapi tampak seolah-olah seseorang telah mencoba masuk. Di balik pintu lemari besi ada hampir seribu ton perak dan emas yang ‘dibersihkan’ sebelum peristiwa 9/11 terjadi.

Kisah ini populer di kalangan penggemar teori konspirasi. Termasuk adanya kabar bahwa telah terjadi ‘pertemuan’ di lantai basement WTC 4 jauh sebelum menara tersebut luluh lantak

(red/endarmono/l/idarto/HAS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!