Terkuak Rahasia Hitler Saat di Ambang Kekalahan

redaksi.co.id - Terkuak Rahasia Hitler Saat di Ambang Kekalahan Adolf Hitler 'terkurung' di Berghof, dalam sebuah rumah apik di Obersalzberg, Bavaria bersama dengan kekasihnya, Eva Braun.Selama...

37 0

redaksi.co.id – Terkuak Rahasia Hitler Saat di Ambang Kekalahan

Adolf Hitler ‘terkurung’ di Berghof, dalam sebuah rumah apik di Obersalzberg, Bavaria bersama dengan kekasihnya, Eva Braun.

Selama berlangsungnya peperangan, ia telah sering sakaw, kecanduan kokain, ketergantungan eukodal yang mirip heroin, dan campuran keras vitamin, hormon hewan, dan narkotik. Semuanya disediakan oleh seorang dokter yang dikenal sebagai ‘juru suntik Reich’.

Namun demikian, sejak kekalahan di Stalingrad, ia tidak pernah ke luar rumah dan takut kena salju. Saat itu sudah Februari 1944. Sementara pasukannya mundur dari Ukraina, pihak Inggris sedang menghujani Berlin dengan bom. Banyak sekutunya meninggalkan dia.

Hitler, yang sebelumnya sakit-sakitan, kala itu kembali bugar. Theodor Morell, dokter pribadinya, memberikan suntikan baru vitamin dan hormon. Dokter itulah yang baru saja dianugerahi lencana Salib Ksatria Peperangan.

Sebelum memberikan suntikan, sang ‘Pasien A’ itu “sangat capai dan lelah, kurang tidur”. Setelah penyuntikan, ia “sangat segar, Fuhrer sangat puas!”, demikian yang dikutip dari DailyMail pada Selasa (13/9/2016).

Selain itu, Morell juga menangani Eva Braun, dikenal juga sebagai ‘Pasien B’. Wanita itu meminta asupan zat-zat yang sama dengan Pasien A agar seirama dengannya.

Hitler mendapatkan testosteron untuk libido, sedangkan Braun mendapatkan obat untuk menekan menstruasi supaya irama mereka sama dan setidaknya bisa menikmati seks sejenak di antara rapat-rapat militer yang semakin panjang.

Itulah yang diminati Hitler. Kadang-kadang ia mengaku bahwa hubungan di luar ikatan pernikahan lebih baik dalam beberapa hal, karena berakar kepada ketertarikan seksual yang alamiah.

Ia tampaknya sangat yakin dengan dampak bermanfaat dari cinta jasmani. Menurutnya, tanpa seks maka tidak ada seni, lukisan, ataupun musik. Tidak ada bangsa beradab manapun yang mampu bertahan tanpa persetubuhan di luar nikah — itu menurut Hitler.

Morell juga memberikan informasi tidak langsung tentang jenis persetubuhan yang dilakukan sang fuhrer di Berghof, misalnya ketika di akhir perang ia mengatakan bahwa Hitler kadang-kadang membatalkan perjanjian medis untuk menyembunyikan luka pada sekujur tubuhnya akibat perilaku seksual yang agresif Eva Braun.

Merawat Hitler adalah tugas yang berat. Morell sangat lelah sehingga ia bahkan tidak sanggup naik tangga. Dokter pribadi itu tidak bisa beristirahat karena semuanya memerlukan dia, bukan hanya Hitler dan kekasihnya.

Pasien-pasiennya mencakup para pejabat Reich dan sekutunya. Misalnya, ia merawat Mussolini yang diberi kode ‘Pasien D’. Atau pelaku industri Alfried Krupp dan August Thyssen.

Lalu, para jenderal Gauleiter dan Wehrmacht, kemudian seorang direktur film dan aktris bernama Leni Riefenstahl yang mendapatkan enema morfin.

Kemudian Heinrich Himmler, kepala SS, menteri luar negeri Joachim von Ribbentrop (Pasien X), Albert Speer yang menjabat sebagai Menteri Persenjataan, dan Duta Besar Jepang Jenderal Hiroshi Oshima.

Lalu, istri Hermann Goring yang mendapat suntikan Vitamultin forte tiap dua hari, entah apa isinya.

Semakin banyak orang berpengaruh Naziyang datang kepada Morell, bahkan sebagai cara untuk memberitahukan kedekatan kepada Hitler dan menegaskan jabatan mereka.

Fuhrer itulah yang paling menuntut kepada dokter pribadinya. Kesehatan Morell malah semakin memburuk dan mengeluarkan isi hatinya kepada pasien lain, yaitu istri menteri ekonomi, Walther Funk. Katanya, “Setiap saat, siang dan malam, saya harus mengikuti perintah yang diterima dari atas.”

“Saat itu saya pergi ke tempat Fuhrer pada siang hari untuk memberi perawatan, lalu kembali ke hotel kira-kira jam 2 siang, lalu berbaring di ranjang seharian agar bisa menemani Fuhrer lagi di esok harinya.”

Saat itu, Morell sendiri sudah ketagihan. Asistennya, Dr. Weber, harus bepergian dari Berlin ke Berghof yang terpencil karena “ia paling jago memberikan injeksi, dan satu-satunya yang dijamin bisa menemukan pembuluh darah saya.” Tidak ada catatan tentang jenis perawatan untuk Morell.

Ketika Pasukan Merah menduduki satu per satu kota-kota di Prusia Timur pada November 1944, pembuluh darah Hitler menjadi sangat keras sehingga bahkan Morell yang piawai itu tidak bisa menembusnya.

Kulit pelapis pembuluh yang luka berulangkali menjadi bengkak, menumbuhkan jaringan parut, dan tampak kecoklatan. Morell harus mengambil jeda, katanya, “Saya membatalkan penyuntikan hari ini, supaya luka tusuk sebelumnya sempat sembuh dulu.”

“Bagian kiri dalam siku tampak baik, masih ada bintik-bintik merah (tapi tidak berbintil) di tempat penyuntikan sebelumnya. F bilang tadinya tidak demikian.” Setiap suntikan menciptakan luka baru yang bergabung dengan luka sebelumnya sehingga berderet panjang.

Bahkan Hitler menjadi khawatir tentang banyaknya suntikan pada dirinya, “Ketika saya memberinya suntikan, Fuhrer menganggap saya belum mengusapnya cukup lama dengan alkohol, sehingga muncul bintil merah di tempat tusukan lubang jarumnya.”

Racun kegemaran Hitler adalah eukodal, campuran kuat yang mengandung oksikodon, suatu zat opioid yang diolah dari opium. Ketika zatnya berkurang, ia mulai gemetar, dan semakin parah pada beberapa minggu terakhir tahun 1944.

Morell menyatakan curiga Hitler mengidap Parkinson’s, tapi hal ini tidak bisa dipastikan. Suatu dugaan lain tentang gemetarnya Hitler adalah karena dampak langsung konsumsi narkobasecara kebablasan.

Penggunaan narkoba merebak di antara pasukan tempur Reich untuk yang baru bergabung, bahkan di kalangan para tahanan.

Sejak musim gugur 1944, ketika Jerman mengandalkan perangkat baru berupa kapal selam mini Seehund yang bisa menyusup ke sungai Thames (London) dan pantai-pantai Normandy untuk menghancurkan kapal-kapal sekutu, para pemimpin Nazi menciptakan permen karet kokain bagi para pelaut.

Obat itu dicobakan pada para tahanan di kamp konsentrasi Sachsenhausen di utara Berlin.

Para tahanan dijejali obat dosis tinggi, yaitu 50-100 miligram pil kokain murni, 20 miligram permen karet, atau 20 gram Pervitin (yaitu sabu kristal) dalam bentuk permen karet.

Sekitar 30 menit kemudian, dampaknya mulai. Para tahanan diminta berbaris di jalur pengujian di kamp, bahkan bisa hingga subuh. Antara pukul 04.00 dan 05.00 subuh, setelah berkelanan dalam gelap selama 7 atau 8 jam, kebanyakan di antara mereka menyerah.

Belakangan, seorang mantan tawanan menjelaskan tentang eksperimen ini, “Baru saja sebaris pengawal berbaris melingkar tak henti-henti di lapangan upacara. Semua terkekeh-kekeh dan bernyanyi serta bersiul sambil berjalan.”

Mereka dimanfaatkan untuk menguji pil baru energi. Katanya lagi, “Ada yang bilang bahwa setelah 48 jam, kebanyakan terkapar, walaupun teorinya bilang setelah menenggak pil ini, orang bisa melakukan yang tidak mungkin.”

Pihak Jerman memang berharap demikian. Pada Desember 1944, sekitar 5 ribu Pemuda Hitler, kebanyakan para remaja yang bahkan baru berusia 12 tahun, mendaftarkan diri dan digelandang ke pelabuhan untuk menjadi awak kapal selam mini.

Ketika lapor diri, mereka diberikan jatah khusus, yaitu tablet Pervitin atau permen karet kokain. Para kelasi muda ini dijejali narkoba terberat yang pernah diterima anggota militer manapun yang sedang dinas, tapi kampanye kapal selam itu gagal.

Para kelasi kapal selam yang sedang teler itu jadi mangsa empuk torpedo pasukan Sekutu dan tewas mengenaskan, seperti anak kucing yang tenggelam dalam karung.

Hitler bukan satu-satunya yang menderita dampak samping kelebihan narkoba. Hermann Goring, orang ke dua terkuat di Jerman, juga menjadi ketagihan morfin.

Petinggi yang dijuluki ‘Moring’ ini membawa suntikan buatan pengrajin yang cincin emasnya mencuat keluar dari sarung kulit rusa, menarik suntikannya, menarik lengan baju hijau beludrunya, mengikat lengan, kemudian memicingkan mata mencari tempat yang tepat. Lalu ia menyuntik diri dalam dosis tinggi.

Kebiasaan yang sungguh ceroboh karena menjurus kepada keputusan strategis yang amburadul. Sesaat sebelum Dunkirk pada 1940, ketika sedang teler, ia memutuskan bahwa kemenangan melawan Sekutu tidak boleh diserahkan kepada para pemimpin sombong di Angkatan Darat (Wehrmacht).

Goring khawatir kalau-kalau para jenderal Jerman dielu-elukan rakyat sehingga mengancam posisinya dan posisi Hitler.

Pilot-pilotnya perlu sasaran terbuka sehingga tank-tank Wehrmacht harus mundur sedikit dari wilayah bahaya. Perintah penarikan tank-tank Jerman dari Dunkirk membingungkan para ahli sejarah hingga saat ini.

Ketika pasukan Inggris menyaksikan apa yang terjadi, mereka sungguh-sungguh tidak menduga keberuntungan itu. Dalam waktu singkat, ratusan kapal penolong berdatangan, termasuk kapal penghancur dan kapal-kapal perang lain, bahkan yacht pribadi yang telah disita.

Pasukan Sekutu menyeberangi jembatan darurat terbuat dari papan-papan yang dijajar di atas truk dan kabur pada saat celah ‘mujkizat’ di Dunkirk. Rencana Goring untuk mencuri kemenangan dari udara gagal sejak awal.

Sang Marsekal terlalu percaya diri dalam mimpi morfin, yang menggambarkan pesawat-pesawat pembom Stuka menenggelamkan ribuan kapal penolong Inggris.

Tapi, pada akhir Mei 1944, awan semakin tebal dan menghalangi pandangan mereka. Ternyata Angkatan Udara Inggris (RAF) yang memiliki pangkalan yang lebih dekat memiliki senjata kejutan, yaitu pesawat tempur Spitfire.

Pimpinan komando angkatan darat, Walther von Brauchitsch, berdiri hampir semamput di rumah peta markas besar Jerman. Ia membujuk Hitler untuk diijinkan menyerang lagi dan menuntaskan serangan ini.

Tapi Hitler bersikeras. Dialah yang harus mengatur angkatan darat. Hanya dialah yang menjalankan perang ini. Lebih dari 340 ribu tentara Inggris, Prancis, dan Belgia meloloskan diri sehingga pihak Sekutu terhindar dari kekalahan total.

Tersingkapnya penyalahgunaan narkoba oleh Hitler dan para jenderalnya tidak menyurutkan perilaku jahanam mereka. Hitler tidak membunuh karena sedang teler, tapi sebaliknya. Ia tetap waras hingga akhirnya.

Ketika sudah kehabisan eukodal, ia memilih peluru. Ia tergesa-gesa menikahi Braun dan merayakannya dengan sepiring spaghetti yang saus tomatnya disisihkan di tepi, kapsul sianida untuk Eva, dan sebutir peluru 6,35 mm ditembakkan dari sepucuk Walther ke otaknya.

Pada 30 April 1945, kira-kira jam 15.30 sore, sang Pasien A meninggal dunia, sementara bangsa Jerman diseret ke dalam bencana oleh seorang pecandu kelas berat.

(red//ur/sikin/MNA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!