Pengakuan Keluarga Buntuti Tukang Becak Naik Haji

238

redaksi.co.id – Pengakuan Keluarga Buntuti Tukang Becak Naik Haji

Tak hanya keluarga yang bingung, teman tukang becak satu pangkalan dengan Kasrin (59) di depan Masjid Jami Lasem, Rembang juga merasa takjub.

Tak sedikit mereka yang sangsi berbalik meyakini kebenaran cerita Kasrin naik haji didaftarkan oleh Bu Indi, pelanggan setianya sekian puluh tahun.

“Orangnya itu lurus dan khusyuk, tekun beribadah dia,” Ngatemen (45), tukang becak di sekitar Pasar Lasem, menjelaskan sekilas tentang Kasrin, Rabu (14/9/2016).

Tribun Jateng mendatangi rumah Kasrin (59) di Dukuh Gembul, Desa Sumberejo, Kecamatan Pamotan, Selasa (13/9/2016). Ia bikin heboh karena mengaku naik haji meski tidak terdaftar sebagai calon haji di Kemenag Rembang untuk keberangkatan musim haji 2016. TRIBUN JATENG/RIVAL ALMANAF

Ngatemen dan banyak tukang becak tak percaya Kasrin pergi haji. “Sekarang rata-rata ya sudah percaya, mungkin itu keajaiban,” ia menduga.

Tukang becak lainnya, Jasmani (55), sudah mendengar cerita tentang Bu Indi, pelanggan dan orang yang memberangkatkan Kasrin ke Tanah Suci.

Berdasarkan cerita yang ia dengar, Indi adalah warga Desa Ngemplak, Kecamatan Lasem, yang telah menjadi pelanggan Kasrin selama 21 tahun.

“Ceritanya, rumah Bu Indi itu berada persis di belakang Balai Desa Ngemplak, bercat hijau. Tapi anehnya, saat dicari tak ada yang tahu,” ungkap Jasmani.

Adik kandung Kasrin, Rasman (51), saking penasarannya ia pernah mengitari Desa Ngemplak menggunakan motor untuk mencari tahu sosok Bu Indi. Setiap gang-gang kecil di desa tersebut ia masuki tapi tak menemukan Bu Indi.

Istiqomah menunjukan surat dari Bu Indi yang memohon izin mengajak ayahnya, Kasrin, tukang becak yang biasa mangkal di depan Masjid Jami Rembang, untuk naik haji. Foto diambil di rumahnya di Dukuh Gembul, Desa Sumberejo, Kecamatan Pamotan, Selasa (13/9/2016). TRIBUN JATENG/RIVAL ALMANAF

Rasman pernah mendengar, kakak sulungnya itu menceritakan Bu Indi adalah anak pasangan Sutikno dan Elsa.

“Kakak sulung saya itu memang pelanggannya dari anak-anak sekolah, sementara saya kebanyakan pedagang di pasar, ngantar-ngantar barang dan endog (telur, red),” jelas dia.

Satu kali Rasman bertemu Kasrin di Pasar Lasem. Keduanya saling sapa dan sempat mengobrol sebentara. Ia mendengar Kasrin pergi ke pasar membeli pisang ulin bersama Bu Indi.

“Saya membuntuti, tak tahunya sekitar jarak 10 meter kemudian ia hilang di tikungan. Saya cari-cari sudah tidak ada. Aneh sekali memang,” Rasman mengenang kejadian itu.

Khumaidah (45), istri Rasman, pernah mendengar kakak iparnya sempat mengaku tak jadi berangkat ke tanah suci lantaran takut menimbulkan kehebohan, jelang keberangkatan.

“Sempat bilang begitu, tapi tahu-tahu akhirnya memang berangkat,” ucap Khumaidah.

Sekitar tiga hari setelah berangkat Kasrin sempat tiba-tiba pulang. Ia kemudian disebut-sebut kembali menghilang dan pergi ke Tanah Suci setelah menemui istri tercintanya, Jumiati (54).

(red/ainin/adziroh/LN)

loading...

Comments

comments!