Saksi: Presiden Duterte Pernah Tembak Mati Orang Pakai Uzi

redaksi.co.id - Saksi: Presiden Duterte Pernah Tembak Mati Orang Pakai Uzi © Copyright (c) 2012 foto Presiden Filipina...

47 0

redaksi.co.id – Saksi: Presiden Duterte Pernah Tembak Mati Orang Pakai Uzi

© Copyright (c) 2012 foto

Presiden Filipina Rodrigo Duterte dituding pernah menembak mati agen di Departemen Hukum Filipina dengan senjata mesin jenis Uzi.

Mantan regu jagal Davao (Davao Death Squad-DDS) Edgar Matobato mengungkapkan hal itu kepada Senat. Matobato, 57 tahun, melanjutkan, penembakan yang dilakukan Duterte terjadi pada tahun 1993 dalam sebuah bentrok di jalanan.

Saat itu Duterte menjabat wali kota Davao.”Wali kota Duterte yang menghabisi agen itu. Agen bernama Jamisola, masih hidup saat Duterte tiba. Lalu dia (Duterte) menembakkan Uzi, hingga habis dua magasin,” kata Matobato seperti dikutip dari BBC.

Selain penembakan itu, Matobato mengungkapkan pernah diperintah untuk membunuh sekitar 1.000 pejahat dan rival politik Duterte. Salah satu yang jadi target Duterte adalah Prospero Nograles, saingan politiknya di Davao.

Matobato dihadirkan oleh Senator Leila de Lima untuk bersaksi di hadapan Senat pada Kamis, 15 September 2016. Kesaksian ini sebagai kelanjutan dari rapat dengar pendapat Komite Senat untuk keadilan dan hak asasi manusia mengenai serentatan pembunuhan di Filipina.

Matobato, saat bersaksi, menyatakan dirinya sempat bergabung dalam pasukan eksekutor Davao, kelompok yang dianggap bertanggung jawab atas ratusan kasus pembunuhan.

“Tugas kami adalah untuk membunuh penjahat, seperti pengedar narkoba, pelaku kejahatan seksual, dan perampok,” ujarnya.

Korban yang telah dibunuh lalu dibuang ke laut agar hilang dimakan ikan. Ada kalanya korban diumpankan ke buaya.

Menanggapi kesaksian Matobato, Menteri Hukum Filipina Vitaliano Aguirre menyebut kesaksian Matobato direkayasa. Juru Bicara Kepresidenan Martin Andanar pun menyatakan bahwa penyelidikan terhadap riwayat Duterte selama menjabat wali kota sudah terpublikasi.

“Tak mungkin presiden bisa memerintah mereka (kelompok pembunuh),” ujar Martin.

Anak Prospero Nograles, Karlo, pun menyangkal kesaksian Matobato mengenai ayahnya yang jadi target pembunuhan Duterte saat di Davao.

“Saya tidak tahu apa yang orang ini bicarakan,” ujarnya lewat akun media sosial Facebook. “Menurut saya, ada yang menyuruh orang ini (Matobato) untuk kepentingan tertentu.” BBC | YOHANES PASKALIS

(red/iti/mi/anik/SUH)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!