Cerita Korban Meninggal Overdosis di Padepokan Gatot Brajamusti

redaksi.co.id - Cerita Korban Meninggal Overdosis di Padepokan Gatot Brajamusti Sedikit demi sedikit cerita tentang apa yang terjadi di padepokanGatot Brajamustimulai terkuak. Beberapa korban yang ada...

67 0

redaksi.co.id – Cerita Korban Meninggal Overdosis di Padepokan Gatot Brajamusti

Sedikit demi sedikit cerita tentang apa yang terjadi di padepokanGatot Brajamustimulai terkuak. Beberapa korban yang ada dalam naungan kantor hukum Elza Syarief pun mulai menceritakan kejadian-kejadian yang ada selama di padepokan yang terletak di Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat.

Selain pemakaian sabu yang disebut sebagai aspat, juga adanya seks bebas atau pesta seks di sana, ternyata praktek aborsi yang tidak sesuai dengan ilmu kedokteran pun dilakukan di padepokan.

“Ada yang meninggal. Dalam rangka menggugurkan tujuannya, entah ilmu dari mana itu. Kalau aborsi kan prakteknya kita sedikit banyak tahu, dilakukan oleh dokter, kuret dan lainnya,” tutur Vidi Galenso Syarief, tim kuasa hukum korban Gatot Brajamusti di kantornya, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Ditambahkan oleh Vidi, praktek aborsi yang dilakukan oleh Gatot Brajamusti kepada murid wanita yang hamil karena perbuatannya itu sangat mengerikan. Satu korban yang meninggal karena overdosis ini dicekoki aspat alias sabu melalui oral dan alat kelaminnya.

“Tapi ini tidak (sesuai medis). Karena sabu yang biasanya dihisap, ini dicekokin, tak hanya melalui oral, tapi juga melalui, maaf, vagina. Akhirnya dia overdosis, meninggal,” tuturnya.

Satu korban yang akhirnya melaporkan Gatot Brajamusti, CT pun pernah diminta untuk menggugurkan kandungannya. “CT hamil, disuruh digugurkan. Akhirnya bertahan dan keluar. Makanya ada anak yang sekarang berusia 4 tahun itu,” tukas Vidi.

Melaporkan Gatot Brajamusti, CT hanya berharap tak ada korban yang lain. “Pengen jangan sampai ada lagi korban selanjutnya, harus berhenti. Dia juga pengen punya masa depan. Rehabilitasi psikologis dan narkoba. Usia CT sekarang sekitar 26,” ujar VidiGalensoSyarief.

(red/ris/ahyudianto/AW)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!