Populasi Badak Sumatera Kritis, Perlu Konservasi Mirip Jawa

redaksi.co.id - Populasi Badak Sumatera Kritis, Perlu Konservasi Mirip Jawa Indonesia adalah rumah dua dari lima spesies badak yang tersisa di bumi. Kedua spesies badak Indonesia...

27 0

redaksi.co.id – Populasi Badak Sumatera Kritis, Perlu Konservasi Mirip Jawa

Indonesia adalah rumah dua dari lima spesies badak yang tersisa di bumi. Kedua spesies badak Indonesia hidup di area konservasi di Jawa Barat dan Sumatera. Namun mereka masih menghadapi sejumlah masalah di habitatnya.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan jumlah badak Jawa ( Rhinoceros sondaicus) sebanyak 63 ekor. Populasi badak Sumatera ( Dicerorhinus sumatrensis ) diperkirakan kurang dari seratus ekor. Namun kondisi badak Sumatera dinilai tak sebaik kerabat mereka di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Meski populasinya lebih besar, keberadaan badak Sumatera tersebar dalam subpopulasi yang lebih kecil.

Peluang pertumbuhan populasi badak Sumatera relatif lebih rendah ketimbang badak Jawa, kata Yuyun Kurniawan, Koordinator Program Proyek Ujung Kulon World Wildlife Fund (WWF)-Indonesia, dalam siaran pers, 22 September 2016, bertepatan dengan peringatan Hari Badak Sedunia.

Menurut Yuyun, jika tidak dilakukan upaya proaktif pada kelompok badak Sumatera, ancaman kepunahan lokal spesies itu bisa terjadi. Untuk menyelamatkan badak Sumatera yang semakin kritis, perlu pendekatan konservasi berbasis spesies seperti yang dilakukan pada badak Jawa, ujarnya.

Populasi badak Jawa bisa meningkat karena usaha konservasi berbasis spesies. Pada 1970, menurut data WWF, ada 47 ekor badak Jawa. Satu dekade kemudian, populasinya menjadi 51 ekor. Dua tahun lalu, jumlahnya diketahui ada 57 ekor dan kini menjadi 63 ekor. Namun badak Jawa kini menghadapi masalah terbatasnya luas habitat yang mampu menampung pertumbuhan populasinya.

Masalah lain yang dihadapi badak Jawa adalah pertumbuhan pohon langkap ( Arenga obsitulia) yang sangat cepat. Tanaman invasif ini menghambat pertumbuhan tanaman pakan badak Jawa di Ujung Kulon. Arnold Sitompul, Direktur Konservasi WWF-Indonesia, mengatakan harus ada inovasi baru dalam konservasi badak Sumatera.

Mendorong program pembiakan semi-alami yang lebih aktif, tuturnya. Pengelolaan habitat badak Jawa, kata Arnold, juga harus dilakukan lebih agresif. Dengan mengendalikan langkap yang merupakan spesies invasif dan sangat mengganggu habitat asli badak.

Pemerintah Indonesia mencanangkan target pertumbuhan populasi sebesar 10 persen untuk 25 satwa dilindungi, termasuk badak Jawa dan Sumatera, pada periode 2015-2019. Untuk badak Jawa, target ini hampir terpenuhi. Namun hal serupa tidak terjadi pada badak Sumatera yang menyusut hingga 50 persen dalam sepuluh tahun terakhir. Bahkan, di Kerinci Seblat, yang merupakan salah satu kantor populasi, sudah tidak ditemukan lagi badak Sumatera sejak 2008. GABRIEL WAHYU TITIYOGA

(red/aini/J)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!