5 Mimpi Buruk Timnas Indonesia di Ajang Piala AFF

redaksi.co.id - 5 Mimpi Buruk Timnas Indonesia di Ajang Piala AFF Sudah 10 edisi Piala AFF digelar, namun Timnas Indonesia belum sekalipun merasakan nikmatnya menjadi juara....

14 0

redaksi.co.id – 5 Mimpi Buruk Timnas Indonesia di Ajang Piala AFF

Sudah 10 edisi Piala AFF digelar, namun Timnas Indonesia belum sekalipun merasakan nikmatnya menjadi juara. Tim Merah-Putih bahkan empat kali merasakan pahitnya kalah di final turnamen sepak bola elite kawasan Asia Tenggara tersebut.

Thailand dan Singapura tercatat sebagai negara pengoleksi gelar terbanyak Piala AFF (awalnya bernama Piala Tiger). Masing-masing meraih empat trofi.

Tim Negeri Gajah Putih menjadi yang terbaik di Piala AFF edisi 1996, 2000, 2002, dan 2014. Di sisi lain, Tim Negeri Singa tercatat sebagai kampiun turnamen di edisi 1998, 2004, 2007, dan 2012.

Dua gelar tersisa Piala AFF diraih Vietnam (2008) dan Malaysia (2010).

Tim Garuda mencatatkan diri sebagai negara kedua yang terbanyak lolos ke final. Timnas Indonesia lolos ke laga puncak pada edisi 2000, 2004, 2007, dan 2012. Vietnam jadi negara paling sering runner-up, yakni sebanyak lima kali. Tim Negeri Paman Ho sukses ke final pada Piala AFF seri 1996, 2002, 2007, 2010, dan 2014.

Pelatih Timnas Indonesia, Alfred Riedl, menyadari begitu hausnya pencinta sepak bola Tanah Air terhadap gelar juara. “Saat menerima tawaran PSSI untuk melatih Timnas Indonesia pada Piala AFF 2016, saya menyadari betul ekspetasi tinggi masyarakat Indonesia. Mereka amat ingin timnas menjadi yang terbaik, sudah begitu lama negara ini menanti momen mengangkat gelar juara,” kata arsitek asal Austria tersebut.

Apesnya, menyongsong Piala AFF 2016 sepak bola Indonesia diguncang konflik berkepanjangan antara PSSI dengan Kemenpora. Kompetisi profesional Indonesia mati suri lebih dari setahun. Sanksi FIFA buntut dari konflik tersebut membuat Tim Merah-Putih hilang dari peredaran persaingan internasional.

Saat negara-negara pesaing memulai persiapan awal tahun, bahkan ada yang sudah melakukannya sejak pertengahan 2015 silam, Timnas Indonesia baru menggelar pelatnas sejak bulan Agustus lalu.

Pelatnas terasa hambar karena minimnya laga uji coba. PSSI baru mengunci Malaysia sebagai lawan uji coba bagi tim asuhan Alfred Riedl.

PSSI sempat menyebut nama Myanmar, sebagai kandidat lawan latih tanding bagi Boaz Solossa dkk. pada bulan Oktober. Namun belakangan federasi meralatnya. Mereka mengganti lawan menjadi Vietnam pada 9 Oktober.

Pertandingan persahabatan antara keduanegara digelar di Stadion Maguwoharjo, Sleman, pada 9 Oktober. Sebelumnya Indonesia menjajal Malaysia pada 6 September di Stadion Manahan, Solo.

Timnas Indonesia terusir dari Jakarta karena Stadion Utama Gelora Bung Karno tak bisa dipakai untuk lokasi pelatnas dan bertanding. Stadion terbesar di Indonesia terserbut sedang dipugar buat keperluan Asian Games 2018.

Terlepas dari fakta persiapan Tim Garuda serba minimalis. Sejarah menunjukkan kalau Indonesia bukan tium ayam sayur di persaingan Piala AFF. Dari 10 pergelaran Indonesia hanya tiga kali gagal lolos ke fase semifinal, yakni pada edisi 2007, 2012, dan 2014.

Indonesia selalu dihitung sebagai lawan yang berat oleh para pesaing. “Secara tradisi Indonesia merupakan tim elite di kawasan ASEAN. Seberapa sulit tantangan yang mereka hadapi, Indonesia tetaplah kandidat juara yang layak diperhitungkan,” ungkap Ong Kim Swee, pelatih Malaysia.

Dengan kondisi serba minimalis Timnas Indonesia menghantam Malaysia dengan skor telak 3-0. Kemenangan itu seakan membenarkan komentar Ong Kim Swee.

Skuat Timnas Indonesia menghadapi Piala AFF 2016 terasa segar dengan kehadiran pemain-pemain muka baru. Banyak di antara pemain muda minim pengalaman internasional, tetapi mereka punya semangat memberikan yang terbaik bagi negara.

Namun, kemenangan meyakinkan yang diraih atas Malaysia janganlah membuatEvan Dimas cs. besar kepala. Kutukan spesialis runner-up membayangi perjuangan Timnas Indonesia di Filipina nanti.

Bola.com mengajak pembaca mengenang momen-momen yang menjadi mimpi buruk bagi Timnas Indonesia saat berlaga di ajang Piala AFF. Menyesakkan, namun hal itu bagian dari sejarah. Kapan dan bagaimana ceritanya?

Sepak Bola Gajah Tahun 1998

Sejarah kelam tercatat pada Piala Tiger 1998 (nama lawas Piala AFF). Timnas Indonesia tersandung kasus sepak bola gajah yang menghebohkan dunia internasional.

Sosok bek Tim Merah-Putih, Mursyid Effendijadi perbincangan hangat publik sepak bola nasional gara-gara insiden gol bunuh diri yang dilakukannya ke gawang Thailand.

Pemain yang dibesarkan Persebaya Surabaya tersebut dihukum FIFA aktif sebagai pemain selama seumur hidup. Vonis itu diterima saat usianya masih di usia emas, yakni 26 tahun.

Mursyid dianggap dengan sengaja menjebol gawangnya sendiri dalam duel akhir penyisihan Grup A saat melawan Tim Negeri Gajah Putih. Tujuannya untuk menghindari tuan rumah Vietnam di laga semifinal Piala Tiger.

Di pengujung pertandingan saat skor pertandingan dalam situasi skor imbang 2-2, Mursyid yang berposisi sebagai stoper kemudian secara sengaja menendang bola ke dalam gawang sendiri.

Pertandingan yang dihelat di Stadion Thong Nhat, Ho Chi Minh City, pada 31 Agustus 1998 itu sendiri akhirnya dimenangi oleh Thailand dengan skor 3-2. Sepanjang pertandingan kedua tim, yang sudah memastikan lolos ke fase semifinal, terlihat tidak mau menang.

Dibanding kubu lawan, Indonesia berpeluang menjadi jawara Grup A setelah mengantungi kemenangan melawan Filipina 3-0 dan Myanmar 6-2. Sementara itu, Thailand lolos ke semifinal setelah bermain imbang 1-1 kontra Myanmar dan menang 3-1 melawan Filipina.

Apesnya saat berjumpa Singapura di semifinal, Indonesia kalah 1-2. Di sisi lain Thailand digilas tiga gol tanpa balas oleh Vietnam. Tim Negeri Singa akhirnya jadi tim terbaik di Asia Tenggara kala itu setelah menang tipis 1-0 melawan Vietnam.

Gol bunuh diri Mursyid bikin geger dunia karena sampai membuat FIFA turun tangan. Hukuman skorsing seumur hidup dijatuhkan ke sang pemain. Untungnya, hukuman itu hanya berlaku di level internasional.

Di dalam negeri dia cuma dicekal selama satu tahun. Timnas Indonesia dan Thailand juga diganjar denda 40 ribu dolar AS. Ketua umum PSSI kala itu, Azwar Anas, merasa ikut menanggung malu dan meletakkan jabatannya. Ia digantikan Agum Gumelar.

Kasus sepak bola gajah menyisakan misteri. Konon Mursyid dan penggawa Tim Garuda lainnya diinstruksikan oknum pengurus PSSI untuk mengalah dari Thailand. Pelatih Timnas Indonesia, Rusdy Bahalwan, yang tahu banyak soal kasus ini memilih bungkam bertahun-tahun hingga dirinya berpulang ke Sang Pencipta.

Ketika dikorek kasusnya, Mursyid selalu mengelak. “Kasus itu sudah bagian masa lalu, saya tidak mau mengungkitnya lagi,” ungkapnya.

Drama Adu Penalti di Senayan 2002

Bertindak sebagai tuan rumah penyisihan, semifinal, dan final, Timnas Indonesia punya peluang besar jadi yang terbaik di Piala Tiger. Kekuatan Tim Merah-Putihamat mentereng kala itu. Pelatih Ivan Kolev memboyong hampir seluruh pemain terbaik Tanah Air saat Timnas Indonesia tampil di Piala AFF.

Para pemain yang dididik di Italia lewat program Primavera dan Baretti pada pertengahan 1990, tengah berada di usia matang, bekerja sama dengan bintang-bintang papan atas kompetisi domestik kala itu.

Hendro Kartiko (kiper), Sugiyantoro, Nur’Alim (bek), Imran Nahumarury, Yaris riyadi, Elie Aiboy, I Putu Gede (gelandang), Bambang Pamungkas, Gendut Dony (striker), menyajikan kengerian bagi lawan-lawan yang dihadapi.

Akan tetapi langkah tim besutan Kolev tidaklah mulus. Mengawali duel penyisihan Grup A dengan hasil imbang 0-0 melawan Myanmar, Indonesia akhirnya melenggang ke semifinal dengan status runner-up grup setelah mengantungi kemenangan 4-2 atas Kamboja, 3-3 Vietnam, serta 13-1 Filipina.

Seret di penyisihan Timnas Indonesia melenggang ke final setelah menang tipis 1-0 atas seteru abadi, Malaysia. Gol kemenangan Tim Garuda dicetak Bambang Pamungkas. Di sisi lain Thailand melaju ke final setelah menang 4-0 atas Vietnam. Duel puncak turnamen yang dilaksanakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, pada 29 Desember 2002 berlangsung sengit.

Sempat ketinggalan 2-0, Tim Merah-Putih memaksakan skor imbang 2-2 lewat gol Yaris Riyadi (46′) dan Gendut Dony (79′). Hingga usai perpanjangan waktu papan skor tidak berubah. Dukungan 100 ribu penonton (menurut data AFF) menebalkan keyakinan Indonesia bakal bisa jadi yang terbaik di edisi Piala AFF kali ini.

Dan benar saja, Indonesia sempat berada di atas angin setelah Kiatisuk Senamuang gagal mengesekusi tendangan penalti, sementara Bambang Pamungkas sukses menjalankan tugasnya.

Tetapi situasi berubah, setelah secara beruntun penalti Sugiyantoro dan Sandy Firmansyah dimentahkan kiper Thailand. Di sisi lain Tim Negeri Gajah Putih selalu sukses menceploskan bola ke gawang Hendro Kartiko.

Thailand menutup skor final 4-2. Momen kegagalan ini menyisakan kesedihan bagi Bambang Pamungkas. Ia tercatat jadi Top Scorer Piala Tiger 2002 dengan torehan delapan gol, namun gagal mempersembahkan trofi ke suporter.

“Buat saya gelar Sepatu Emas terasa hambar karena Timnas Indonesia dipermalukan di kandang sendiri oleh Thailand,” ungkap Bambang yang dikenal dengan nomor punggung khas 20 tersebut.

Boaz Solossa Cedera di Final 2004

PSSI kepengurusan Nurdin Halid melakukan gebrakan dengan membajak pelatih Timnas Thailand, Peter Withe. Arsitek asal Inggris itu didatangkan dengan ekspetasi tinggi mengantar Tim Merah-Putih jadi yang terbaik di Piala AFF 2004.

Peter melakukan peremajaan besar-besaran jajaran pemain Tim Merah-Putih. Tak banyak nama pemain veteran Piala Tiger 2002 tersisa dalam skuat asuhannya. Timnas Indonesia Piala AFF 2004 terasa lebih segar dengan kehadiran sejumlah pemain muda, layaknya: Hamka Hamzah, Mahyadi Panggabean, Ricardo Salampessy, Saktiawan Sinaga, serta Boaz Solossa.

Nama pemain yang terakhir disebut sebuah fenomena.Boaz Solossa , yang masih berusia 19 tahun kala tampil di Piala AFF 2004 belum bergabung di klub profesional. Bakatnya tercium setelah membela tim Papua di PON Sumatera Selatan 2004.

Dan benar saja bertanding di Ho Chi Minh City, Vietnam, Timnas Indonesia menggila. Ilham Jayakesuma dkk. menjadi juara grup A dengan rekor produktivitas yang amat tajam. Indonesia mencetak 17 gol dan tidak kemasukan di empat laga yang dijalani.

Salah satu kemenangan sensasional yang diraih adalah ketika Indonesia menggasak tuan rumah Vietnam dengan skor telak 3-0!

Duet Boaz Solossa dan Ilham Jayakesuma jadi momok bagi lini belakang lawan. Pada penyisihan Ilham mencetak enam gol, sementara itu Boaz tiga gol. Tantangan mulai menghadang saat babak semifinal. Secara mengejutkan Malaysia mempermalukan Indonesia di SUGBK pada leg pertama. Tim Negeri Jiran menang 2-1.

Timnas Indonesia akhirnya lolos ke final Piala AFF 2004 secara dramatis setelah menghantam Malaysia pada leg kedua di yang dihelat di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur.

Pada pertandingan tersebut Tim Merah-Putih sempat tertinggal 1-0 pada paruh pertama pertandingan. Pencinta sepak bola nasional sudah pasrah dengan peluang lolos ke partai puncak.

Namun, pada babak kedua tim asuhan Peter Withe menggila, secara beruntun Kurniawan Dwi Yulianto, Charis Yulianto, Ilham Jayakesuma, dan Boaz Solossa menjebol gawang Tim Harimau Malaya. Skor akhir 4-1 buat Indonesia.

“Kami bermain kesetahan, tak memedulikan cibiran suporter Malaysia yang memenuhi stadion. Puas rasanya bisa menjebol gawang mereka sampai empat kali,” ungkap Kurniawan Dwi Yulianto, striker jebolan Primavera yang kerap jadi supersub sepanjang turnamen.

Petaka terjadi pada duel final pertama Piala AFF 2004 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, pada 8 Januari 2005. Pada pertengahan babak pertama, Boaz Solossa ditandu keluar setelah mengalami retak kaki kiri setelah ditekel bek Singapura, Bhaihaki Khaizan.

Sebelumnya Bhaihaki juga berulangkali melakukan aksi kasar berusaha mematikan pergerakan striker asal Papua tersebut dari sisi sayap kiri. Tanpa Boaz, Timnas Indonesia seperti kehilangan roh permainan dan kalah 1-3.

Pelatih Singapura, Radojco Avramovic, pasca laga mengakui bahwa dirinya meminta para bek Tim Negeri Singa untuk bermain keras mematikan Boaz Soloosa, yang ia sebut sebagai pemain paling berbahaya di Timnas Indonesia. Publik sepak bola Indonesia marah, namun tidak bisa berbuat apa-apa.

Menjelang final kedua di Stadion Nasional Singapura, Boaz berjuang menyembuhkan cedera dengan pengobatan alternatif Papua. Sayang upayanya untuk pulih gagal. Ia tetap hanya bisa menyaksikan rekan-rekannya bertanding dari pinggir lapangan.

Indonesia gagal juara setelah pada leg kedua kembali menderita kekalahan 2-1. “Sejujurnya kaki saya gatal ingin membantu teman-teman di lapangan, tapi apa daya gara-gara Bhaihaki saya kehilangan kesempatan bermain,” ujar Boaz Solossa dengan nada satir. Tragis benar nasib yang dialami Indonesia.

Surat Kaleng Pasca Kegagalan Final 2010

Masyarakat dilanda euforia terhadap Timnas Indonesia di pentas Piala AFF 2010. Tim Garuda yang diasuh pelatih asal Austria,Alfred Riedl, gagal juara setelah ditaklukkan Malaysia 2-4 pada laga puncak yang menggunakan format home and away.

Walau begitu, pencinta sepak bola nasional merasa puas dengan penampilan para bintang timnas seperti Firman Utina, Irfan Bachdim, Oktovianus Maniani, Ahmad Bustomi, dan Cristian Gonzales.

Sepanjang turnamen Tim Merah-Putih tampil amat dominan mulai dari penyisihan hingga semifinal. Raksasa Asia Tenggara, Thailand, dipaksa angkat koper di babak penyisihan setelah digasak 2-1. Penggawa Timnas Indonesia juga sempat menang telak 5-1 Malaysia.

Kekalahan pada duel puncak bak sebuah kejutan. Tak ada yang menyangka jika Tim Merah-Putih tanpa ampun digelontor tiga gol tanpa balas oleh Tim Harimau Malaya di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur. Pertandingan leg pertama final berlangsung panas, Timnas Indonesia sempat berniat melakukan boikot karena kiper, Markus Horison berberapa kali diganggu tembakan sinar laser dari suporter Malaysia.

“Mereka menghalalkan segala cara untuk bisa menang. Konsentrasi saya terganggu dengan tembakan sinar laser ke arah mata,” ucap Markus.

Nyatanya aksi protes tak memengaruhi hasil akhir pertandingan. Tim Garuda tetap kalah dan kesulitan mengejar defisit gol pada final kedua.

Sejatinya Timnas Indonesia punya peluang melakukan revans dengan kemenangan skor identik di SUGBK. Sayang peluang tersebut mentah setelah Firman Utina gagal mengeksekusi tendangan penalti. Tim asuhan Alfred Riedl hanya menang 2-1.

“Kekalahan amat menyakitkan. Para pemain terlalu percaya diri pada final pertama. Mereka menganggap dirinya sudah pasti juara karena pernah mengalahkan Malaysia di penyisihan. Ternyata, Anda lihat sendiri bagaimana Malaysia mampu bangkit dan membalikkan keadaan,” papar Alfred.

Namun, kontroversi mencuat seiring munculnya surat kaleng ke media, soal adanya pengaturan skor di final Piala AFF 2010. Dugaan adanya andil dua oknum petinggi PSSI menjual pertandingan leg pertama final Piala AFF 2010 antara Malaysia melawan Indonesia mencuat ke permukaan menyusul aduan Eli Cohen melalui surat elektronik yang ditujukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat itu.

E-mail dengan subjek “Mohon Penyelidikan Skandal Suap Saat Piala AFF di Malaysia” itu juga ditembuskan kepada Menpora, Ketua KPK, Ketua DPR, dan Ketua KONI. Eli Cohen (nama seorang agen Mossad, dinas rahasia Israel), sendiri mengaku sebagai pegawai pajak di lingkungan kementerian Keuangan RI.

Transkrip surat menyebutkan ada kejanggalan hasil akhir 3-0 untuk tuan rumah Malaysia. Kekalahan Indonesia sepertinya sudah ditentukan sebelum pertandingan dimulai karena diduga ada skandal permainan suap yang dilakukan bandar judi Malaysia dengan oknum petinggi PSSI.

Dengan kekalahan itu, baik bandar judi Malaysia maupun oknum petinggi PSSI telah meraup untung puluhan miliar rupiah. Untuk melancarkan operasinya, kedua oknum petinggi PSSI sempat masuk ke ruang ganti pemain dan memberikan instruksi skenario busuk kepada oknum pemain yang akhirnya berulah hingga menjatuhkan mental seluruh tim.

Gangguan sinar laser suporter Malaysia dalam laga tersebut disebut sang pembuat surat hanya bagian kecil dari skandal guna menutupi skenario suap yang sebenarnya.

Eli Cohen tidak hanya menuding oknum petinggi PSSI sebagai penyebab kekalahan Tim Merah-Putih, tetapi juga menuding sejumlah nama petinggi PSSI yang mendapatkan keuntungan besar dari kekalahan tersebut.

Mencuatnya surat elektronik tersebut membuat posisi Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, tersudut. Sejak tersandung kasus korupsi yang berujung masuk bui, tekanan meminta politisi asal Partai Golkar tersebut mundur dari PSSI deras mengalir.

Hanya saja posisi Nurdin aman karena mayoritas anggota PSSI masih memberi dukungan. Selepas Piala AFF, suporter berbagai klub Tanah Air turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi ke Kantor PSSI. Pada saat itu mereka menolak pencalonan kembali duet Nurdin Halid-Nirwan Dermawan Bakrie.

Gerakan mengusung calon baru, Geroge Toisutta serta Arifin Panigoro, yang diyakini bisa membawa perubahan menyeruak. Kongres PSSI di Kepulauan Riau berlangsung ricuh, karena sikap keras pengurus teras PSSI menolak pencalonan GT-AP. Pada ujungnya empat calon Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum PSSI dicoret oleh FIFA. Mereka tidak diperbolehkan mencalonkan diri.

Posisi Nurdin Halid kian oleng saat Menpora, Andi Mallarangeng, mengeluarkan surat pembekuan aktivitas PSSI. Kisruh yang melibatkan anggota-anggota PSSI terus memanas. FIFA menginstruksikan pembentukan Komite Normalisasi PSSI yang diketuai Agum Gumelar. Komite ini bertugas melakukan pemilihan kepengurusan PSSI.

Dalam Kongres Luar Biasa PSSI di Solo pada 2011 figur duet Djohar Arifin-Farid Rahman memenangi voting.Keduanya jagoan yang dimunculkan George Toisutta dan Arifin Panigoro, yang tidak bisa mencalonkan diri oleh FIFA.

Timnas Minimalis 2012 Imbas Dualisme Kompetisi

Nilmaizar yang ditunjuk PSSI untuk menukangi Timnas Indonesia untuk keperluan tampil di Piala AFF 2012 dihadapkan situasi sulit. Sepak bola Indonesia tengah dilanda konflik panas dualisme PSSI dan kompetisi. Kepengurusan PSSI di bawah komando Djohar Arifin tengah dirongrong mayoritas anggotanya, yang tidak setuju dengan pembentukan kompetisi profesional baru berlabel Liga Primer Indonesia (IPL).

Klub-klub serta Pengurus Provinsi PSSI membentuk organisasi tandingan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI). Mereka didukung empat pengurus Komite Eksekutif PSSI pemberontak yang digawangi La Nyalla Mattalitti.

KPSI lewat perseroan PT Liga Indonesia memutar kompetisi Indonesia Super League (ISL) yang menjadi tandingan IPL. Dampak nyatanya berasa: klub-klub yang bernaung di ISL menolak melepas pemain terbaiknya membela Timnas Indonesia.

Aji Santoso, pelatih Tim Merah-Putih sebelum Nilmaizar jadi korban aksi perlawanan ini. Tim asuhannya yang serba minimalis, hanya diperkuat pemain-pemain IPL, dilumat 0-10 oleh Bahrain pada Kualifikasi Piala Dunia 2014.

Nilmaizar menatap persaingan Piala AFF 2012 dengan situasi yang sama. Ia memanggil pemain-pemain bintang ISL, namun mayoritas di antaranya tak mau bergabung karena takut didepak klubnya.

Praktis hanya dua bintang Piala AFF 2010 yang berlaga di kompetisi ISL, Bambang Pamungkasdan Oktovianus Maniani, yang berani melawan. Mengedepankan semangat kebangsaan mereka nekat bergabung dengan Tim Garuda.

“Saya tidak mau terlibat perkubuan antara ISL dengan IPL. Bagi saya pribadi memperkuat Timnas Indonesia wajib hukumnya. Saya akan dibayangi penyesalan berkepanjangan jika tidak turun bertanding membela negara, yang notabene sudah menjadi cita-cita saya sejak remaja,” ungkap Bambang yang merelakan kontraknya diputus Persija Jakarta karena dianggap membelot.

Merasa kekuatan Timnas Indonesia tereduksi tanpa kehadiran pemain-pemain terbaik ISL, PSSI mendatangkan tiga pemain naturalisasi berdarah Belanda, Jhony van Beukering, Tonnie Cussel Lilipaly, dan Raphael Maitimo. Mereka berkolaborasi dengan bintang-bintang IPL macam: Andik Vermansah, Irfan Bachdim, Vendry Mofu, dan M. Taufiq.

Beberapa pekan menjelang Piala AFF 2012, salah satu pemain andalan Tim Garuda, Diego Michiels, masuk penjara karena terlibat kasus kekerasan di luar sepak bola. Situasi ini amat mengganggu persiapan tim.

Saat berlaga di babak penyisihan Grup B yang digelar di Stadion Bukit Jalil, Malaysia, terlihat kalau Timnas Indonesia kepayahan bersaing.

Hanya bermain imbang 2-2 melawan tim papan bawah Laos, Timnas Indonesia sempat memiliki harapan setelah secara mengejutkan mengalahkan Singapura 1-0 lewat gol Andik Vermansah. Namun peluang lolos ke semifinal akhirnya tertutup setelah Tim Merah-Putih digasak 0-2 oleh tuan rumah Malaysia. Singapura dan Malaysia jadi perwakilan Grup B ke fase knock-out.

“Saya tidak merasa kecewa dengan kegagalan ini. Saya tetap bangga terhadap perjuangan para pemain di lapangan. Mereka bertanding membela negara dengan sepenuh hati,” ujarNilmaizar, yang kini melatih klub Semen Padang.

(red/hmad/yaiku/AS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!