10 Penguasa Perempuan Paling Tangguh dalam Sejarah

redaksi.co.id - 10 Penguasa Perempuan Paling Tangguh dalam Sejarah Pada zaman dahulu perempuan sering terpinggirkan dalam sejarah. Selain dilarang untuk ikut andil dalam politik, kegiatan yang...

68 0

redaksi.co.id – 10 Penguasa Perempuan Paling Tangguh dalam Sejarah

Pada zaman dahulu perempuan sering terpinggirkan dalam sejarah. Selain dilarang untuk ikut andil dalam politik, kegiatan yang dapat dilakukan oleh kaum hawa pun juga terbatas.

Walaupun begitu ada nama-nama perempuan tangguh yang cukup terkenal akan ‘kegarangannya’ dan peranannya dalam masyarakat.

Mereka berkompetisi di dunia yang kala itu masih didominasi oleh kekuatan pria. Seperti layaknya kaum Adam, para perempuan tangguh itu ikut memperjuangkan hak-hak kaumnya dan tidak segan-segan menggunakan pembunuhan untuk mencapai tujuan.

Selain terkenal dengan kegarangannya, para perempuan itu juga dikagumi rakyatnya karena kebijaksanaan mereka dalam membangun warisan budaya.

Siapa saja perempuan-perempuan tangguh yang berperan aktif dalam sejarah itu?

Berikut selengkapnya 10 perempuan terkuat legendaris dalam sejarah, dikutip dari Listverse.com, Senin (26/9/2016).

1. Amina

Dilahirkan pada Abad ke-16, Amina merupakan seorang prajurit, komandan militer, dan penguasa Kerajaan Hausa Zazzau, sekarang Zaria, Nigeria.

Perempuan tangguh tersebut merupakan anak tertua dari penguasa kala itu, Raja Bakwa Turunku.

Setelah menduduki takhta kerjaan, Amina memperkuat pasukan militer guna memperluas wilayah kekuasaannya.

Demi menjaga kekuasaan penuh atas kepemerintahan kerajaan yang dipimpinnya, sang ratu tidak pernah menikah. Setiap malamnya dia memilih ‘suami’ sementara dari penjaga pribadinya, untuk memenuhi kebutuhan seksual.

Saat pagi menjelang, ‘suami-suami’ tersebut akan dibunuh. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga rahasia seksual Amnina.

Namun suatu hari, mengetahui nasib yang akan meninmpanya, salah satu ‘suami’ sang ratu melarikan diri setelah selesai berhubungan suami istri.

Amina langsung memburu pria tersebut dan menenggelamkannya di sungai hingga tewas.

2. Zoe Porphyrogenita

Zoe Porphyrogenita adalah putri kedua dari penguasa Romawi, Contantine VIII. Setelah sang raja meninggal, Zoe yang dinobatkan menjadi penerus oleh Four Byzatine, menduduki tahta kerajaan bersama dengan suaminya Romanos III Argyros.

Pernikahan Zoe dan Romanos tidak berjalan lancar. Suatu hari sang suami ditemukan tewas tenggelam di dalam bak mandi kamarnya.

Insiden itu diduga kuat ada hubungannya dengan perselingkuhan sang ratu dengan Michael IV. Dugaan tersebut menjadi semakin kuat karena satu hari setelah sang suami tewas, Zoe memutuskan untuk menikahi kekasihnya.

Pernikahan tersebut merupakan sebuah pelanggaran terhadap tradisi kerjaan. Seorang janda, terutama ratu, seharusnya baru bisa menikah lagi setelah 1 tahun menjanda.

Setelah Michael IV meninggal, anak angkat mereka Michael V mengambil alih takhta kerajaan.

Michael V menjadi pemimpin tunggal kerajaan dan membuang ibu angkatnya, Zoe.

Namun hal tersebut malah menimbulkan pemberontakan. Zoe memiliki banyak pengikut dan terkenal sebagai sosok yang mempunyai pengaruh besar.

Sang ratu pun akhirnya bekerjasama dengan adiknya, Theodora, dan mengambil alih kekuasaan.

Micharl V akhirnya dibutakan da dikebiri akibat perbuatan yang pernah dilakukannya kepada sang perempuan penguasa.

Namun Zoe dan adiknya tidak memiliki ambisi yang sama dalam berkuasa. Muak dengan nafsu Theodora, Zoe akhirnya kembali menikah dengan Constantine IX.

Mereka kemudian memerintah kerajaan hingga Zoe wafat pada 1050.

3. Burnhilda dari Austrasia

Burnhilda merupakan anak dari raja kejam Visigoth, Athanagild. Setelah dewasa perempuan itu kemudian menikahi penguasa dari Kerajaan Austrasia, Sigebert I.

Saudara perempuan Burnhilda juga menikah dengan kerabat jauh Sigebert. Sayangnya pernikahan terseut tidak bertahan lama.

Adik Burnhilda dibunuh atas perintah sang suami, akibat adanya hasutan dari selingkuhan pria tersebut.

Mengetahui kekejaman dibalik kematian sang adik, Burnhilda memutuskan untuk membalaskan dendam.

Dalam kurun waktu setengah abad kemudian, perang berkecamuk di antara keduanya. Sigebert tewas dalam peperangan itu di tangan seorang pembunuh bayaran.

Sementara itu, Burnhilda dijerumuskan ke dalam penjara.

Setelah keluar dari kurungan, Burnhilda kembali berkuasa. Kala itu dia menggunakan nama anaknya yang tewas di usia muda.

Perempuan itu memerintah dari balik layar melalui kepemimpinan cucunya. Namun Burnhilda kembali diasingkan oleh cucu tertuanya.

Sekembalinya perempuan tangguh itu dari pengasingan, dia kembali memegang kekuasaan melalui cicitnya, Sigebert II. Namun kepemimpinannya tidak berlangsung lama.

Sigebert II dikhianati dan dibunuh oleh Clothar II dari Neustria.

Closthar pun akhirnya memutuskan untuk membunuh Burnhilda. Perempuan itu tewas mengerikan. Tubuhnya diseret hingga tewas oleh kuda.

4. Jadwiga dari Polandia

Perempuan satu ini merupakan wanita pertama yang memimpin monarki Polandia. Jadwiga atau yang juga dikenal dengan nama Hedwig, merupakan anak bungsu dari raja Hungaria dan Polandia, Louis the Great.

Setelah kematian sang Raja, takhta jatuh ke tangan kakak tertuanya, Maria yang merupakan penerus kekuasaan Hungaria.

Namun, bangsawan Polandia khawatir akan pengaruh yang dimiliki oleh suami Maria, serta ikatan yang dimilikinya dengan Kekaisaran Suci Romawi.

Oleh karena itu mereka membujuk ibu Jadwiga untuk menunjuk putrinya sebagai ratu Polandia, walaupun kala itu dia berusia 10 tahun.

Setelah dinobatkan menjadi ratu, pada 1384 Jadwiga melakukan perjalanan ke Krokow. Di tempat itu dia kemudian diangkat menjadi ‘Raja’.

Walaupun kala itu perempuan yang juga dipanggil Hedwig tersebut tengah bertunangan dengan William of Habsburg, bangsawan Polandia membujuknya untuk menikahi seorang pria bernama Jogaila.

Calon suaminya itu adalah seorang Grand Duke of Lithuana dan merupakan seorang pasangan politik yang lebih berpengalaman.

Jadwiga memerintah bersama sang suami dengan gagah. Mereka dikenal sebagai salah satu penguasa paling berpengaruh dalam sejarah kekerajaan Polandia.

Sayangnya perempuan itu meninggal pada usia yang sangat muda. Dia meninggal saat berumur 25 tahun setelah melahirkan.

5. Ratu Seondeok dari Silla

Ratu Seondeok merupakan penguasa ke-27 dari kerajaan Silla yang merupakan satu dari 3 kerjaan yang ada di Korea Selatan.

Seondok juga merupakan perempuan pertama yang menjadi ratu dalam sistem kekerajaan itu.

Konon perempuan itu diangkat menjadi penguasa akibat ayahnya tidak memiliki keturunan laki-laki.

Dengan cepat Seondeok membentuk dirinya menjadi seorang yang cerdas, bijaksana, dan penguasa yang adil.

Keinginan sang ratu untuk melestarikan kebudayaan berujung pada pembuatan peta yang mengakibatkan bersatunya ke 3 kerajaan.

Seondeok juga merupakan orang yang berada di balik pembangunan menara pengawas tertua di dunia, Cheomseongdae.

Salah satu cerita yang paling terkenal mengenai Ratu Seondeok adalah kisah masa kecilnya.

Kala itu ayah sang ratu menerima hadiah berupa biji tumbuhan liar peony dan lukisan bunga peony mekar.

Saat ditanya oleh sang ayah maksud dari lukisan tersebut, Seondeok dengan benar menyimpulkan bahwa bunga tersebut tidak memiliki aroma keran tidak ada kupu-kupu yang menghinggapinya.

Seondeok juga konon dikabarkan meramalkan waktu kematiannya dengan tepat.

6. Ratu Ana Nzinga

Ana Nzinga mulai ikut serta dalam kepemimpinan kerajaan daerah yang kini dikenal sebagai Angola, dengan menjadi administrator keponakannya.

Dia memerangi masalah kesulitan air yang kala itu melanda negeri yang rakyatnya banyak dijadikan budak itu.

Ana Nzinga kala itu berada dalam keadaan yang sulit. Dia pun akhirnya memutuskan untuk menjalin persekutuan dengan Portugal.

Namun sayang, Portugal mengkhianati persekutuan tersebut. Tak punya pilihan lain, ratu Ana Nzinga akhirnya terpaksa melarikan diri bersama rakyatnya.

Di tengah-tengah kepelikan yang dihadapinya, perempuan itu tetap peduli dengan nasib para budak. Dia lalu menyediakan penampungan untuk mereka.

Di tempat itu Ana Nzinga melatih pasukan militer untuk merebut kembali tanahnya dari Portugal.

Setelah melalui pertarungan sengit, perempuan itu akhirnya menyerah karena melihat tidak ada harapan bagi mereka untuk mengalahkan lawan.

Menyerah bukan berarti putus asa. Perempuan itu lalu memusatkan perhatiannya pada pembaruan kerajaannya barunya, Matamba.

Ketika perempuan tangguh itu tewas, Matamba telah berdiri kukuh. Hal tersebut membuat penerus kerajaan dapat menyelesaikan masalah dengan Portugal.

7. Rani Lakshmi Bai

Pada masa mudanya Rani Lakshmi Bai adalah sosok yang gemar mempelajari ilmu perang, seni bela diri, dan pertarungan pedang.

Pelatihan tersebut sangat membantunya di masa depannya, ketika dia mewarisi takhta kerjaan Jhansi, India.

Dia menduduki tahta setelah suaminya meninggal dunia, dan menjadi penasihat bagi anak angkatnya.

Namun kedudukan sang anak tidak diakui karena di bukanlah darah daging raja dan ratu. Kemudian Rani memutuskan untuk menggabungkan kerajaannya dengan wilayah kekuasaan sang anak.

Saat Inggris mulai menjajah wilayah India, Rani menolak untuk menyerahkan kerajaannya. Dia lalu membentuk pasukan untuk memberontak.

Dengan berpakaian sebagai laki-laki, ratu berusia 22 tahun itu memimpin langsung penyerangan melawan East India Company.

Dia kemudian dilaporkan tewas dalam peperangan.

8. Toregene Khatun

Toregene Khatun merupakan istri dari penguasa Mongpolia, Ogedei Khan, dan ibu dari pewaris tahta, Guyuk Khan.

Ketika suaminya meninggal, Toregene mengambil alih kekuasaan dan memerintah rakyatnya dengan gagah.

Dengan menggunakan taktik politiknya dia menjaga stabilitas pertahanan dan perekonomian, hingga penerus Khan selanjutnya terpilih.

Perempuan itu memerintah wilayah kekuasaannya dalam kondisi damai. Tonege bekerja lebih untuk negaranya, hingga akhirnya mendapatkan nama di mata pejabat asing.

Penobatan anaknya, Gayuk, menjadi penerus kepemimpinan mendapatkan tentangan keras dari sejumlah pihak.

Walaupun begitu, setelah empat tahun melewati rintangan, Gayuk akhirnya berhasil menggantikan sang ibu dan menjadi raja Mongolia.

9. Christina, Ratu Swedia

Christina merupakan salah satu dari sedikit perempuan berpendidikan di Abad ke-17. Perempuan itu dinobatkan menjadi ratu pada usia 6 tahun akibat kematian sang ayah, Raja Gustav II Adolph.

Walaupun begitu, dia tidak langsung memerintah kerajaan. Christina resmi menjadi penguasa ketika berusia 18 tahun.

Pada usia 27 tahun, penolakan Christina untuk menikah menjadi salah satu alasan dia digulingkan dari takhta.

Penduduk berharap dia menikah dan memberikan keturunan pewaris takhta selanjutnya. Tak senang dengan hal tersebut, Christina akhirnya memilih untuk meninggalkan negaranya.

Dia bertolak menuju Roma bersama dengan Paus Alexander VII. Konversi perempuan itu menjadi Katolik Romawi diduga juga merupakan salah satu alasan pengunduran dirinya.

10. Tomyris

Setelah kematian suaminya, Tomyris menjadi ratu dari sebuah suku yang dikenal dengan sebutan Massagetae.

Perlawanan terkenalnya adalah mempertahankan kekuasaannya melawan Raja Persia, Cyrus the Great.

Dengan menolak lamaran dari sang raja, Tomyris hendak menghindari terjadinya peperangan antara kedua pihak.

Dia mengatakan, “perintahlah orang-orangmu dan lihat saja aku memerintah rakyatku.”

Walaupun begitu Persia tetap menginvasi kerjaannya dan menculik anak Tomyris yang pada akhirnya bunuh diri selama berada di pengasingan.

Hal tersebut memicu kemarahan Tomyris. Dia pun berperang dengan Persia. Kabarnya di mencari Cyrus dan memotong kepala pria itu.

Perempuan tangguh itu lalu mencelupkan kepala itu ke dalam wadah yang dipenuhi dengan darah manusia.

(red/ega/wi/riesta/VDA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!